Minggu, 19 Desember 2010

Episode 3 : 'Kau, Aku & Kota Kita'

Gang Di Tepian Kapuas

Kalian tahu kenapa kota ini dinamakan Pontianak?

Kupikir Pak Tua dulu bergurau, ternyata tidak, cobalah tengok seluruh peta di dunia, lihat nama kota-kota paling eksotis dan terkenal sekalipun, tidak ada yang seganjil nama kota kami. Bahkan kota muasal cerita drakula, manusia srigala, atau hantu China yang suka loncat-loncat seperti yang kulihat di televisi, tidak ada yang dinamakan kota ‘Vampire’ atau kota ‘Drakula’. Apatah kota yang bernama ‘Pocong’, ‘Sundal Bolong’, seperti judul film-film murahan yang banyak beredar belakangan. Tidak ada yang mau memakai namanya—bahkan buat nama sepotong jalan saja tidak. Tetapi kota ini dinamakan Pontianak. Siapa itu pontianak—kalaulah dia bisa dan boleh disebut ‘siapa’? Pontianak adalah nama hantu dalam bahasa Melayu. Seramnya beda-beda tipis dengan kuntil anak.

Pendiri kota ini, seloroh Pak Tua suatu ketika, seorang pemuda yang tentulah pemuda perkasa turunan raja-raja asli, harus mengalahkan si pontianak ini saat membangun istananya. Menggidikkan mendengar cerita lengkap Pak Tua, apalagi dibumbu-bumbui tentang ibu-ibu hamil, kengerian si pontianak menculik bayi-bayi, malam-malam gelap penuh teror, dan sebagainya. Nah, karena sang pemuda ini bukan saja sakti mandraguna, juga beradab dan elok perangainya, dia dengan senang hati memberikan nama kota ini dengan nama musuh besarnya itu, ‘pontianak’—bukan namanya sendiri apalagi nama leluhurnya. Mana ada coba perangai se-terpuji itu? Aku terpesona kehabisan tanya, Pak Tua sudah kembali asyik memeriksa onderdil mesin perahu tempel. Jadilah kota indah kami bernama demikian.

Pagi ini, entah pagi ke berapa ratus ribu sejak si pontianak bertekuk lutut, kota kami terlihat sibuk—semakin sibuk saja malah. Aku menguap, menggeliat nikmat, mengucek mata, bilang pamit pada ibu yang masih tiduran di dipan. Ibu mengangguk, lagi tidak enak badan, tadi hanya sempat masak sarapan seadanya lepas bangun jam empat shubuh. Aku menuju mulut gang, jalan selebar rentangan tangan pria dewasa yang sekarang dipenuhi anak-anak sekolah, pekerja kantoran, ibu-ibu, bapak-bapak. Motor sekali, dua kali, tiga kali, sebenarnya berkali-kali memaksa menepi. Tidak sabaran menyalip pejalan kaki di gang ini, padahal plang besar berbiaya ratusan ribu dari kepala kampung jelas-jelas terpasang di ujung gang, ‘Dilarang Ngebut’. Mana peduli mereka, juga tidak pedulinya mereka dengan plang ‘Pukul 21.00, motor harap dituntun’. Untung rumah papan terapung Ibu jauh dari gang ini, jadi tidak terdengar raungan biker yang kurang sopan malam-malam.

Dari gang ini, belok kanan sana, akan menuju jalan besar yang telah dipenuhi kendaraan, mengepul asapnya, angkutan umum yang mobilnya sudah tua, terkentut berisik. Pedagang asongan, penjaja koran pagi, berteriak menawarkan barang, berlari-lari kecil. Aku terus berjalan lurus menelusuri gang sepanjang Kapuas. Rumah sempit memadati tepian sungai. Menemukan anak-anak yang asyik mandi, di baskom, pakai gayung, tidak loncat ke sungai. Ibu-ibu yang cuek mencuci di air keruh. Beberapa tetangga menyapa, aku mengangguk samar.
“Berangkat kerja, Borno?”
Aku nyengir, mengiyakan.
“Mana seragam keren kau itu?” Menggoda.
Aku tertawa.
“Gagah sekali kau, Borno. Belum mandi saja sudah se-gagah ini.” Tetangga bermulut usil lain, yang pagi-pagi sambil ngopi, asyik nongkrong di depan rumah kayunya ikut berkomentar.
“Tutup mulut.” Aku pura-pura mengacungkan tinju.
Semua orang punya pekerjaan, bukan? Aku juga. Apa kata pujangga, ‘hidup adalah bekerja, kalau kau pemalas, duduklah di depan gerbang kampung menjadi peminta-minta’. Atau apa kata kitab suci, ‘tidak satupun mahkluk melata di atas dunia yang tidak dijamin rezekinya’, tentu ayat menakjubkan itu di luar konteks bagi si pemalas.

Lepas Bapak meninggal, ajaib, aku tetap bertahan sekolah hingga usia delapan belas. Jangan tanya dari mana biayanya, Ibu bekerja keras. Sebulan lulus dari SMA, salah-satu pabrik pengelolaan karet yang banyak terdapat di tepian Kapuas menerimaku. Itu tempat bekerja pertamaku. Dikasih seragam berwarna oranye. Gagah memang, Ibu sampai tertawa tertahan melihatku siap berangkat pagi-pagi. Bagi Ibu, tertawa tertahan adalah ekspresi rasa senang tertingginya, sama levelnya dengan atlet terjun payung, yang loncat dari pintu pesawat sambil berteriak ‘geronimo’. Aku ikut tertawa bersama Ibu.

Sorenya saat pulang, Ibu tertawa lagi, kali itu aku hanya nyengir. Bagi Ibu, tertawa tertahan juga ekspresi rasa iba tertingginya. Kenapa? Tidak masalah tubuhku banjir keringat, membuat seragam oranye-nya lusuh nan kusam, namanya juga menjadi buruh pabrik, toh sejak kecil aku sudah biasa bekerja disuruh-suruh. Yang jadi soal adalah bau badanku. Tidak terkatakan. Kalian pernah datang ke pabrik pengelolaan karet? Pekerjaan di sana mudah saja, bal-bal karet (ada yang berbentuk kotak, seperti bantal, lonjong, bundar) hasil sadapan petani bercampur cuka pembentuk bantalan karet, dikirim ke pabrik lewat perahu-perahu. Jauh sekali kapal-kapal pengirim sadapan karet berhiliran dari kebun rakyat di hulu-hulu Kapuas. Lantas mesin pabrik akan mengolahnya menjadi lembaran-lembaran tipis belasan meter, lembaran ini kemudian dikeringkan menjuntai dari atap gudang tinggi-tinggi macam menjemur kain selendang, diangin-anginkan. Setelah kering, lembaran karet dimasukkan ke dalam kontainer, diangkut oleh truk besar, di bawa ke pelabuhan, menuju pabrik berikutnya.
“Oh itu, ada yang diekspor, China, Eropa, Amerika, ada juga beberapa kapal yang menuju Surabaya atau Jakarta.” Penyelia kerjaku menjelaskan.
“Oh itu, kita hanya mengolah karet menjadi setengah mentah, Borno. Bukan urusan kita berikutnya jadi apa.” Penyelia itu mulai terganggu.
“Oh itu, ada yang jadi sendal jepit, botol-botol, mainan, kabel, roda mobil, bahkan pesawat terbang ulang-alik.” Sedikit sebal menjawab.
“Hah, pesawat terbang?” Aku ingin tahu.
“Bahkan celana dalam yang kau pakai sekarang saja itu salah-satunya dibuat dari gulungan karet muasal pabrik ini.” Penyelia itu melotot mengusirku, urus pekerjaan kau segera.
Aku berhenti bertanya, kembali berpeluh menarik lembaran karet yang masih basah dari gilingan mesin. Bau, tentu saja, itulah soal paling memberatkan bekerja di pabrik ini. Hasil sadapan bercampur cukanya saja sudah bau, apalagi setelah diolah dan diberi cairan kimia berikutnya, bau sekali. Radius ratusan meter baunya sudah menyengat, dan aku persis berada di hadapannya. Masker kain tiga lapis tidak mempan, partikel bau itu menusuk membuat tersengal. Maka seragam oranye itu bercampur bau sudah tidak ada gagah-gagahnya lagi ketika aku pulang.

“Tidak masalah, Borno. Semua pekerjaan baik.” Ibu membesarkan hati.
“Borno tahu, Bu. Tetapi tidak semua pekerjaan itu bau.” Aku menggerutu (bukan pada Ibu, mana boleh aku menggerutu padanya, melainkan pada ember cucianku).
“Haiya, kau jangan dekat-dekat toko kelontongku.” Koh Acung, sebaliknya, melotot mengecilkan hati.
Aku bersungut-sungut melempar uang, dan dia sebaliknya sambil tertawa melempar bungkusan gula pesanan Ibu.
“Woi, kau jauh-jauh sana. Macam mana ini, warungku bisa sepi pengunjung empat puluh hari empat puluh malam.” Cik Tulani ikut-ikutan menyebalkan—padahal aku Cuma lewat saja di depan warungnya.
Hanya Pak Tua yang cukup nyengir, santai mempersilahkanku naik ke perahu tempel, aku menumpang menyeberangi Kapuas, pulang ke rumah.
“Harusnya ada peraturan naik sepit.” Sayangnya tidak untuk dua penumpang, dua gadis seumuranku, duduk di dekatku berbisik-bisik, melirik-lirik.
“Benar itu. Mana tahan aku. Mual.” Menunjuk-nunjuk.
Kalau saja tidak sedang di atas perahu tempel yang melaju membelah Kapuas, mau rasanya aku menimpuk dua gadis ini dengan gulungan kertas. Pak Tua yang sedang mengendalikan motor perahu tertawa, memicingkan mata, bersabarlah, Borno, sepuluh menit lagi sepit merapat. Aku mendengus mengkal, melotot pada dua gadis yang sekarang memalingkan wajah sambil ekspresif menutup hidung.

Itulah nasib bekerja di pabrik karet, pekerjaan pertamaku lulus SMA dua tahun lalu. Di luar soal bau, bekerja di sana menyenangkan. Pemilik pabrik memperlakukan kami dengan baik. Gaji dan bonus mengalir, sebulan sekali ada pemeriksaan kesehatan, kadang ada acara makan siang bersama gratis di kantin pabrik, belum lagi sembako gratis dua bulan sekali. Top.

Sayang, enam bulan di sana, aku dipecat, bersama ratusan karyawan lain.

***bersambung

0 komentar: