Rabu, 09 Mei 2012

Bandung (Bagian 2) - #commonbullshit

Waktu ke Bandung beberapa minggu lalu untuk menjalankan tugas negara, gw nginep di kostan salah satu temen SMA gw. Salah satu temen yang pernah jadi partner kerja untuk seneng-seneng dan  susah-susah-an bareng. Tapi, dibandingkan menjadi partner kerja, kenangan menjadi partner belajar bareng dengan dia jauh lebih berkesan buat gw. Berkesan karena dia merupakan partner belajar dengan kompetisi yang sehat dan menyenangkan. Dia yang sekarang belajar di fakultas dan perguruan tinggi yang pernah bikin gw jatuh cinta setengah mati.

Mari sebut teman perempuan gw yang cantik dan manis (#fakta) ini dengan inisial D. Gw dan D memiliki satu kesamaan dalam belajar. Kami sama-sama bukan seorang murid yang bisa dari sananya. Kami bukan murid yang kalau dijelaskan satu kali oleh guru langsung bisa mengerti tanpa harus diulang. Menyadari keterbatasan kami, kami menyiasati cara belajar kami dengan mencoba mencatat dan mengulang apa yang disampaikan dosen dengan cara membacanya kembali catatan itu. Ketika ada situasi dimana prestasi belajar kami melebihi yang lain, itu bukan karena kami bisa dari sananya. Itu karena kami harus mengeluarkan effort yang lebih dibandingkan yang lain. Kami harus mencatat lebih banyak dari yang lain. Kami harus mengulang pelajaran lebih sering dari yang lain.

Malam kedua di Bandung, gw menghabiskan waktu di kamar D. Gw lebih banyak mendengarkannya bercerita sepanjang malam. Bukan, bukan karena gw tidak memiliki cerita yang layak untuk diceritakan. Tapi.. mendengar sebuah cerita nonfiksi dengan melihat langsung sebuah kejadian yang membenarkan ceritanya itu membuat gw memilih menjadi pendengar yang baik malam itu.

Malam itu... dibuka dengan apa kabar masing-masing dari kami. Apa kabar teman-teman kami di SMA. Mentertawakan kenangan masa lalu sampai menghadapi kenyatan saat ini. Sampai di bagian kedua, ceritanya hanya bisa membuat gw menatap lamat-lamat teman gw yang saat ini menjadi kapten bulutangkis di jurusannya.

Ceritanya membuat gw berkesimpulan. Kami berdua masih memiliki persamaan itu. Sama-sama bukan murid yang bisa dari sananya. Kalau saat ini, berarti bukan mahasiswa yang bisa dari sananya. Sama-sama mendapat angka 3 bukan sesuatu yang mudah untuk kami peroleh. Butuh usaha yang luar biasa untuk memperjuangkannya. Dan kali ini, perjuangan D untuk memperoleh angka itu memenuhi langit-langit kamarnya malam itu.
Buat D, mau sengantuk apapun karena nugas semaleman di kelas, D harus nyatet, Tuth. D harus bisa dapet sesuatu di kelas.
D masih belum berubah. Sifat rajin luar biasanya masih terbawa sampai saat ini ketika ia sudah berstatus menjadi mahasiswa. Bentuk rajinnya ia representasikan melalui catatan-catatannya yang begitu rapi di setiap kelas. Tak ada hari tanpa mencatat baginya. Seperti yang tadi gw bilang, D sadar atas keterbatasannya. Ia mengompensasinya dengan mencatat lebih banyak dari orang lain.

Akan tetapi, saat ini ada yang berbeda. Saat ini D berada di lingkungan belajar yang amat sangat kompetitif. Orang-orang disekelilingnya adalah orang-orang cerdas dari seluruh pelosok Indonesia. Beberapa diantaranya adalah orang-orang yang bisa dikatakan cerdas dari sananya. Terbukti dengan banyaknya temannya yang jarang masuk kelas, tapi saat ujian dengan mudahnya mendapat nilai A. Terbukti dengan saat di kelas teman-temannya dengan santainya mengobrol, tidak memerhatikan dosen, berkutat dengan gadget masing-masing, bahkan memiliki nilai ujian yang lebih baik dari D. Awalnya, bagi D itu bukan sebuah masalah. Toh kondisi seperti itu langsung maupun tidak langsung akan memaksanya untuk terus melakukan yang terbaik agar tidak tergerus arus kompetisi.

Hal itu mulai menjadi masalah ketika beberapa orang-orang disekelilingnya mulai menunjukkan asas kepentingannya. Tadi gw bilang khan ya kalau D itu rajin mencatat? Kebiasaan D yang rajin mencatat itu mulai dimanfaatkan oleh teman-temannya. H-sekian hari ujian, D biasa menjadi sosok yang amat dicari oleh teman-temannya. Lebih tepatnya, catatan D amat dicari oleh teman-temannya. Catatan D dicari untuk difotokopi sebagai bahan ujian. Bukan hanya sau dua matkul, nyaris sebagian besar matkul difotokopi oleh teman-temannya.

Awalnya, ini juga tidak menjadi masalah untuk D. Selain manis dan cantik, D pun sosok yang baik hati (#fakta). Tentu saja ia mengerti tentang arti memberi. Tapi ini mulai menjadi masalah ketika tidak ada sopan santun masalah pinjam dan meminjam catatan ini.
D cuma pengen mereka ngerti, Tuth. D tuh nyatet semua catetan ini juga gak gampang. D harus ngerangkum apa yang disampein dosen dengan bahasa D sendiri. D juga mati-matian ngelawan ngantuk biar bisa nyatet.
Fotokopian D dengan cepat menyebar dari satu tangan ke tangan lain.  Bahkan dari satu jurusan ke jurusan lain. Tidak jarang catatan asli D kembali dalam keadaan rusak. Catatan itu pun sering dipaksa dipinjam dalam situasi di mana D tengah membutuhkannya. Diantara banyak cerita D tentang urusan pinjam meminjam catatan ini, ada dua hal yang menurut gw agak keterlaluan. Pertama, ada kasus dimana D malah disuruh mengambil catatan aslinya di tempat fotokopian yang jauh dari ruang kuliahnya karena dipinjam oleh teman yang berbeda jurusan. Kedua, D menemukan fotokopian catatannya, tanpa tahu siapa yang memfotokopinya, tergeletak begitu saja dan terinjak-injak pasca ujian.
Yang bikin D sedih itu, beberapa yang motokopi catetan D itu orang-orang yang di kelas itu ngobrol, main HP, atau tidur, Tuth. Bahkan yang jarang masuk kelas dan cuma titip absen dengan alasan bergadang ngerjain tugas semalaman. Padahal D juga bergadang Tuth. Tapi D selalu ngusahain dateng kelas dan tepat waktu.
Sampai disini gw tergelak. Gw memotong cerita.
D, disini masih banyak yang titip absen?
Jawabannya pun : Ya. Di bagian ini entah mengapa gw langsung bersyukur atas PSAF dan Psikologi. Dua hal itu sukses membuat gw memandang titip absen sebagai hal yang menjijikan untuk dilakukan.

Bagian bergadang dan tepat waktu sukses membuat gw menelan ludah. Pertama, jatah absen gw semester ini banyak gw manfaatkan dengan alasan sakit dan gak enak badan. Malu gw denger D ngomong kayak gitu. Kedua, gw memang melihat sendiri bukti dari apa yang D ceritakan. Sepanjang D cerita, D duduk dalam posisi memangku laptop sambil mengerjakan laporan. Sekitar pukul 2 dini hari gw jatuh tertidur. D pun masih dalam keadaan mengerjakan tugas. Saat gw terbangun pukul 5, D pun masih dalam posisi yang sama.
Gw : D, lw gak tidur?
D : Aku udah tidur kok Tuth, tapi udah bangun lagi :)
Setelah itu pun D tidak beranjak tidur lagi. D menemani gw sarapan dan mengantar kepulangan gw ke Depok sebelum beraktivitas lagi.

Malam itu masih berlanjut. Bukti-bukti cerita D pun menjadi sebuah rangkaian. Seorang teman D malam itu datang ke kostan D. Tujuan utamanya meminjam catatan D untuk difotokopi dan dikembalikan malam itu juga.
Punya temen yang mau diajak seneng bareng gampang, Tuth. Tapi yang mau diajak susah bareng gak banyak.
Cerita beralih ke kegiatan kemahasiswaan. Masih seperti dulu, D masih aktif dalam kegiatan berorganisasi. Cerita D yang satu ini cukup menggelitik gw. D bercerita tentang keanggotaannya di sebuah organisasi. Organisasi yang memiliki banyak kegiatan dan agenda pertemuan. Lucu ketika D begitu sering diteror untuk datang rapat keanggotaan. Begitu disindir-sindir ketika tidak datang. Tahu apa yang D lakukan?
D suka aneh, Tuth. Ketuanya selalu bilang 'mana pada gak dateng rapat?', 'pada peduli dong sama angkatannya!' 'pada peduli  sama organisasinya!'. Dia gak nyadar apa kalau orang-orang pada gak dateng rapat tuh karena ngerjain tugas kelompok yang terhambat gara-gara dia. Gara-gara dia ngurusin organisasi terus.
Hahaha. Pengen nangis lah gw denger urusan yang satu ini. Entah karena begitu setuju dengan ucapannya, entah karena gw takut jadi bagian orang-orang yang berkoar-koar seperti itu.

Ketakutan terbesar gw saat ini, dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk kehidupan perkuliahan, adalah menzalimi orang lain. Takutnya takut bangetlah. Karena gw pernah melihat (dan mengalami) sendiri kalau doanya orang-orang yang terzalimi itu menggetarkan Arsy. Menembus seluruh tingkatan langit dengan begitu dahsyat dan sampai ke Maha Yang Mengabulkan Doa. Allah Maha Menepati Janji, kawan. Sungguh, mengerikan bagi para penzalim :(

Kasus D pun menyenggol sisi lain dari pemikiran gw. Yap. Banyak yang membedakan dunia akademis dengan dunia kemahasiswaan. Berbeda memang. Tapi hakikatnya itu dua hal yang sama. Sama-sama akan dimintai pertanggungjawaban-Nya nanti. Aneh. Ketika di satu sisi ada orang yang bisa begitu peduli dengan orang-orang di organisasinya, tapi tidak begitu peduli tentang perasaan teman-teman kelompok tugasnya.

Pada akhirnya pun gw geram pada diri gw sendiri. Gw gak mau. Gw gak mau jadi orang yang membedakan dua hal itu. Gw gak mau berkibar di akademis dan menzalimi orang lain lewat amanah yang gak beres gw pegang di kegiatan kemahasiswaan. Gw pun gak mau berkibar di kegiatan kemahasiswaan, ikut ini itu kepanitiaan dan organisasi, tapi menzalimi teman kelompok gw karena mengumpulkan tugas kelompok bagian gw tidak tepat waktu. Asli deh, gw takut-se-takut-takutnya.

Bukan, ini bukan masalah nilai. Mungkin iya kalau dulu urusannya adalah study oriented vs anak organisasi. Tapi sekarang masalahnya, ada atau tidak orang yang terzalimi di pembelajaran perkuliahan dan di amanah kemahasiswaan.

Sepulang gw dari Bandung, gw memeluk D erat. Entah pelukan gw memiliki arti apa bagi D. Tapi buat gw, ada ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya untuk teman yang satu ini :')

Kalau di Bandung ada yang berjuang sampai batas kemampuannya dengan terus menggenggam erat nilai-nilai kebaikan yang ia milikki, kenapa tidak juga dengan di Depok?

Terima kasih untuk menguatkan gw untuk berani memilih D. Berani memilih mana hal-hal yang bisa gw perjuangkan  sampai menang, tanpa harus menzalimi banyak orang sepanjang perjalanannya.

 ***
A : Kalian peduli dong sama angkatannya sendiri! Kalian peduli dong sama temen-temen organisasinya! Kalian peduli dong sama rakyat Indonesia!
B : Emang lw peduli sama perasaan temen-temen kelompok lw di kelas?

#commonbullshit

3 komentar:

Tamara Aulia Rachim mengatakan...

Subhanallah... Teh Tuti... Aku baca ini speechles...

ushmrkstv mengatakan...

tertonjok deh bacanya.

waktu semester 5-7 dulu di jurusan saya juga ada yang seperti D. catatannya rapiii banget dan lengkap, sampe2 dijadiin master di fotokopian barengan slide kuliah.

saya tau nyatet itu susah.. jadi saya mohon izin dan minta maaf dulu sebelum fotokopi. dia kaget pas saya minta maaf.

dan ya, waktu ujian pun banyak anak2 yang tidur di kelas tapi bisa dapet nilai bagus, berkat catetan dia..

semoga saya ga termasuk orang yang membuat sedih.

buat D dan teman saya (dan orang2 baik di luar sana), itu adalah amal jariyah loh. kalau teman2 mereka sampe keterima kerja, jadi pengajar, jadi konsultan dsb, ada pahala kalian juga di sana: ilmu yang bermanfaat.. semoga ikhlas :)

Annisa Dwi Astuti mengatakan...

@tama : :)

@teh uswah : subhanallah, mantap sekali teh uswah sampe minta maaf dulu :D amiin :)