Senin, 20 Desember 2010

Episode 4 : 'Kau, Aku & Kota Kita'

Gang Di Tepian Kapuas

“Berangkat kerja, Kawan?” Suara khas itu menyapa.

Andi, teman seperjuanganku lulus SMA dulu (dengan NEM nyaris tak sampai standar Pemerintah berkuasa), sepagi ini, bukan main, sudah berkutat oli dan jelaga mesin. Di salah-satu pojokan gang, dia bekerja pada bapaknya yang punya bengkel motor sekaligus cuci salju. Jangan bayangkan seperti bengkel-bengkel keren authorized seperti di jalan protokol Pontianak, bapak Andi yang seratus persen Bugis hanya memanfaatkan depan rumah sempit mereka. Bekas minyak pelumas tumpah, serakan busi dan perkakas menghiasi, hitam-hitam di dinding menjadi grafiti, umbul-umbul kusam pemberian distributor oli sebagai penanda bengkel, dan etalase seadanya berisi spare-part. Sementara yang disebutnya dengan snow-wash itu ya cuma modal satu mesin pompa ban plus dikasih deterjen banyak-banyak. Mana tahu penduduk gang ini beda antara salju dan busa.

‘’Ya-lah.” Aku mengangguk, berhenti sebentar, memperhatikan serakan onderdil motor yang dilepas. Kasus Andi pagi ini menarik nian, satu motor gagah berwarna hitam terkapar di depannya.
“Sudah berapa kali kau gonta-ganti pekerjaan, Borno. Macam tidak ada tempat yang bisa membuat kau betah saja.” Bapak Andi yang masih sarungan, mengunyah pisang goreng, mengawasi anaknya bekerja, bertanya menyeringai. Aku mengangkat bahu, sebal menjawabnya. Seluruh gang juga tahu, kalau ada penghargaan bagi orang yang suka gonta-ganti pekerjaan, maka dua tahun terakhir aku pemenangnya. Kadang jadi bahan gurauan tidak lucu. Hanya Pak Tua yang berseloroh santai, “Itu artinya kau anti-thesis, Borno. Kata siapa mencari pekerjaan di negeri ini susah?” Menurut Ibu, “Sepanjang kau tidak berharap macam-macam, bekerja sebaik mungkin, selalu ihklas setiap pagi berangkat, senantiasa bersyukur setiap sore pulang, maka kau tidak akan kekurangan tempat bekerja, Borno. Jangan macam orang kebanyakan, selalu mengeluh, selalu sirik dengan pekerjaan orang lain, padahal pekerjaannya sudah baik sekali. Sayang sekali, sudah gajinya terbatas, mengeluh pula. Dunia tak dapat, akherat digadaikan dengan keluhan.”

“Ini motor siapa?” Aku ingin tahu.
“Motor kepala kampung. Baru dapat kemarin. Dikasih temannya dari Kuching, murah katanya beli di Malaysia. Tapi kondisinya rusak.” Andi menyeka pelipis, membuat tambah hitam dahinya. Aku bergumam, mengangguk. Sejenak memperhatikan, teringat sesuatu, bergegas melanjutkan langkah, aku harus tiba di tempat kerjaku sesegera mungkin. Pamit pada bapak Andi yang sekarang sibuk menepis-nepis ujung sarung—mungkin ada laba-laba atau serangga jahil masuk. Bapak Andi benar, dua tahun ini, meski bau, tempat bekerja paling lama bagiku di pabrik karet itu. Enam bulan. Yang lain satu-dua bulan saja.

“Kau tidak merokok, yah?” Itu pertanyaan pemilik pabrik karet saat mewawancariku sehari sebelum masuk kerja. China separuh baya, rambutnya sepertiga menguban, perutnya separuh gendut, tampangnya pol kebapakan.
Aku menggeleng.
“Bagus. Di sini tidak ada yang merokok, yah. Bukan tidak boleh, ini bukan pom bensin, boleh-boleh saja, yah. Tapi saya tidak suka ada yang merokok, yah.”
Aku mengangguk-angguk, sok setuju, sok paham.
“Namamu siapa tadi, yah? Borneo? Oh, Borno. Kau tahu, aku pernah punya pabrik tebu di Jawa Timur, tidak jauh dari pabrik rokok besar di sana, pemiliknya taipan paling kaya di seluruh negeri, mandi uang dia dari kepul asap rokok orang-orang. Semakin kaya dia, semakin sakit para perokoknya, yah. Hebat sekali bisnisnya, bisa dapat uang dari asap. Malah konon masuk daftar orang terkaya dunia dia, yah.” Tertawa, lembe di dagunya terlihat bergoyang-goyang.

Aku ikut tertawa, memasang seringai paling top. Lima belas menit tanya-tanya, aku diterima—lupa sisa pembicaraan tentang apa. Disuruh menghadap staf administrasi, diminta menyerahkan fotokopi KTP dan berkas lain. Staf itu bilang gaji per-bulanku, aku kali ini sungguh tulus menyeringai lebar, tertawa ihklas. Gajinya top. Ternyata ijasah SMA-ku sakti mandraguna, atau boleh jadi cara bicaraku amat meyakinkan, atau mungkin riwayat hidupku yang ditulis dengan pulpen warna hitam di atas kertas folio itu nampak mentereng.

“Semoga hari pertama kau membawa keberuntungan di pabrik ini, Borno. Tanggal lahir kau bagus sekali, aura wajah dan tubuhmu positif, semuanya cocok dengan fengshui pabrik.” Esoknya saat datang dengan seragam oranye, pemilik pabrik menepuk-nepuk bahuku. Aku tersenyum tanggung, baru tahu kalau aku diterima bukan karena betapa tingginya kualifikasi yang kumiliki, aku diterima begitu saja karena ada ‘mahkluk’ bernama fengshui.

Dan garis keberuntungan yang kubawa itu ternyata keliru, belum genap hari pertama aku kerja di pabrik karet itu, tiga omprengan padat penumpang merapat ke halaman pabrik, membawa spanduk, menenteng toa, ber-bandana macam serial condor heroes, berjaket, berteriak, berbusa-busa. Dari kisi-kisi pabrik, mengintip, aku menerka, sepertinya mereka sibuk demo soal lingkungan hidup. “Pabrik Membawa Bau!”, “Jangan Buang Limbah Ke Sungai Kami!”, “Usir Pabrik Karet Di Sepanjang Kapuas!” Demikian tulisan di spanduk.

Pemilik pabrik berbaik-hati menemui pendemo, berdialog, bersitegang, keributan kecil terjadi, petugas pabrik sibuk membuat tameng, massa tiga puluh orang itu tiba-tiba menjadi tidak terkendali, berteriak-teriak, melemparkan apa saja didekatnya. Sebelum situasi semakin kacau, penyelia-ku jahil mengeluarkan ember-ember berisi air peras-an dari mesin pembuat lembaran karet, menyuruh kami menyiramkannya ke pendemo itu. Kocar-kacirlah mereka, nampaknya air itu lebih menyeramkan dibanding gas air mata polisi.

“Biasa-lah. Setahun belakangan mereka sudah sering protes, mengirim surat, membuat pernyataan, minta kompensasi, ganti rugi. Mereka bukan orang sini, entah dari mana, menghasut penduduk sekitar pabrik.” Penyelia menepuk-nepuk ujung baju seragam yang terkena cipratan air.
“Mau bagaimana lagi? Dipindahkan begitu saja? Lagipula ada puluhan karyawan berasal dari penduduk sekitar pabrik, tidak semua keberatan. Kau keberatan dengan bau karet?”
Aku tidak berkomentar. Pak Tua pernah bilang, benci atau tidak suka itu relatif ukurannya. Lama-lama terbiasa, lama-lama jatuh cinta. Kalau perasaan saja bisa menyesuaikan diri begitu hebat, apalagi hidung. Enam bulan bekerja di sana, seperti siklus bulanan, setidaknya enam kali para pendemo itu datang. Kali ini ember-ember air sudah disiapkan di halaman, membuat mereka hanya bisa membentangkan spanduk di pintu gerbang, takut mendekat. Aku tertawa menatap mereka.

Sayangnya, persis di penghujung bulan ke enam, tanpa kabar burung, puluhan buruh mendadak dirumahkan. Mesin penggiling karet berhenti. Pabrik tutup total. Padahal, jujur, aku mulai terbiasa dengan bau busuk karet—meski tidak jatuh cinta.

Jelas pabrik tutup bukan karena fengshui-ku buruk, juga bukan karena aktivis itu, melainkan pemilik pabrik terkena musibah. Saat itu, harga komoditas karet dunia anjlok separuh, macam meteor jatuh, grafiknya turun menghujam bebas. Imbasnya kemana-mana, dua juta petani karet rakyat di seluruh negeri membeli beras saja susah apalagi menyekolahkan anak mereka, pedagang karet memutuskan memarkir kapal, berhenti membeli bantalan karet di pedalaman, pabrik pengolahan terpaksa menanggung biaya produksi lebih tinggi dibanding harga jual, dan ibarat pribahasa sudah jatuh tertimpa tangga, pemilik pabrik dengan wajah pol kebapakan itu kemudian hari kena tipu. Tiga kali masing-masing sepuluh kontainer terakhirnya yang dikirim ke Eropa tidak dibayar pembeli. Importir-nya kabur membawa dokumen pembayaran.

Pabrik tutup. Aku kehilangan pekerjaan.

“Bukankah kau memang tidak suka bekerja di sana? Tidak usahlah pasang wajah sedih macam itu.” Salah-satu tetangga tertawa, malam-malam saat bermain kartu di balai bambu.
“Yang patut dikasihani itu tauke pabrik. Kudengar dia murah hati sekali dengan penduduk sekitar pabriknya. Bangkrut.” Yang lain menimpali.
“Semua lagi susah memang. Kopi turun, cokelat turun, karet turun, kelapa sawit turun, semua komoditas turun bebas. Hanya harga emas yang terus naik. Dunia katanya lagi reseh-sih.” Tetangga lain, yang suka menyimak berita di televisi memasang wajah prihatin, “Menurut saya yang paling patut dikasihani adalah petani-petani kecil, mereka paling dirugikan.” Sekarang dia berlagak politikus kelas kampung, “Pemerintah harusnya mengambil tindakan. Turunkan juga harga listrik, harga BBM, beras dan keperluan rumah tangga. Itu baru pro-rakyat.” Sekarang dia sudah seperti pengamat ekonomi.
“Kudengar ada lowongan di syahbandar Pontianak, kau cobalah ke sana, Borno.” Salah-satu tetangga berseru.
“Ah paling kau cuma jadi kacung. Disuruh bersih-bersih meja, ngepel lantai, buat minuman, lantas menunduk-nunduk bilang selamat pagi.” Yang lain mengingatkan.
“Tidak apalah kacung, umurnya masih delapan belas, sepuluh tahun bekerja bisalah kau naik pangkat jadi kepala—”
“Ya, kepala kacung.” Yang lain memotong, tertawa.
Aku tidak mendengarkan, membanting kartuku yang sempurna ke tikar pandan. Tetangga lain ber-ah sebal, giliranku yang tertawa sambil menunjuk teko plastik, mereka dengan wajah masam terpaksa menenggak gelas air putih berikutnya sampai kembung, hukuman kalah.
Bermula dari percakapan sambil main kartu bermandikan cahaya bulan malam dua belas, urusan syahbandar Pontianak ini ternyata panjang. Itu pekerjaan keduaku, kusut seperti benang berpintal.

***bersambung

0 komentar: