Minggu, 06 Juli 2014

Membunuh Ekspektasi

Kamis, 10 Januari 2013
Kantor Kecamatan Sobang
Aku bisa aku pasti bisa ku tak pernah berputus asa. Bila ku gagal itu tak mengapa, setidaknya ku telah mencoba!
Entah sudah berapa lagu yang gw dan Icha nyanyikan di depan kantor Kecamatan Sobang. Buku kumpulan lagu wajib dan lagu anak-anak kami bolak balik. Kami senandungkan. Kebanyakan lagu-lagu anak-anak yang kami nyanyikan adalah lagu yang diketahui oleh anak anak kelahiran 1990-an. Kami duduk di atas kursi plastik di depan lumpur sisa sisa banjir. Sesekali kami masuk ke dalam karena gerimis. Lalu kembali keluar saat gerimis reda. Beberapa teman teman pengajar lainnya pun sesekali ikut bergabung. Dengan ceria kami bernyanyi, sengaja melupakan bahwa tempat yang kami duduki saat ini, kemarin malam dipenuhi air setinggi pinggang. Tidak boleh ada urusan sedih sedan karena banjir, di perjalanan yang bahkan belum dimulai.

Lagu lagu yang kami nyanyikan pun akhirnya harus terhenti. Truk yang akan membawa kami ke titik penempatan masing-masing datang. Truk yang seharusnya membawa kami kemarin sore.

***

Setibanya di Kantor Kecamatan, harusnya kami langsung berangkat ke titik kami masing-masing. Kami akan ditempatkan di lima titik yang berbeda. Kami biasanya menyebutnya titk 1 sampai titik 5. Kami akan dijemput dengan menggunakan truk. Iya, truk besar terbuka yang biasa digunakan untuk membawa sapi. Hanya truk semacam itu yang dapat melewati medan menuju titik-titik penempatan kami dan membawa orang dan barang dalam jumlah besar sekaligus. Truk tersebut di beberapa titik akan mengantarkan langsung ke tempat tujuan. Tapi di beberapa titik lainnya, termasuk titik gw yang merupakan desa terjauh dari kantor kecamatan, truk ini hanya akan mengantarkan kami sampai titik tertentu. Setelahnya, kami harus lanjutkan dengan berjalan kaki karena kontur jalan sudah tidak memungkinkan truk untuk masuk lebih dalam lagi ke arah desa.

Setibanya di kantor kecamatan, kami mendapatkan kabar dari korlap (koordinator lapangan) titik kami masing-masing bahwa banjir menutup beberapa akses jalan, termasuk ke desa gw. Hanya titk 5 yang berhasil tiba di tempat tujuan tanpa terhadang banjir. Empat titik lainnya diputuskan baru bisa berangkat esok hari dan harus menginap di Kantor Kecamatan. 

Di tengah hujan yang masih mengguyur, kami pun merapikan salah satu ruangan yang akan digunakan untuk tempat kami menginap. Gw tersenyum saat membongkar barang barang yang gw bawa. Banyak barang yang sebenarnya tidak diwajibkan untuk dibawa, seperti sleeping bag, matras, jas hujan, dan headlamp, tapi tetap gw paksa untuk dijejalkan di Redo (Redo : carrier merah kesayangan gw). Barang-barang ini  termasuk ke dalam barang-barang yang harus dibawa sesuai SOP pendakian. Gandewa yang mengajarkannya. Barang-barang ini pun begitu bermanfaat di saat saat seperti ini. Prinsip help yourself first selalu berlaku di banyak waktu dan tempat, termasuk saat ini.

Menjelang malam, hujan mulai mereda. Tapi tanpa bilang bilang, air pelan-pelan naik. Kantor kecamatan ini bak rumah panggung. Hanya saja terbuat dari beton. Di depannya merupakan undakan tangga yang membuatnya tidak sejajajar dengan tanah. Air tidak benar benar masuk ke kantor kecamatan. Tapi saat kita menuruni tangga, air sudah setinggi pinggang orang dewasa. 

Di depan Kantor Kecamatan Sobang

Rumah warga dan sekolah sudah digenangi air. Warga beramai ramai mengungsi ke rumah warga yang berada di dataran yang lebih tinggi. Warga pun meneriaki kami untuk segera mengungsi karena air bisa kapan saja memasuki kantor kecamatan. Konon, daerah kantor kecamatan ini  berada di titik temu antara gunung dan pantai. Air hujan yang mengalir dari gunung turun dan air laut yang pasang naik. Jadilah seluruh aliran air menggenang di titik ini.

Setelah menimbang-nimbang berbagai kemungkinan, panitia akhirnya membuat keputusan. Malamnya  panitia dan pengajar harus mengungsi ke rumah warga yang berada di dataran yang lebih tinggi. Perempuan diharapkan membawa baju ganti dan makanan secukupnya karena kemungkinan akan bermalam di sana. Barang barang lainnya ditinggal di Kantor Kecamatan. Adapun panitia dan pengajar laki-laki, diputuskan untuk bermalam di Kantor Kecamatan. Menjaga barang-barang yang tidak mungkin dibawa mengungsi dalam keadaan seperti ini. 

Bersama Nova dan pengajar lainnya, pelan pelan gw berjalan menembus banjir. Tas kami letakkan di atas kepala demi tidak membiarkannya basah karena banjir. Hanya cahaya headlamp yang membantu kami untk tetap berjalan ke depan. Kanan kiri depan belakang kami dipenuhi oleh air. Satu doanya. Dalam kondisi banjir di malam hari seperti ini, berharap tidak ada binatang yang tiba-tiba menyergap di antara genangan air.

Tiba di dataran yang lebih tinggi, sepatu boots yang gw kenakan tergenang air. Kaki gw mendadak sakit. Nova menyuruh gw untuk segera melepaskan sepatu boots. Sepatu boots gw setinggi lutut. Ukurannya pas dengan kaki gw sehingga agak sulit untuk melepaskannya. Bukannya melepaskannya dengan pelan-pelan, gw langsung melepasnya dalam satu kali tarikan.
Astagfirullahalazim...
Gw ambruk ke tanah. Kaki gw tegang. Urat gw serasa ditarik dari arah yang berlawanan. Rasanya mau putus. Gw memejamkan mata berusaha tidak menangis. Gw berjanji untuk tidak pernah menangis apapun yang terjadi di sini. Beberapa warga menghampiri gw. Patah patah gw menjelaskan apa yang gw rasakan sambil tertawa. Kadang batas ekspreksi kesakitan dan kebahagiaan itu tipis. Rasa mau menangis bisa dibelokkan menjadi bentuk yang sungguh berbeda, tertawa. Samar samar gw dengar kata keram, uratnya tegang, dan lain sebagainya. Gw tidak bisa berjalan. Nova dan beberapa warga memapah gw ke tempat yang lebih kering. Untuk meluruskan kaki.

Terlambat datang ke Desa. Banjir. Kaki kram. Setelah ini, apa lagi?

***

Gw melambaikan tangan ke Icha. Mengucapkan sampai jumpa di sini satu bulan lagi. Truk titik 4, yaitu titik di mana Icha akan mengajar tiba lebih dulu. Bertahun tahun setelahnya gw akan mengetahui, orang yang gw lambaikan tangan akan menjadi partner yang paling menyenangkan dalam  urusan belajar mengajar. Di kelas, di kostan,  K2N, Telkomsel Mengajar, sampai Fasilitator OBM. 

Gw tersenyum. Diam diam gw berterima kasih kepada panitia. Panitia selalu menggembar gemborkan bahwa titik gw adalah titik yang paling memprihatinkan. Titik kami terletak paling jauh dari Kantor Kecamatan. Paling jauh dengan pasar. Sulit dimasuki oleh mobil. Motor saja harus bersiap melalui medan semacam off road. Kondisi jalan tidak memungkinkan dilalui apabila tidak menggunakan sepatu boots. Ditambah kamar mandi yang hanya terdapat 1 untuk satu desa, selain MCK terbuka. Semua deskripsi ini secara tidak langsung menurunkan ekspekstasi untuk hidup bermanja manja, hidup nyaman,  dan hidup baik baik saja. Bahkan, panitia sukses membuat gw tidak berekspektasi apapun. Pun bersiap untuk kemungkinan terburuk yang akan terjadi.

Banjir dan kaki kram ini pada akhirnya gw anggap sebagai ujian dari pernyataan. Seberapa siap gw untuk membuktikan bahwa gw tidak berekspektasi apapun. Seberapa siap untuk menerima kemungkinan terburuk yang terjadi. Pun seberapa siap untuk terus berpikir bahwa ini bukan tentang gw, tapi tentang mereka.

0 komentar: