Rabu, 15 Desember 2010

Si Fulan dan Fulani

15 Desember 2010

Terkisah ada dua orang remaja tanggung. Sebut saja si Fulan dan Fulani.

Si Fulan dan Fulani berasal dari tempat, pola pikir, dan kepribadian yang berbeda. Hingga suatu saat, garis hidup mereka bersinggungan dan berjalan beriringan yang menyebabkan mereka berdua akhirnya menjadi teman. Mereka berteman dengan baik. Menjadi partner kerja dengan baik. Walaupun banyak perbedaan yang mereka miliki. Ya. Teman dan partner kerja yang baik.

Sampai akhirnya terjadilah sebuah tregedi. Miss kordinasi dan miss komunikasi pun menjadi kambing hitam atas semua masalah ini. Pertemanan pun mulai meregang. Fulani yang mengandalkan persuasi dan negosiasi dalam penyelesaian masalah pun bersedia 'mengalah' terhadap si Fulan yang tempramental. Fulani selalu berusaha mejelaskan duduk perkaranya dengan berbagai cara yang pada akhirnya selalu ditangkis oleh si Fulan dengan berbagai cara.

Karena situasi dan kondisi, garis yang bersinggungan itu pun mulai berjalan ke arah masing-masing. Tapi jembatan ketegangan antar si Fulan dan Fulani tak pernah putus. Diperparah dengan si Fulan yang sudah tidak mau mendengar lagi dan Fulani yang terlampau lelah untuk mengahadapi si Fulan.

Ketegangan pun sampai klimaksnya ketika si Fulan dan Fulani ada di puncak emosi masing-masing. Si Fulan sudah tidak bisa berpikir rasional mulai mengancam akan melapor polisi dan membunuh si Fulani. Adapun Fulani, saking lelahnya menghadapi si Fulan secara baik-baik, sudah lupa tentang arti penting sabar, komunikasi, persuasi, dan negosiasi yang selama ini ia pelajari. Fulani pun menantang balik si Fulan bahwa dalam tragedi ini dialah yang ada di posisi yang benar dan mempersilahkan dengan tangan terbuka jika ingin dibawa ke ranah hukum. Dan pada akhirnya, si Fulan yang emosinya berkobar bak api semakin membesar, dan Fulani yang pada awalnya mampu memposisikan diri menjadi air mulai menampakan percikan api.

Sampai suatu hari, ayah si Fulan di panggil oleh-Nya.

Sejak saat itu, ketegangan tetap berlangsung dan tak kunjung usai. Bedanya, si Fulani menyadari penuh bagaimana status orang yang bersitegang dengannya saat ini. Yang pada akhirnya, membuat ia kembali memposisikan diri untuk tetap menjadi air.

Sepuluh bulan telah berlalu. Ketegangan itu pun tak kunjung usai. Stagnan tanpa menunjukkan titik terang.

Tapi ternyata di balik ketegangan itu, ada kisah yang tak bisa dijelaskan.

Setiap terjadi ketegangan. Ketika Si Fulan meledak-ledak dan si Fulani selalu berusaha meredakannya, di akhir ketegangan tersebut, bak tak pernah ada masalah, mereka saling mendoakan dan bercerita.

Si Fulan mendoakan Fulani untuk tes-tes yang dijalaninya, begitu pun sebaliknya. Si Fulani mendoakan si Fulan semoga keluarganya dalam keadaan sehat, begitu pula sebaliknya. Si Fulan bercerita tentang stressnya menghadapi ujian dan si Fulani menyemangatinya. Doanya tulus. Semangatnya tulus. Tanpa ada bumbu-bumbu seolah hanya doa basi-basi di tengah ketegangan.

Kini garis si Fulan dan Fulani semakin jauh. Jangankan beriringan, bersinggunan lagi  pun sudah tidak. Dipisahkan oleh kota dan tujuan yang berbeda. Tapi jembatan ketegangan itu belum putus sampai saat ini. Dan entah kapan bisa diputus.

Tapi di sisi lain, doa dan semangat yang tulus itu pun seolah selalu menyertai ketegangan itu.

Senin, 06 Desember 2010

Meluruskan

6 Desember 2010

Selamat Tahun Baru Hijriah :D

Resolusi tahun baru gw?
Cuma satu. Dan cukup satu.

Meluruskan segala kejanggalan yang ada di blog ini!

Lihat kebun (binatang) ku...

6 Desember 2010
Penuh dengan uu...aa... (suara monyet gimana sih?)
Ada yang hitam dan ada yang bule
Setiap hari loncat dan memanjat
Owa simpanse semuanya indah (?), indah (?)

Sungguh Ibu Sud, tiada daya upaya selain meminta maap karena saya merusak kembali lagumu :P

Ada dua perbedaan mendasar antara kebun gw yang pertama dan kedua. Pertama, kalau kebun gw yang pertama penuh dengan pepohonan, kebun gw yang kedua ini penuh dengan pengguna jasa pepohonan (baik untuk dimakan, dihirup hasil fotosintesisnya, maupun sebagai tempat tinggal). Kedua, kalau lambang tak hingga cocok disematkan dalam perhitungan jumlah kunjungan gw ke kebun gw yang pertama, kalau kebun gw yang kedua, gw benar-benar baru berkunjung sebanyak dua kali. Saat kelas 5 SD, dan hari ini :D

Karena kebun gw yang kedua ini bernama Kebun Binatang Ragunan :D

Maap-maap ya, Ragunan gw aku-aku sebagai kebun gw. Tapi berdasarkan premis dan kesimpulan yang ada :
Premis Mayor : Ragunan adalah kebun anak Indonesia
Premis Minor : Gw adalah anak Indonesia
Kesimpulan : Ragunan adalah kebun gw
Jadi boleh dong gw sebut Ragunan adalah kebun gw? ;)

Sama sekali gak ada rencana untuk berkunjung ke kebun gw yang kedua ini. Tapi tiba-tiba hari Minggu kemarin di sms di sms T'Nad pagi-pagi kalau forkom ada rihlah ke Ragunan. Gw balesnya gak bisa ikut karena ada agenda menemani nyokap untuk datang ke beberapa janur kuning yang tak ada hentinya untuk melengkung. Tapi dipikir-pikir, gw udah lamaaaaaaa banget gak bersilaturahmi sama aa teteh forkom. Kalau janur kuning, minggu depan masih banyak. Tapi menyambung silaturahmi? Mau ditunda sampai kapan? Akhirnya gw memutuskan untuk ikut.

Rombongan naik kereta ekonomi dan turun di stasiun Lenteng Agung. Dari Lenteng Agung, jalan sedikit menuju pangkalan angkot bernomor 17 dan naik angkot tersebut turun di pintu timur ragunan. Berhubung kita masuk lewat pintu timur, jadi suasananya memang gak terlalu ramai seperti di pintu utama.

Perjalanan di angkot

Pintu Timur Ragunan

Kalau kata kakak gw, ada juga rute yang berbeda menuju Ragunan. Turun di stasiun kota, naik trans jakarta, turun di shelter dukuh atas, naik trans jakarta yang menuju ragunan. Kalau rute yang satu ini, kita bakal turun di pintu utama.

Setelah membeli tiket yang seharga Rp 4.500 (sebenernya mah Rp 4000, tambahan 500 karena ada biaya asuransi. Dan untuk anak-anak Rp 3000), rombongan transit dulu di mushola sebelum pintu masuk untuk shalat.

 Yang kuning tiket masuknya, yang putih pembayaran asuransi

Berhubung gw lagi dosa kalau sholat, gw duduk di pelataran masjid. Melihat apa yang bia dilihat, mendengar apa yang bia di dengar, dan mem-foto apa yang bisa di foto :P

 Nisop, gw, dan Atana di pelataran mushola

 Akhwat Forkom

Setelah masuk, tujuan utama mencari tempat untuk berkumpul dan makan karena sudah masuk waktu makan siang. Di perjalanan mencari tempat berkumpul, gw melihat si anggun berpunuk dan si malas bergigi tajam.

 Sombongnya membelakangiku -_-

Ayo tebak, dimana si malas bergigi tajam?

Setelah menemukan tempat untuk berkumpul, makan siang pun dimulai. Dan seperti biasanya, berhubung gw gak makan dan gak ikut tuker kado karena gw gak bawa bekal n gak bawa kado, gw mencoba melihat apa yang bisa dilihat, mendengar apa yang bisa di dengar, dan mem-foto apa yang bisa di foto :P

 T'Ayu dan kadonya

 Ini kado punya T'Uswah

Putri, gw, Dini, Nisop, Atana

Ada kereta wisatanya juga loh!

Setelah makan, kita merayakan ulang tahun T'Ibon :)

 T'Ibon dan kue ulang tahunnya

*Met ilang tahun T'Ibon! Semoga apa yang di semogain orang-orang tercapai, amiin :D

Setelah itu, ikhwan dan akhwat kumpul terpusat. Di pimpin oleh A'TB. Entah mengapa gw selalu bersemangat kalau melihat koor gw yang satu ini, soalnya kayaknya gak pernah sedih deh A'TB, bersemangat terus, hehehe :P A'TB ngasih tausiyah gitu. Tentang ukhuwah. Ada salah satu bagian yang disampaikan A'TB yang seandainya ketika A'TB menyampaikan itu ada fitur like disebelah A'TB, pasti bakal langsung gw klik. Sayangnya gak ada. Tentang kita yang harus bida menkondisikan diri kita ketika menghadapi seseorang, bukan memaksakan kehendak agar orang yang kita hadapi sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Setelah selesai kumpul terpusat, next destination is : Pusat Primata Schmutzer :D

 Di depan pintu masuk

 Jarak kami berkumpul dengan Pusat Primata Schmutzer hanya sekali tujukkan tangan atau bahasa jepangnya kore no temae desu. Pusat Primata Schmutzer ini merupakan salah satu icon Ragunan. Tempat ini didirikan pada tahun 1999 dengan luas wilayah13 hektar (tapi yang digunakan baru seluas 6,5 hektar). Tempat ini memang pusat primata terbesar di dunia yang sangat layak untuk dikunjungi. Pusat Primata Schmutzer ini sengaja di design menyerupai habitat asli para primata.

Selamat datang!

Pertama kali masuk ke tempat ini, kita akan disambut dengan lorong yang cukup panjang. Dari atas lorong tersebut kita dapat melihat aktivitas gorilla yang hidup di bawahnya.

  Di pintu masuk ada yang lagi gelantungan, ayo ngaku siapa?!

Lorong utama Pusat Primata

Salah satu gorilanya ada yang bernama Kumbo. Kumbo lahir tanggal 8 Mei 1995 di kebun binatang Howletts, Inggris. Orangtua nya bernama Kijo dan Shumba. Kumbo merupakan gorila paling besar dan paling kuat yang ada di kelompoknya. Ia merupakan pemimpin kelompok dan biasanya saudaranya akan mengikuti Kumbo kalau ia tengah berkeliling di area gorila tersebut.

 Kumbo lagi makan

Ada juga yang nama Komu. Komu lahir tangal 16 April 1997 di tempat yang sama dengan Kumbo. Komu merupakan saudara tirinya Kumbo. Entah ibunya atau ayahnya yang sama, tapi Kamu lahir dari pasangan Kijo dan Mushie. Komu senang bermain bersama Kidjoum. Komu merupan gorila yang paling gaul di area gorila tersebut karena paling mudah beradaptasi dengan gorila yang lainnya. Jadi kalau mau tanya-tanya tentang gorila, tanya aja ke si Komu, pasti paling tau! :D

Komu juga lagi makan loh! (Jangan salah baca antara huruf a dan o!)

Setelah puas melihat gorila, kita akan memasuki sebuah terowongan. Gak ada namanya sih, kita sebut saja terowongan primata :P

 Di depan terowongan primata

Terowongan ini di design agar kita bisa melihat langsung kegiatan para primata dari jarak dekat dengan hanya dibatasi dengan sebuah kaca. Adapun sepanjang terowongan, kanan kirinya di buat seakan kita berada di dalam gua. Medannya juga berkelok-kelok yang tak jarang dibuat bak rumah miring yang ada di dufan. Selain itu, di beberapa bagian terowongan pencahanyaannya sengaja dibuat gelap. Seolah memberikan efek kaget ketika mulai mendekati daerah primatanya. Tapi tenang saja, walau agak gelap, semua aktivitas di terowongan tersebut, terpantau oleh kamera petugas :)

 Ada onye durhaka loh mukul-mukulin kepala ibunya!

 Kalau ini, onyenya lagi nyusuin anaknya

 Onye yang satu ini lagi berusaha ngancurin batu loh! 

Wajahmu mengalihkan duniaku! >_<

Kalau waktu zaman gw SD, ada salah satu bagian terowongan favorit gw. Di salah satu bagian yang gelap yang di kanan kirinya ada air mancurnya, lantainya terbuat dari kaca. Sewaktu kita masuk ke bagian tersebut suasananya terlihat amat gelap. Tapi ketika kita menginjak kaca tersebut, tiba-tiba cahaya muncul dari kaca tersebut yang memperlihatkan ada ular dibawah kaca yang kita injak. Lumayan mengerikan kalau ngebayngin kaca yang kita injek pecah, heu. Tapi, kemarin pas gw lewat, sepertinya bagian itu sudah tidak ada. Ada sih bagian yang bawahnya kaca, tapi kacanya udah burem banget, jadi gak terlihat apa yang sebenarnya ada di bawahnya.

Setelah keluar dari terowongan, kita disambut oleh beraneka ragam primata yang berada di dalam kandang yang cukup besar.

 Owa Jawa

 Onye berekor panjang kabur dari kandangnya!

 Ini namanya Boti (kayak merek roti?)

Bekantan si bulu putih

Selesai berpetualang di pusat primata schmutzer, kita duduk-duduk dulu di pelataran bagian luar. Cukup luas dan berangin untuk mengistirahatkan kaki yang lumayan cangkeul keliling-keliling pusat primata.

 Ngaso di depan pintu masuk

Setelah keluar dari pusat primata, rombongan berpencar. Ada yang beri kerak telor, ada yang sholat, dan ada yang pengen liat singa. Gw  dan Nisop? Lagi ngidam ketemu air. Jadi memutuskan untuk ke wahana sepeda air.

Sayangnya, sepeda airnya tutup. Tutup dalam arti sepertinya sudah di non aktifkan melihat kondisi sepeda yang berbentuk bebeknya sudah dalam keadaan terguling dan sangat kotor. Begitu juga dananunya. Penuh sampah dan ranting-ranting pohon yang mengapung dimana-mana.

Tapi, berhubung niat kami yang sudah menggebu untuk mengapung di air (?), akhirnya kami memutuskan untuk naik rakit wisata yang ada di danau yang lebih besar. Kalau sepeda air berada di belakang kandang buaya. Kalau rakit wisata ini, ada di danau yang lebih besar yang terletak di sebelah kiri.

Selain rakit wisata, ada yang namanya, mmh, aduh gw lupa, perahu wisata bukan sop? Pokoknya ada dua jenis perahu di di danau ini.  Oh iya gw inget, namanya perahu naga! Selain bentuknya berbeda, yang satu berbentuk rakit, yang satu berbentuk naga, harganya juga berbeda. Kalau rakit wisata harganya Rp 7000 per orang, kalau perahu naga Rp 15.000 per orang. Satu kali perjalanannya dua putaran. Berhubung dua perahu itu hanya berbeda bentuk padahal sama-sama mengapung di air, akhirnya kita memutuskan untuk naik rakit wisata.
 
 Ini Perahu Naga

 Kalau yang ini rakit wisata

Danau yang akan dikelilingi oleh perahu tersebut memiliki luas yang cukup besar dengan kedalaman yang tidak gw diketahui. Disekitarnya dikelilingi oleh pepohonan yang cukup membuat elok pemandangan danau dari perahu. Di sebelah batas rute perahu tersebut, masih di danau yang sama, terdapat zona untuk memancing.

Danau sejauh mata memandang dari rakit

Setelah penumpang penuh, rakit wisata yang kami naiki pun berangkat. Gw dan Nisop memutuskan untuk duduk paling depan. Ngomong-ngomong, gw punya rahasia kecil loh. It's my first time mengapung di air. Hehehe. Selain naik arung jeram di Dufan tentunya :P

Di atas rakit

Suasananya? Beuh, adeeeeeeem. Cukup mengademkan kaki, mata, dan keringat setelah mengelilingi Ragunan. Sejauh mata memandang hanya pepohonan dan riak air yang saling berlomba untuk menyentuh sepatu gw dan Nisop. Gw dan Nisop ngobrol-ngobrol ringan di atas rakit. Ada satu yang kurang, Ujhee. I really need our quality time with you all guys.

Minus Ujhee
Gw : Sop, romantis abis gak sih suasananya?
Nisop : Iya, Tuth.
Gw : Nanti kalau udah punya suami, ajakin suaminya kesini ya Soph.
Nisop : Iya... (sambil senyum :P)

Gw gak tau standar romantis orang-orang kayak apa. Tapi buat gw, bareng sama orang yang kita sayang, ngedengerin cerita mereka yang ngalir gitu aja tapi mata memandang ke lukisan milik-Nya, entah danau, sungai, pantai, air terjun, laut, gunung, kebun, sawah, ataupun langit is more romatic than cuma makan sambil ngobrol dan diiringi lagu jazz di sebuah cafe.

Berhubung sudah sore, walaupun belum sempat melihat-lihat binatang yang lainnya, kita memutuskan untuk pulang. Jadi, buat yang mau lebih lanjut tentang suasana ragunan dan binatang-binatang yang ada di dalamnya, silahkan datang sendiri ya :) Rombongan pun kembali pulang malalui rute yang sama saat berangkat menuju stasiun Lenteng Agung.

Calon istri-istri shalihah lagi nungguin kereta :D

Kalau dari kebun gw yang pertama gw dapet oleh-oleh betis mengencang dan membesar, kebun gw yang kedua juga ngasih oleh-oleh buat gw. Oleh-olehnya dua buah surat cinta.

Surat cinta yang pertama datang dari forkom. Isinya pesan-pesan penyemangat dari temen-temen dan teteh-teteh forkom. Jadi tuh sebelum pulang, kita kumpul dulu di mushola tempat kita sholat zuhur tadi. Setiap orang nyiapin kertas dengan namanya masing-masing yang nanti bakal diputerin untuk diisi pesan, semangat, atau tausiyah dari yang lain.

Nuhun pisan untuk teman-teman dan teteh-teteh forkom buat surat cintanya. Insya Allah tuti bakal tetep nge-rock kok, eh maksudnya, tetep semangat :D

Surat Cinta Forkom

Ada yang lucu dari surat ini. Ternyata, tulisan dari Nisop buat gw dan tulisan gw buat Nisop memiliki inti yang sama.
Dari Nisop buat gw : Just one statement.. Uhibbuki filah :) -sama tuti mah gausah banyak omong :D-


Dari gw buat Nisop : Pesen buat lw? No comment. Itung aja ada berapa banyak nama lw di blog gw. Dan itu udah lebih dari cukup untuk membuat gw gak bisa ngomong apa-apa lagi buat lw.

Surat cinta yang kedua, datang dari Lala. Gadis kecil di kereta.
Assalamualaikum wr.wb  Permisi ibu bapak dan kakak-kakak nya Saya datang kesini untuk Meminta Sedikit Rezeki nya karena orang tua saya tidak Mampuh Membiayai Sekolah Saya dan Biaya Mengaji dan Saya Banyak Berterima Kasih kepada ibu Bapak dan kakak-kakak nya atas bantuan nya yang Anda berikan dan Saya Mohon Maaf bila Saya Mengganggu Perjalanannya semoga selamat sampai tujuan. LALA.
Sambil Lala nyanyi dan berkeliling sepanjang gerbong untuk membagikan surat cintanya, gw memperhatikan suratnya. Benar-benar tulisan khas anak kecil. EYD nya berantakan. Mulai dari gak ada titik, huruf kapital yang gak sesuai, penggunaan kata-nya yang rancu, sampai tulisannya yang nabrak garis buku tulis.

Surat Cinta Lala

Pas gw tanya, ternyata memang Lala baru kelas 2 SD. Salah satu SD di Cilebut. Dan dia membagikan surat cintanya bersama temanya.

Setelah Lala mengambil kembali surat cintanya yang tadi diberikan kepada gw, Lala segera berlalu menuju gerbong selanjutnya. Tanpa alas kaki dan dengan rambut kemerahan terbakar sinar matahari. Dari kejauhan gw melihat Lala mengusap dahinya yang tak berpeluh. Lelahkah? Entahlah. Karena gw gak tau apa Lala masih ingat definisi dari kata lelah.

Surat cinta yang menyenangkan. Sayang gw gak dapet dari si pengalih duniaku -_-

Sampai rumah gw merbahkan badan di tempat tidur. Melihat langit-langit kamar gw yang jebol karena ada kucing berantem tepat diatasnya beberapa hari yang lalu. Dapet sms dari T'Nadia dan T'Ajeng yang berterima kasih untuk perjalanan hari ini.

Ya. Gw masih dikelilingi orang-orang baik.

*Buat yang mau ulum dan yang UAS, sukses yo, semoga dimudahkan :D

Evaluasi akhir tahun

6 Desember 2010

Evaluasi akhir tahun.

Tengah membaca ulang seluruh postingan yang ada di blog gw. Namun kali ini, gw membaca dengan posisi yang berbeda. 

Bukan sebagai gw yang pernah menulisnya. Tapi sebagai orang lain yang tiba-tiba nyasar ke blog gw. Belum pernah mengenal gw sebelumnya. Ingin mengetahui kepribadian gw dengan membaca setiap cerita harian gw. Dan  memposisikan diri sebagai seeorang yang jauh lebih sanggup untuk melogikakan perasaan ketimbang berlebihan merasa apa yang bahkan sebenarnya hambar untuk dirasakan.

Hasilnya?
Well, gw cuma bisa mengerutkan kening dan menaikkan satu alis selama membacanya. Banyak yang janggal.

Sabtu, 04 Desember 2010

(Pending) reading list

4 Desember 2010

Need :

Etika Lingkungan Hidup-A.Sonny Keraf














Eliana-Tere Liye


Ayahku (bukan) Pembohong-Tere Liye




Cinta Brontosaurus-Raditya Dika










Radikus Makankakus-Raditya Dika












Babi Ngesot-Raditya Dika











Namaku Mata Hari- Remy Sylado











Totto Chan's Children-Tetsuko Kuronayagi











Supernova Satu : Kesatria, Puteri, dan Bintang Jatuh-Dee











Supernova Dua : Akar-Dee











Supernova Tiga : Petir-Dee











Rectoverso-Dee













Ada yang mau beliin minjemin? :P

Jumat, 03 Desember 2010

Waktu zaman gw dulu...

3 Desember 2010

Sampai sekarang, gw seneng aja kalau ada alumni osis, siapapun itu, angkatan manapun itu, yang bercerita menggunakan kalimat, "waktu zaman gw dulu...". Ceritanya selalu ngalir gitu aja. Gak jarang dengan tawa dan mata berbinar-binar. Walaupun kadang yang diceritakan bukan hal yang membuat mata berbinar pada zamannya. Ngerasa pernah berada di posisi yang sama tapi dalam bentuk yang berbeda. Walaupun hal yang diceritakan sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu di zaman yang yang tak pernah dirasakan langsung oleh si pendengar. Orang-orang dalam ceritanya seolah saudara lama yang sudah lama tak jumpa. Walaupun pada kenyataanya, jangankan berkenalan, bertatap muka dan mendengar namanya saja mungkin baru pertama kali. Ya. Gw selalu senang mendengarnya.

Dan hari ini, ternyata gw sudah ada di posisi seseorang yang bercerita dengan kalimat "waktu zaman gw dulu.." Walaupun gw gak tau, cerita gw dengan kalimat itu apakah bisa membuat si pendengar merasa senang seperti apa yang gw rasakan setiap mendengar kalimat itu.

"Waktu zamannya Telor Ceplok.."*
"Waktu zamannya Televisi.."*
"Waktu zamannya Roket.."*
"Waktu zamannya Lokomotif.."*
"Waktu Zamannya Elemen.."
"Waktu zamannya Zandloper.."
"Waktu zamannya Kemudi.."
"Waktu zamannya Busur Panah.."
"Waktu zamannya Cakram.."
"Waktu zamannya Phinisi.."
"Waktu zamannya Zeppelin.."
"Waktu zamannya Windmill.."
"Waktu zamannya Avion.."

*Gak tau urutannya :(

Dan kalimat, "waktu jamannya gw dulu..", ngajarin gw bahwa ada sebuah perbandingan yang bisa disandingkan.

Buat gw, setiap angkatan osis punya ceritanya masing-masing yang gak bisa dibandingkan satu sama lain. Walaupun kalimat 'punya cerita masing-masing' gak bisa dijadikan pembenaran atas setiap cerita yang digores dan dimiliki osis tiap angkatannya. Dan dari ribuan cerita yang digores di tiap angkatannya, selalu ada perbandingan yang bisa disandingkan. Disandingkan untuk menjadi sebuah pembelajaran dan perbaikan.

Kesuksesan tiap angkatan osis relatif? Buat gw enggak. Ada konstantanya. Kalau setiap angkatan osis dianalogikan sebagai sebuah kereta *terinspirasi ngeliat lambang lokomotif di sekret dan lambang maglev di kumpul calon kabinet osis 2010/2011*, kereta yang dikatakan sukses, bukan kereta yang paling cepat sampai tujuan diantara kereta lainnya, bukan kereta yang selalu melewati pemandangan indah di tengah perjalanannya, bukan kereta yang selalu sukses melalui medan-medan yang sulit, bukan kereta yang memiliki masinis bersertifikat internasional yang telah memiliki jam terbang mengemudi yang menggila, bukan kereta berawak ramah yang gak pernah sungkan melambaikan tangannya kepada petani yang tengah membajak sawah melalui jendela kereta, dan bukan kereta yang memiliki struktur yang gagah nan menawan ketika tengah melintas.

Tapi kereta yang sukses adalah kereta yang selama perjalanannya tetap berada di atas relnya.

Relnya?
Kata, 'SMANSA', 'ATTITUDE', 'WE', 'FIGHT', dan 'WIN' yang tertanam di sini *nunjuk-nunjuk kepala* dan di sini *nunjuk-nunjuk dada* di setiap anggotanya :)

***
Gw : Waktu jaman gw dulu, gw sering kesel Fan sama Ditho. Tapi sekesel-keselnya gw ke Ditho, buat gw Ditho tetep ketua gw. Dan A'Bagus bilang, 'ketua 1 harus bisa jadi orang pertama yang ada di belakang dan di samping ketua umum dalam keadaan apapun'. Bagaimanapun keselnya gw ke Ditho, gw selalu mencoba melakukan hal itu.
Fandi : Kata Widuri, A'Ditho bilang dia gak bisa loh kalau gak ada Teh Tuti. Kalau gak ada Teh Tuti dia suka ceroboh katanya. Gitu juga sebaliknya. Teh Tuti juga gak bisa kalau gak ada A'Ditho.
Hahahaha, Ditho ya? Beraninya ngomong lewat Widuri, gak langsung ngomong ke gw kalau lw gak bisa tanpa gw!:P

Dan gw gak bisa tanpa lw? Pada kenyataanya, dibagian putaran selanjutnya memang benar adanya :) Tapi bukan karena gw ceroboh. Gw tanpa lw? Gw kehilangan satu dari tiga orang yang mampu 'meredam' gw. Satu dari tiga orang yang sanggup membuat gw menganggukan kepala  tanpa perlawanan waktu ngebentak gw. Dan satu dari tiga orang yang bisa bikin gw panik-sepanik-paniknya kalau salah satunya ada yang bt sama gw.

*Dan tanpa diduga, hari ini dikasih kesempatan untuk menyentuh si orang pertama selanjutnya :)

:P

3 Desember 2010

Habis di sms Dila. Ternyata ada teman lama yang sudah lama tak jumpa tengah menampakkan dirinya.

Selamat malam kawan, jupiter a.k.a bintang tanpa nama :)

Sebenarnya mah gak ada yang mau diceritain. Tapi gw mau titip salam. Tolong sampaikan salam gw pada seorang sahabat (yang bahkan sampai sekarang masih gw ragukan keabsahannya apakah dia sahabat gw atau bukan) ya, bintang. Tolong bilangin :
Hei, kita satu sama ya! *kabuuuuuur :P*

Rabu, 01 Desember 2010

Dijaga ya...

1 Desember 2010

Sengaja membatasi ruang gerak gw dalam beberapa hal.
Karena sadar ada yang salah.
Ada yang harus diperbaiki.
Dan ada yang harus dibayar.

Tapi kalau yang satu ini dibatasi juga?
Sekalian aja lw gak usah gerak sama sekali, Tuth!
Gw : Ayam, gw bakal ngelepasin lw dari kandang. Tapi dengan satu syarat.
Ayam : Kok? (Artinya : Apa?)
Gw : Dijaga ya, Yam suaranya.
Ayam : Kok kok kok kooooook (Artinya : Ok!)
*Ya Rabb, semoga setelah hari ini, semua akan baik-baik saja.

Welcome world, Ayamku! :D

*Terlepas dari bermutu atau enggak tulisan lw, tetep bagi apa yang bisa lw tulis ya, Tuth. Karena besok, lw gak tau masih dikasih kesempatan untuk hal itu atau enggak.