Minggu, 06 Juli 2014

If You Could

Banyak rencana hidup gw yang sampai saat ini masih menjadi wacana. Salah satunya, menulis buku. Gw cuma bisa nyengir-nyengir kuda saat ada beberapa orang yang bertanya dan menyatakan,
"Kapan Tut nulis buku?"
"Kalau bukunya udah ada di toko buku bilang-bilang ya, Tut?"
"Teteh nanti aku mau ngasih komentar di belakang bukunya ya!"
Ide sudah begitu banyak dikumpulkan. Tapi ide mana yang mau dielaborasi masih begitu membingungkan. Tapi sepertinya kalimat di atas hanya alasan belaka. Tidak pe-de menggulung habis niat gw. Mungkin kondisi itu lebih tepat. Siapapun, tolong tampar gw.

Baiklah, mungkin karir menulis gw bisa dimulai dengan menjadi endorser buku orang lain. Dimulai menjadi penulis komentar di belakang buku teman sendiri yang telah lebih dulu menerbitkan buku. Beberapa bulan lalu Cynthia, teman gw semasa SMA, mencari orang untuk menjadi endorser novelnya yang ketiga. Tugas endorser adalah memberikan feedback berupa masukan, kritik, maupun saran terhadap draft buku sebelum buku tersebut diterbitkan. Gw mengajukan diri untuk menjadi salah satu endorsernya. Voila! Ternyata komentar gw dipilih oleh editor Cynthia untuk dicantumkan di bagian belakang bukunya. Jadi kalau ada yang beli bukunya Cynthia yang ketiga ini... ehm... nama pemberi komentar yang paling terakhir dicantumkan di belakang buku... ehm... mungkin namanya sama dengan penulis blog ini.

Bahahaha. Ampuni ke-norak-an temanmu yang satu ini, Cyn :P

Buku yang berjudul If You Could ini merupakan buku ketiga Cynthia setelah Stasiun dan Bumi. Buku ini bercerita tentang acceptance. Penerimaan. Yang kalau kata Cynthia, kadang tidak bisa sesederhana itu dilakukan. 


"Dan untuk kamu yang sedang berusaha memahami konsep menerima dalam bentuk yang sederhana, semoga buku ini bukan menjadi tumpukan kertas belaka" (Cynthia Febrina, 2014)
Gw belum baca buku Cynthia yang pertama. Tapi kalau boleh hanya membandingkannya dengan buku kedua, tidak begitu jauh berbeda. Dalam buku ini Cynthia mengangkat cerita yang dekat dengan kehidupan sehari hari. Kalau sebelumnya tentang persahabatan, kali ini tentang cinta. Satu hal yang gw suka kalau Cynthia menuliskan tentang cinta, cintanya gak menye menye gitu. Gak mengharu biru. Cynthia mengajak kita untuk melihat bahwa cinta, mampu tampak elegan apabila dibungkus dengan pemahaman yang baik. Cynthia juga, seperti di buku kedua, masih berani untuk mengangkat isu LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender) yang masih dianggap isu kontroversial di Indonesia. Jujur saja, gw sendiri masih belum berani menulis dengan mengangkat isu ini. Oia, satu lagi hal yang gw suka dari tulisannya Cynthia, by riset!

Untuk siapapun yang pernah atau sedang merasa tidak bisa menerima banyak hal yang terjadi, tidak bisa menerima kondisi orang lain, atau mungkin tidak bisa menerima kondisi dirimu sendiri, buku ini bisa jadi pilihan. Tidak ada nasihat nasihat bijak di sini, tidak ada saran saran psikologis di sini, tapi setidaknya, buku ini akan memberimu kebesaran hati. Bahwa kamu berhak sedih, kamu berhak kecewa, dan kamu berhak merasa lelah ketika harus memahami banyak hal, memahami  orang lain, bahkan memahami orang yang kamu sayangi sekalipun. Karena sejatinya, menerima tidak pernah mudah. 

1 komentar:

Anonim mengatakan...

bukunya bagus