Pages

Rabu, 21 Maret 2012

Adem

Nyess aja loh dengernya.

Ditengah hingar bingar derap langkah tak berjeda. Di tengah kumandang kata tentang keajaiban dunia. Di puncak kerinduan mendengar suara panggilan untuk menghadap-Nya. Suara tak merdu itu terdengar lirih. 

Menyejukkan.


Lintasan Pikiran

Kalau tidak pernah menganggap gw sebagai seorang teman, gw tidak pernah memaksa. Mungkin baik kalau gw juga menyikapi dengah hal yang sama.

.

Ini gw. Gw dengan segala ke-ada-an gw. Tidak bisa menerima? Gw tidak memaksa untuk mendekat. Atau mungkin, biarkan gw yang mundur teratur. Gw jengah.

.


Kalau kesabaran sebenarnya gak ada batasnya, gw sendiri yang akan memberi batasan mulai sekarang.

.

Hanya dua hal yang membuat gw enggan untuk menatap mata orang. Satu, gw segan. Dua, gw malas. Saat ini, alasan kedua.

.

Indahnya menikmati ketiadaan jeda : reinforcement bisa datang kapan saja, dan dari tempat yang tidak diduga-duga. Terima kasih untuk meredam.

Senin, 19 Maret 2012

G-056-ΨUI

Postingan ini adalah postingan yang paling lama tersimpan di dalam draft. Bingung gw. Kebersamaan gw dengan orang-orang ini beberapa minggu kebelakang sukses membuat banyak cerita. Saking banyaknya, gw gak bisa menguraikan satu-satu. Baru mau cerita satu hal, udah datang hal yang lain, dan begitu pula seterusnya. Numpuk. Gak sempet ditulis. Dan mungkin cuma bisa direkam lewat kamera.

Persiapan Persembahan Gathering dari Angkatan 5 Gandewa di Kostan Gw

Kiri ke kanan : Izzat, Gw, Nadya, Tata, Anah, Gugum, Hari, dan Kautsar 
di Gathering Gandewa

Izat dan Gw di Gathering Gandewa (Rumah Kak Alita)

Yang paling baru, hari ini. Rapat penyusunan kepengurusan. Setelah terpilihnya Ketua Gandewa yang baru saat gathering Gandewa hari Minggu lalu, tadi sore diadakan rapat pembentukan pengurus. Setelahnya, digambarkan secara singkat program kerja yang akan dilaksanakan selama satu tahun mendatang.

Sejujurnya, dibandingkan banyaknya waktu yang gw habiskan bersama mereka, banyaknya cerita yang saling terlontar, kemudian menumpuk, dan tidak sempat ditulis pada akhirnya, ada satu alasan yang pada akhirnya berimbas pada bertahannya postingan ini cukup lama di dalam draft.

Gw takut bias
Gw takut gak bisa membedakan mana hal-hal yang bisa ditulis di sini dan mana hal-hal yang sebenarnya bukan konsumsi umum.

Kawan, gw pernah bercerita bukan? Diatas gunung lw bisa melihat sifat asli seseorang. Entah teman lw ataupun diri lw sendiri. Bahkan setelah turun dari gunung pun, keterbukaan gw dengan orang-orang ini semakin menggila. Banyak banget kegiatan-kegiatan yang di dalamnya memang refleks membuat kami saling bercerita. Bercerita tentang pikiran, keadaan, perasaan, atau bahkan rahasia diri yang belum pernah dibuka sebelumnya. Intensitas itu sukses membuat filter otomatis gw kalau lagi blogging gak berfungsi sama sekali. Yap. Biasanya secara otomatis pikiran dan tangan gw refleks men-delete hal-hal yang terlanjur gw tulis jika itu tidak sesuai dengan tempatnya. Tapi kali ini sama sekali gak berfungsi. Berimbas pada ketakutan gw untuk melanjutkan tulisan tentang orang-orang ini.

Dampaknya pada kami? Kami, saat ini, sama-sama tahu tentang seperti apa sebenarnya kami.

Dampaknya pada gw?
Pemakluman tinggi pun bertumbuh.Meringankan langkah untuk tetap menjadi diri sendiri. Karena disini, gw diterima sebagai gw, bukan diterima karena apa yang gw punya.

Lalu, inti postingan ini?

Yuk ah, gw mau mulai mencoba lagi  mengurangi biasnya :D Mulai dari cerita kalau Gandewa baru aja punya ketua baru *peluk Kak Putri Novelia* dan punya nomor-nomor anggota baru :)
G-045-ΨUI : Amelya Dwi Astuti
G-046-ΨUI : Rima Rizki Kuswisnu Wardani
G-047-ΨUI : Pradina Paramitha
G-048-ΨUI : Yulita Astriani Putri
G-049-ΨUI : Kamalia
G-050-ΨUI : Muhammad Edma Khairan
G-051-ΨUI : Absharina Izzaty
G-052-ΨUI : Nadya Annisa Prasanti
G-053-ΨUI : Aulia Nadilah
G-054-ΨUI : Muhammad Kautsar Ramdhan Sukin
G-055-ΨUI : Anah Rabiah
G-056-ΨUI : Annisa Dwi Astuti
G-057-ΨUI : Bimo Bramantyo
G-058-ΨUI : Gumilang Reza Andika
G-059-ΨUI : Hanifah Nurul Fatimah
*Kak Bianca, Tuti jadi boleh meluk Kak Bi gak? Untuk bivak alam Tuti yang Kak Bi benahi. Untuk slayer Gandewa yang Kak Bi kalungkan. Untuk nomor anggota yang Kak Bi berikan. Dan.. untuk tempat yang saat ini ditempati oleh Tuti, yang sebelumnya merupakan tempat Kak Bi.


Gw dan Kak Bi di Pelantikan Gandewa Angkatan 5

***
 Kak Putnov : Mulai sekarang, gak ada bawa-bawa angkatan lagi. Gandewa semuanya satu.
Feel that the sweetest moment like before will decrease by now. Time to fight in real life in ONE circle. Without mask. With love :)

Minggu, 18 Maret 2012

Dilatasi Waktu

Kautsar : Tut, Bogor nyaman banget. Nanti gw kalau udah nikah mau tinggal di Bogor, ah.

Gugum : Teh, kenapa ya? Ke Bogor khan padahal baru beberapa kali, tapi aku attachment-nya lebih dapet di Bogor daripada di Depok.

Zego : Sama banget, Teh! Walaupun sama-sama sedang banyak tugas, ritme jalan di Bogor dan Depok beda. Di Bogor selalu  bisa lebih tenang dibandingkan dengan Depok.
Ke kota yang dianggap nyaman, tujuan tempat tinggal di masa depan, memiliki attachment yang tinggi, dan selalu membuat ritme langkah tenang itulah gw dan Murai membawa si mojang Bandung dan Sukabumi, Hana dan Nila, minggu lalu.

Bukan. Bukan objek wisata utama Bogor tujuan kami. Bukan Kebun Raya Bogor, Puncak, Kebun Teh, Taman Safari, Curug, ataupun tempat wisata kebanggan Kota Bogor lainnya. Hanya melintasi beberapa jalan protokolnya dan berujung di tiga tempat sederhana.

Rumah gw, Gedung Dalam, dan Toko Roti Unyil.

Kiri ke Kanan : Murai, Hana, Nila, gw di Kota Hujan :)

Terima kasih sudah berkunjung ya, Nil, Na! Di sebuah kota, yang bagi gw, selalu berlaku hukum dilatasi waktu saat gw sedang berada di dalamnya.

Ditunggu perjalanan selanjutnya ke Kota Kembang dan Kota Moci! :D

Muka Bumi-Nya yang Lain :)

Lagi punya jeda kosong sampai magrib. Lebih tepatnya sih sebenernya sengaja membuat jeda sebelum akhirnya berkutat lagi dengan tugas-tugas, hehehe :P Ya bagaimana lagi? Sekarang kalau gak sengaja disempetin ya gak bakal sempet-sempet. Hanya akan berujung pada cerita yang hanya berputar-putar dikepala dan menguap begitu saja.

Jadi? Hup hup hup! Mari menulis! :D *menggulung lengan baju*

Gw baru aja pulang dari CoH. CoH itu singkatan dari Children of Heaven. Program kerja milik Departemen Pengabdian Masyarakat (Pengmas) BEM Fakultas Psikologi UI ini merupakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswi Fakultas Psikologi kepada adik-adik yang berusia TK dan SD dari kelas 1 hingga kelas 6. Kegiatan belajar mengajar ini dilakukan di daerah Ratu Jaya, Pancoran Mas, Depok. Kalau dari UI, jalan ke arah Jalan Raya Margonda, naik angkot yang menuju Terminal Depok (kalau tadi sih naik D11), sampai di Terminal Depok nyambung angkot 05, sampai akhirnya turun di Gang Cetong dan jalan cukup jauh menuju tempat mengajar. 

Daerah Ratu Jaya Pancoran Mas ini dipilih bukan tanpa alasan. Mata pencaharian kepala keluarga di daerah ini terdiri dari 40% pemulung, 20% pengusaha kios, 2% PNS, sisanya gabungan dari buruh dan kuli bangunan. Tingkat ekonomi yang masih bisa dikategorikan menengah ke bawah tersebut berimbas pada kesulitan anak-anak di daerah ini untuk mengenyam pendidikan yang layak karena biaya sekolah yang mahal. Bukan berarti anak-anak yang diajar dalam program ini tidak sekolah. Beberapa diantaranya tetap sekolah di sekolah formal dan menjadikan kegiatan CoH ini sebagai pelajaran tambahannya. Akan tetapi, yang tidak mengenyam sekolah formal pun tidak sedikit. Itu mengapa CoH diselenggarakan disini.

Sampai di tempat mengajar, rame aja loh :D Anak-anaknya banyak. First impression gw, anaknya baik-baik banget kok ya kelihatannya? :D Pertama yang gw lihat adalah anak TK yang lagi diajar Desna dan Aini. Soalnya biasanya kan anak TK malah rewel banget, hehehe :P Tapi itu ternyata hanya first impression belaka. Kejadian-kejadian unik dan menantang para pengajar CoH baru gw ketahui setelah sesi evaluasi di akhir proses belajar mengajar.

 Kiri ke kanan : Fauzi, Kak Sarah, Hana, dan adik-adik COH kelas 3

Tapi, kedatangan gw kesini bukan sebagai pengajar CoH nya. Bersama dengan Kak Kunthi, Kak Mute, Kak Bara, dan Murai lagi (satu lagi ada Kak Fatheya sebenernya, tapi tadi sedang berhalangan hadir) datang sebagai Tim Intervensi Sosial CoH. Persamaan tim pengajar CoH dan Tim Intervensi Sosial CoH adalah masa pengabdiannya sama-sama satu tahun selama kepengurusan BEM Bakti berlangsung (Bakti adalah nama BEM Fakultas Psikologi periode 2012. Bakti merupakan singkatan dari Bersama Berkontribusi) Perbedaannya, kalau CoH memiliki konsentrasi sebagai pendampingan belajar bagi anak-anak di daerah RT 6 RW 4 Ratu Jaya, Pancoran Mas, Depok, kalau Tim Intervensi Sosial memiliki konsentrasi kepada isu-isu sosial yang terjadi di daerah ini. Sederhananya, bentuk kerja tim ini adalah sebagai sukarelawan. Membantu menjadi solusi untuk masalah-masalah sosial yang terjadi.

Dugaan sementara, isu-isu sosial yang terjadi di daerah ini adalah tingkat ekonomi rendah yang berbanding lurus dengan kesadaran pendidikan yang rendah pula. Masih adanya kekerasan pada anak, minimnya arena bermain, dan kehadiran usaha warnet yang dianggap cukup mengganggu oleh beberapa orangtua pun ikut mewarnai isu sosial yang ada di daerah ini. Lebih jauh ini, isu-isu sosial ini bahkan pernah memanas karena konflik lintas agama pun sempat menjadi bumbunya.

Ketika tim pengajar CoH melakukan kegiatan belajar mengajar, tim intervensi sosial melakukan pendekatan kepada masyarakat. Saat ini, tim memasuki tahap observasi untuk mengumpulkan informasi apa saja kebutuhan warga untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial tersebut. Sebagai tahap perkenalan dan permohonan izin berkegiatan, minggu sebelumnya tim ini bersilaturahmi mengunjungi pak RT, tokoh masyarakat yang dituakan, sampai tokoh agama yang disegani. Adapun hari ini, kami mengunjungi Ibu Yusuf, kader PKK di wilayah ini yang cukup dituakan oleh orang-orang disekitarnya. Kami disambut ramah oleh Bu Yusuf :) Cukup banyak informasi yang didapatkan dari Ibu Yusuf, khususnya tentang kondisi ibu-ibu di daerah ini, baik dari segi pengawasan dalam pergaulan anak, mata pencaharian, kegiatan, sampai hobi.
 Ibu Yusuf : Jangan bosen-bosen kesini yaa :)
Satu tahun. Kerja besar ini akan berlangsung selam satu tahun. Sepertinya kalimat itu yang harus kami sampaikan kepada Ibu, hehe :P

Setelahnya, kami kembali ke tempat mengajar untuk mendiskusikan langkah selanjutnya tim ini. Sambil berdiskusi, kami dikelilingi oleh riuh rendah suara tim pengajar CoH dan adik-adik yang tengah diajarkannya. Cuma bisa senyum-senyum ngeliatnya. Tiba-tiba gw teringat Keegan, adik kecil yang membuat gw berpikir ulang apakah gw akan benar-benar mengeliminasi Psikologi Perkembangan dari kepala gw :)

***

Minggu lalu. Mata kuliah Metodologi Penelitian dan Statistik (Metpenstat) 1. TPA Makara.

Berbeda dengan kuliah-kuliah sebelumnya di kelas, kuliah hari ini adalah kuliah lapangan. Gw dan kelompok gw bertugas untuk mengobservasi sebuah tempat, memperhatikan fenomena yang terjadi di dalamnya, dan menentukan variabel variabel yang terlibat dalam fenomena tersebut. Kami memilih Taman Pengembangan Anak Makara (TPA Makara) sebagai tempat observasi kami.  TPA Makara merupakan tempat penitipan anak. Anak-anak yang dititipkan sebagian besar memang memiliki orangtua, khususnya ibu yang bekerja. Setelah asyik memperhatikan tingkah polah anak-anak TPA Makara yang berumur 1-4 tahun tengah menyiram taman, makan, dan bermain di dalam kelas, di teras kami membentuk lingkaran mendiskusikan laporan observasi yang harus kami buat.

Saat tengah berdiskusi, tiba-tiba ada seorang anak laki-laki, sekitar umur 2-3 tahun, yang baru datang. Didampingi oleh neneknya. Kami tidak begitu memperhatikan karena tengah berdiskusi. Tiba-tiba, tanpa tedeng aling-aling ia masuk ke lingkaran, menerobos kaki-kaki yang menghalangi tujuannya. Kami yang kaget cuma bisa diam memperhatikan apa yang akan dilakukan anak ini, yang setelahnya gw ketahui bernama Keegan.

Kayak disiram shower tiba-tiba, Keegan menghampiri gw dan memeluk gw. Melingkarkan tangan mungilnya di pinggang gw seolah gw kakak kesayangannya. Gw yang kaget cuma bisa melihat mata bulatnya dan rambutnya yang keriting. Sejurus kemudian dia duduk dipangkuan gw dan menyenderkan kepalanya di bawah dagu gw. Duduk. Tenang.

Boleh jujur? Gw gak terlalu gemes sama anak kecil sebenernya. Maksudnya, gw gak kayak Acy dan Hana yang bisa gemes banget kalau ngeliat ada anak kecil berseliweran di depan mereka. Gw juga suka sih ngeliat anak kecil. Gemes sih. Tapi yaa.. biasa aja.

Tapi setelah kejadian ini? Oh meeen. Gw dibuat meleleh sama anak kecil umur 2-3 tahun :') Sumpah ya, dipeluk Keegan barusan tuh lw bakal ngerasa jadi orang paling berguna sedunia. Ngerasa ada orang yang butuh sama lw. Ada orang yang gak mau ditinggal sama lw. Dan lw bakal ngelakuin apa aja buat orang yang sayang sama lw, orang yang meluk lw barusan.

Lebay yak? Hahaha. Memang. Tapi entahlah. Tiba-tiba dipeluk anak kecil, dengan tulus, yang matanya aja masih menggambarkan kepolosan tuh bener-bener  menghancurkan tembok keangkuhan.

Sekian detik kemudian ia baru menyadari bahwa ia salah orang. Penampilan gw yang saat ini memang sedang menggunakan jilbab, kacamata, dan baju batik mungkin dianggap sebagai co.fasilitator TPA Makara yang selama ini mendampinginya. Keegan pun dibawa neneknya. Berlalu.

Kejadiannya emang kurang dari dua menit sih. Tapi sukses membuat gw berpikir ulang untuk mencoret Psikologi Perkembangan dari kepala gw.

***

Setelah proses belajar mengajar selesai, tim intervensi sosial bergabung dengan tim pengajar CoH. Evaluasi dimulai. Saat itu perwakilan pengajar dari tiap-tiap kelas menceritakan proses pembelajaran hari ini. Mereka pun menyebutkan tantangan-tantangan di setiap jenjangnya. Yang paling menarik perhatian gw adalah cerita dari pengajar kelas 4 (Aduh kakak, maaf, aku lupa nama kakak, heu ). Pengajar kelas 4 bercerita tentang 3 orang anak laki-laki yang..., intinya butuh kesabaran khusus untuk menghadapinya. 

Mereka bertiga tidak terpisahkan dan sangat kompak. Kompaknya? Satu gak mau nulis, yang lain gak mau nulis. Satu gak mau buka buku, yang satu gak mau buka buku. Satu gak mau ngerjain soal, yang satu gak mau ngerjain soal. Mereka pinter? Pinter banget loh mereka! Kata pengajarnya, mereka memang cerdas. Pemahaman materinya memang jauh lebih cepat dibandingkan yang lain.Tapi sayangnya, kecerdasan itu malah menjadikan mereka seolah-olah ingin show off di depan teman-temannya, tetapi berujung dengan cara yang tidak semestinya. Jangankan temannya, pengajarnya saja dikatakan stupid.

Sejurus kemudian gw tiba-tiba teringat oleh adik-adik gw. Tiga serangkai juga. Sama-sama cerdas dan bandel pula. Namanya Ryan, Omega, dan Aldi. Siswa kelas 7 SMP. Gw bertemu mereka saat tahun lalu gw mengajar di SIMPLE, salah satu bimbingan percepatan belajar di Bogor. Mereka merupakan anak-anak sekolah alam yang tidak terbiasa terikat peraturan. Dua bulan pertama gw mengajar mereka, Masya Allah, gw tidur gak nyenyak aja loh setiap mau hari Selasa. Soalnya setiap hari selasa gw ngajar mereka. Dua bulan pertama, jangankan mendengar apa yang gw katakan, melihat gw juga mereka sepertinya malas. Tas gw dibongkar. Hape gw dibuka-buka sampai ke inboksnya. Gelang gw diambil. Dan masih banyak lagi kelakuan yang membuat dua jam kerasa lamaaa banget. Tapi, tapi, tapi, kalimat ajaib itu selalu terngiang-ngiat di kepala gw.
Apa-apa yang disampaikan dengan hati, sampainya ke hati juga :)
Alhasil? Sukses besar! :D Bulan ketiga senyuman dan atensi itu diberikan. Lebih ekstrimnya, mereka bahkan curhat ke gw tentang masalah pribadi dan keluarganya. Terharunya, mereka bahkan memaksa gw untuk kembali mengajar saat gw memutuskan mundur karena tengah mempersiapkan SNMPTN. Hal yang paling gw ingat, mereka memberi julukan gw Kak Bintang karena games yang gw berikan selalu berhubungan dengan bintang :')  

Hey kalian, apa kabar?

Tadinya gw mau sharing tentang masalah  hati ke hati itu. Sayangnya, karena satu dan lain hal, gw tiba-tiba ter-distrac sesuatu. (Gw tahu lw pasti ketawa-ketawa baca bagian ini, Rai!). Rencana mau share masalah tiga serangkai itu, gw malah tiba-tiba kepikiran kata-kata Aufa.

*Fa, ada yang kurang dengan kata-kata lw. Setelah didefinisikan, jangan lupa harus diberi tanda titik di akhir definisi. Kalau enggak, yang ada malah jadi titik-titik. Definisi yang masih bisa dilanjutkan dengan pengertian apa saja, kapan saja.

Evaluasi selesai. Kami, tim pengajar dan tim intervensi sosial CoH pamit pulang. Oh ya, tadi gw cerita ya kalau perjalanan dari Gang Cetong sampai tempat mengajar lumayan jauh. Nah, di tengah perjalanan, kalau kata RAN mah, gw jatuh cinta pada pemandangan pertama loh sama sebuah tempat. Jembatan di atas depo kereta api :)

Gw dan Hana di atas depo kereta api Pancoran Mas, Depok

Sebenarnya gak ada alasan tertentu yang bisa bisa menjelaskan kenapa gw suka dengan tempat ini. Bahkan harusnya mungkin gw gak tertarik dengan depo ini karena tahu sejarah dibalik pembangunannya. Pembangunan depo ini merenggut lahan bermain anak-anak di daerah ini. Membuat anak-anaknya kini tak memiliki lapangan untuk bermain bersama yang berimbas pada pencarian kepuasan bermain melalui game online yang berlebihan.

Tapi ngeliat dari atas jembatan, banyak kereta api berbaris rapih di tengah lapangan luaaaaas itu, menyenangkan :) Entahlah, intinya gw suka jembatan ini. Gw suka dengan pemandangan yang gw lihat dari atas sini.
Cocok buat latar cerita, Rai! Cerita karangan gw nanti mungkin?:D
Cuma itu jawaban asal bunyi waktu Murai nanya kenapa gw suka jembatan ini.

Kalau kata Kak Kunthi, kerja sosial menjadi sukarelawan rentan sekali terkena burned out dan trauma sekunder. Entah kapan gw akan mengalami masa-masa itu, tapi sepertinya pemandangan ini yang kelak akan menjadi motivasi alternatif gw untuk terus kembali ke sini :)

Yak. Dan kalimat maha indah yang dilontarkan A'Arry saat gw mengunjunginya di Sekret CEDS, Pusgiwa, sekali lagi berputar-putar di kepala gw.
Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung [QS 62: 10]

Rabu, 14 Maret 2012

Jauh Lebih dari Cukup

Duduk di depan mushola H2.

Menunggu waktu shalat Zuhur.Setelahnya bersiap melesat ke H4 bersama tim intervensi sosial COH. Persiapan responsi Etika setengah jam setelahnya. Menyelesaikan persiapan Gathering Gandewa. Pulang ke kostan mengambil buku Metpen. Klimaks. Menyelesaikan Tugas Metpen, Inkemas, dan Psium. Blogging. Persiapan menceklis mimpi selanjutnya.

Dengan tanggung jawab sebanyak itu, sepertinya segala bentuk ambisi pelan-pelan menghilang dari pandangan. Bisa mengkondisikan hati, pikiran, dan badan dalam satu tempat di waktu yang bersamaan saja, untuk saat ini sepertinya jauh lebih dari cukup :)

Tidak Sama Dengan

Menerima apa adanya tidak sama dengan membenarkan.

Jadi?
Hanya tengah memompa keberanian untuk bilang,

"Gw tidak berada di pihak Anda"

Lagi dan Tak Akan Berhenti

Istirahatnya orang beriman adalah saat masuk ke liang lahat. Jadi, kalau tidak memiliki jeda, mungkin memang belum waktunya untuk beristirahat.

Menatik nafas dalam-dalam. Tersenyum lapang.

Fight and Win lagi, yuk?

Ya memang hanya bisa terus berjuang untuk apapun yang masih bisa diperjuangkan. Selanjutnya, biar Allah sajalah yang memenangkannya :)
 
Copyright (c) 2010 Cerita Hari Ini (2). Design by WPThemes Expert
Themes By Buy My Themes And Cheap Conveyancing.