Senin, 27 Desember 2010

Nothing

27 Desember 2010
Nothing to think anymore, except  that thing :)
 *Menu. Music Player. Tracks. Kahitna-Bintang. Play.

.


.


.


.


Biar aku melangkah..

Tanda mata

27 Desember 2010

Sedih ih.

Kalau menang, di elu-elukannya melangit.
Tapi kalau kalah, dihujatnya gila-gilaan.

Apalagi baca di twitter banyak yang tiba-tiba pengen ngasihin tiket final  di GBK yang udah dia beli karena males nonton gara-gara hasil di Bukit Jalil kemarin. Heu.

Apapun kata orang, gw sih, win or lost that's my national team :) Kalau ada yang mau ngasih tiket final ke gw, gw terima deh dengan tangan terbuka :D

*Ngomong-ngomong twitter, gw ada twitter loh :P @annisadwiastuti. Tapi pengguna pasif, karena selain gw gak bisa ngenet on the spot a.k.a ngenet di hape gw mahal :'(, gw kebiasan berceloteh panjang lebar di blog. Jadi sekalinya disuruh nulis di twitter, bingung mau nulis apa, hohoho :P Tapi tengkyu loh kalau ada yang mau follow :D

Ngomong-ngomong, di saat banyak yang berdecak kagum dengan kaki Christian Gonzales, mengagumi rupa nan rupawan Irfan Bachdim, geleng-geleng kepala dengan liarnya kecepatan lari Okto Maniani, dan keistimewaan masing-masing aggota timnas yang tak dapat disebutkan satu persatu, gw lagi ngefans nih sama satu orang di Tim Nasional.

Cool dan Misterius. Goal atau gak goal, tampangnyaa... beuh.. STABIL parah! Siapa lagi kalau bukan, Alfred Riedl :D

Ditengah menjamurnya kata-kata labil dan galau, gw seneng aja sama ekspresi pelatih Timnas ini. Menang gak menang, lempeng wee kitu tanpa senyum, hoho. Kalau bahasa kerennya mah, dia tidak selebrasi gol.

Gw kira, memang packagingnya di seperti itu, hehehe :P Ternyata, ada sesuatu loh di balik kebiasaan tidak menselebrasi goal dan  ke-lempengan wajah Alferd Riedl.

Suatu sumber menyebutkan bahwa saat dia masih melatih Vietnam tahun 2007-an, dia menderita penyakit ginjal, sehingga dokter menyarankan transplantasi ginjal. Saat berita itu tersiar,  hampir 80 fans sepakbola Vietnam menawarkan diri jadi donor ginjal, sampai pada akhirnya satu orang dipilih. Transplantasi itu sukses, sehingga dia pun kembali sehat seperti keadaan semula.


Mengapa para fans sepakbola Vietnam begitu antusias ingin membantunya? Karena para fans itu hanya ingin memberikan ucapan terima kasih, kepada sang pelatih Vietnam yang telah membangkitkan timnas mereka.

Naaah, sejak saat itu dia merasa selalu berhutang kepada setiap supporter sepakbola, makanya tiap ada gol ke tim lawan, dia cenderung pasif, dan terkadang hanya melakukan selebrasi sekadarnya saja untuk menjaga perasaan mereka para supporter sepakbola.

Subhanallah :') Hahaha, bener-bener deh. Don't judge the book from the cover :)

Terlepas dari tindakan tak sportif yang ditunjukkan pendukung negeri tetangga sebelah yang mengarahkan sinar laser kepada pemain timnas, ataupun hura-hara yang terjadi di GBK akibat supporter Indonesia kesal dengan PSSI atas pelayanan penjualan tiket yang tidak mumpuni, fakta dibalik ke-lempengan wajah Alfred Riedl pun menyelipkan satu poin yang lebih penting dari sekedar kata menang dan kalah dalam euphoria piala AFF. Sebuah tanda mata ucapan terima kasih :)

Well, kalau tiba-tiba Alfred Riedl yang tak bisa dipungkiri punya andil besar dalam kemenangan-kemenangan Timnas sebelum final leg 1 di Bukit Jalil kemarin sakit ginjal lagi, jutaan supporter Indonesia ada yang mau mendonorkan ginjalnya gak ya? ;)

Episode 11 : 'Kau, Aku & Kota Kita'

Pertemuan Pertama

Sudah dua kali aku menanyakan hal yang sama pada Pak Tua, dan dua-duanya dijawab sama. Kalau aku sudah khatam belajar mengemudikan motor tempel, lantas sepit siapa yang akan kubawa narik? Jaman keemasan sepit sudah berlalu, tidak banyak pemilik sepit yang punya lebih dari satu perahu tempel—seperti halnya juragan oplet. Kalaupun ada yang punya dua atau tiga, peminat pengemudi sepit lebih banyak dibandingkan perahu yang tersedia dan pemilik lazimnya membawa sendiri sepit mereka.

Pak Tua bilang, “Tak usah cemas, paling sial kau bawa sepit milikku, Borno.” Aku keberatan, lantas Pak Tua bekerja apa? “Ah, justeru sudah lama aku ingin berhenti narik. Kakiku ini sudah sering sakit karena asam urat, beginilah kalau masa muda kurang latihan fisik dan mengunyah apa saja memuaskan nafsu perut, sekarang sedikit-sedikit terasa nyilu, salah makan sedikit langsung tidak enak badan. Kau bisa pakai sepit-ku setiap hari.” Aku tetap keberatan, lantas dari mana Pak Tua mendapatkan nafkah, “Ya tentu dari setoran kau-lah.” Pak Tua tertawa lebar, “Enam puluh-empat puluh, kau ambil enam persepuluh dari penghasilan bersih sehari, aku sisanya. Cukup adil, bukan?”

Cukup adil memang, lain lagi dengan logika Bang Togar, “Kau tahu, pengkhianat, dengan jumlah sepit yang ada sekarang saja, kami harus berbagi penumpang. Sudah untung pulang bawa setoran, ada juga habis untuk beli solar. Pelampung haram itu menghabisi semuanya. Nah, kalau Pak Tua pensiun, itu lumayan mengurangi jumlah sepit di dermaga ini, ternyata kau yang menggantikannya. Kau tidak layak bergabung dengan kami, sejak awal saja sudah bikin masalah.”

Aku memilih diam, meneruskan menyikat perahu tempel Bang Togar, tidak menanggapi. Sekali aku khatam belajar, sudah boleh membawa penumpang, masa plonco-ku usai. Esok-lusa, agar profesiku sebagai pengemudi sepit berjalan lancar, dan karena Bang Togar akan selalu berada di sekitar dermaga gang tepian Kapuas, kupikir lebih baik menganggap dia mahkluk gaib. Ada tapi tiada. Tiada tapi ada. Bodo amat dia mau berkicau apalagi. Dan pagi istimewa akhirnya tiba, hari kelulusanku. Pak Tua tertawa melihatku datang di dermaga kayu pagi buta.

“Aku tahu terlalu dini, Pak. Di rumah, Ibu sejak shubuh menyuruhku berangkat. Daripada kena omel terus, lebih baik bergegas.” Menguap.

Dermaga dengan cepat dipenuhi penumpang, bunyi suara sepit mengetem, merapat dan meluncur dari dermaga memenuhi langit-langit ditingkahi teriakan petugas timer mengatur perahu dan penumpang, “Maju lagi, dua. Maju, dua. Dan kau, Borno, sabar, kau masih lima sepit lagi.” Radio di warung pisang goreng me-relay siaran berita RRI. Tadi beberapa pengemudi menyapaku, tersenyum simpul, “Kau tidak gugup kan, Borno?” Aku berusaha tertawa, menggeleng. Aku sudah terlatih.
Akhirnya giliran perahu Pak Tua tiba, “Ya, Borno bawa ke sini sepit kau.”
Sial, saat namaku diteriakkan, pengemudi lain sibuk bertepuk-tangan.

Aku sedikit tegang menggerakkan tuas kemudi, sepit yang kukemudikan patah-patah merapat ke dermaga. Pak Tua sebaliknya, seperti pertapa takjim duduk santai di sebelahku, bersidekap, menikmati matahari pagi menerpa permukaan Kapuas, hangat nan menyenangkan.

Dua belas penumpang segera menaiki perahu, empat baris tiga-tiga. Tiga ibu-ibu (yang asyik ngobrol sedari melangkah hingga duduk rapi di kursi kayu melintang, entah sibuk membicarakan apa, seru sekali, berbisik-bisik, tertawa), dua gadis seumuranku (sepertinya hendak berangkat kuliah, terlihat rapi dan mungkin wangi), dua laki-laki setengah baya berseragam perusahaan swasta, empat anak sekolah berseragam merah putih, dan satu lagi, aku memperhatikan penumpang terakhir yang anggun menaiki sepit, duduk persis di haluan depan, memunggungi buritan. Kemudian ia mengembangkan payung tradisional berwarna merah. Rambutnya tergerai panjang, mengenakan baju kurung berwarna kuning seperti keturunan Melayu Pontianak, tapi tak pelak lagi, selintas aku lirik tadi, wajahnya China.
Sepitku penuh. Pak Tua berbisik, menyuruh segera menjalankan sepit.
“Tahan dulu, woi!” Terdengar suara khas itu.
“Dia bisa menjalankan sepit sendirian, kenapa harus ditemani, Pak Tua?” Bang Togar berkata tegas.
“Maksud kau?” Pak Tua lebih dari paham kalimat sederhana Bang Togar, itu hanya pertanyaan retoris-klarifikasi.
“Yeah, biarkan Borno menjalankan sepit sendirian, dia sudah lebih dari cakap, bukan? Sudah seminggu dia belajar. Bukankah kemarin siang dia sendirian membawa sepit berkeliling Kapuas.”
Pak Tua melipat dahi, berpikir sejenak, “Sepertinya tidak, Togar. Aku harus menemani.”
“Ah, semua pengemudi sepit juga dulu memulai hari pertamanya tanpa ditemani. Kenapa dia harus diistimewakan? Karena dia cucu kakeknya? Putra bapaknya? Hingga Pak Tua sayang sekali?” Bang Togar mengirimkan skak-mat.

Pak Tua menoleh padaku, ragu-ragu. Penumpang yang terlanjur duduk di sepit juga mulai ragu-ragu, penumpang di atas dermaga yang menunggu sepit berikut asyik menyimak keributan kecil.
“Tidak apa, Pak. Tidak apa-apa.” Aku berusaha memantapkan kalimat—meski sebenarnya dengan ditemani Pak Tua saja aku sudah gugup, apalagi sendirian membawa sepit penuh penumpang. Ini berbeda dengan latihan kemarin-kemarin, ada dua belas orang yang harus kubawa menyeberangi Kapuas dengan selamat.
“Kau yakin, Borno?”
Aku mengangguk, menyeka keringat di pelipis.
“Nah, apalagi masalahnya sekarang.” Bang Togar berseru senang, seperti habis menang lotere, “Mari kita tunggu sepit ini kembali dengan selamat dari dermaga seberang.”
Sayangnya ada yang tidak senang.
“Bukan Pak Tua yang bawa, ya?” Salah-satu ibu-ibu memberanikan diri bertanya.
“Aduh, bagaimana ini. Mending kami turun saja.” Dengan cepat bertiga membuat keputusan.
“Tetap duduk, Bu. Ingat antrian, Bu. Tidak boleh pindah ke sepit berikutnya, nanti kacau balau.” Petugas timer segera menghalangi.
“Kalau yang bawa baru belajar kami tidak mau. Kami pindah saja.” Ibu-ibu itu mengotot, menyibak paksa petugas.
“Tenang, Bu. Borno jauh lebih pandai mengemudikan sepit.” Pak Tua berusaha menjelaskan, “Dia sudah terlatih. Semua aman.”
“Tidak mau. Aku tidak mau terbalik di tengah Kapuas, aku tidak pandai berenang.” Ibu-ibu itu sudah memaksa masuk antrian penumpang lagi.
Dan hanya soal waktu, dua gadis kuliahan ikut loncat ke dermaga kayu, juga dua bapak-bapak, disusul empat anak SD. Tampang mereka sama, cemas, lebih baik pindah ke sepit.
“Astaga. Sepit berikutnya tidak bisa jalan kalau yang ini belum penuh, Bu.” Petugas timer kalang-kabut membujuk, “Ayolah, Bu. Itu sudah aturan main. Antri satu-persatu, kita bukan ojek motor kampung yang berebut penumpang!” Bujukannya tidak mempan.

Aku menelan ludah, sekali lagi menyeka keringat di dahi, telapak tanganku sejak tadi basah memegang kemudi. Menatap dermaga yang mulai ruwet, sepertinya tidak ada yang mau naik ke sepitku. Petugas timer berseru-seru memaksa. Pak Tua menatap Bang Togar sebal, dan lihatlah, si pembuat masalah, sekarang duduk santai di kursi panjang warung pisang Pontianak.

“Ayolah, semua sepit sama, Bu. Lihat, masih ada yang mau naik, bukan.” Petugas menunjuk gadis yang sendirian duduk di haluan depan.

Aku seperti tersadarkan, benar, tidak semua calon penumpangku kabur. Masih ada yang bertahan. Gadis itu tetap duduk anggun, seperti tidak tertarik dengan keributan. Ujung rambutnya melambai pelan diterpa angin pagi.

Lima menit berlalu, pengemudi sepit lain yang tadi bertepuk tangan menyemangatiku, mulai berteriak-teriak sebal menyuruh berangkat. Petugas timer masih bersikeras membujuk penumpang. Akhirnya dua laki-laki setengah baya itu kembali duduk, disusul lima remaja tanggung berseragam SMA (saling dorong loncat ke perahu, tidak peduli siapapun pengemudinya), masih kosong dua, petugas berteriak menyuruh siapa yang buru-buru di antrian belakang agar segera maju. Akhirnya sepasang bule, turis dari manalah dengan ransel besar naik. Cas-cis-cus, potret sana, potret sini. Sepitku akhirnya penuh.
Petugas timer menghela nafas lega, “Kau jalan-lah, Borno.”
Aku mengangguk, menggigit bibir bersiap.
“Hati-hati, Borno. Tidak usah ngebut-ngebut, yang penting sampai.” Petugas dengan wajah macam melepas pesawat kamikaze berpesan hal sama untuk kesekian kali.

Aku menarik tuas gas. Gelembung air di permukaan sungai buncah, bergemeletuk, sepit bergetar sedikit, aku menggeser kemudi ke kiri, dan segera sepit itu lincah membelah Kapuas. Lima belas detik, aku sudah meninggalkan dermaga sepuluh meter, menuju seberang. Terpaan angin pagi di wajah membuat tegangku berkurang drastis, suara motor tempel dan air pecah menerpa lambung perahu membuatku tersenyum tipis, tidak ada yang perlu dicemaskan, ini justeru seru, aku menambah kecepatan, sepitku gagah melesat. Turis itu bahkan sudah asyik memotretku, tertawa, mengacungkan jempol. Salah-satu dari mereka jahil melangkah ke buritan, membuat sepit bergoyang, aku segera menggeser tuas kemudi menyeimbangkan, aku sudah terlatih mengatasi riak pelampung, tidak sulit.

Salah-satu rekan turis duduk di sebelahku, pose, rekannya mengambil gambar. Aku ikut tertawa, pose. Rekannya menepuk bahu gadis berpayung merah, menunjuk-nunjuk kameranya, sepertinya dia minta tolong diambilkan gambar. Lantas menyibak penumpang, ikut melangkah ke buritan. Kali ini aku menggenggam kemudi sepit lebih kencang, ini dua bule seperti jalan di karpet merah, santai sekali.

Gerutu dalam hatiku tidak lama, saat dua bule itu duduk di depanku, pose, saat aku ikut menatap ke depan, saat itulah aku untuk pertama kali melihat wajahnya. Payung merah itu sekarang dipegangkan penumpang lain. Gadis berbaju kurung kuning. Alamak.

***

Sebelum loncat turun, dua turis itu merogoh tas pinggang, mencari uang ribuan—sepertinya mereka sudah tahu cara membayar sepit, beda dengan rombongan turis dari Jakarta dulu, meletakkannya di dasar perahu. Menepuk-nepuk bahuku, bilang ‘Therimakhasih.” Lantas loncat ke dermaga. Remaja tanggung berseragam SMA sudah berebut naik, saling dorong, “Hati-hati, woi. Jatuh baru tahu rasa kalian.” Petugas timer memarahi mereka. “Ternyata kau memang sudah mahir.” Dua laki-laki setengah baya dengan wajah lega menyapaku, aku mengangguk tanggung, ikut tertawa lega.

Dan gadis itu, anggun berdiri dari tempat duduknya, payungnya mengembang sempurna, gerakan tubuhnya mulus tidak terpengaruh goyangan sepit, dan kakinya yang terbungkus sepatu kain berwarna hitam melangkah pelan ke dermaga, tanpa satu kata, segera hilang di ujung antrian, menuju jalan besar yang dipadati kendaraan.

“Cantiknya, Borno.” Petugas timer tertawa, sejenak menatap punggung, “Kau sempat berkenalan dengannya tak, Kawan?”
Aku menggeleng, menggaruk rambut.
“Woi, kau ini bodoh sekali. Kalau aku, sudah kucatat baik-baik alamat rumahnya.” Petugas timer itu menepuk ujung perahu kayu, “Masuk antrian sana, Borno.” Berseru pada sepit lain, “Satu lagi sepit merapat. Satu lagi!”

Aku mengantri hampir satu jam, matahari semakin tinggi, payung-payung terkembang memenuhi Kapuas semakin banyak, hingga giliran sepitku. Kali ini agak lama, sepuluh menit baru penuh, penumpang berangsur sepi. Kali ini tidak ada masalah, tidak ada penumpang yang takut naik sepitku, sepit segera meluncur ke Kapuas.

***
Apa yang Pak Tua bilang kemarin lalu? Belajarlah membolak-balik hati.
Sebalku pada Bang Togar soal kejadian tadi pagi sebenarnya sudah ditelan kecipak air Kapuas pengalaman pertama kali mengemudi sepit penuh penumpang, sayangnya, si sok kuasa itu sekarang berdiri persis di tepi dermaga, terlihat benar menungguku. Apa lagi mau dia? Masa ploncoku sudah selesai. Kali ini kalau dia banyak tingkah, akan kutiru ide Andi, dorong saja jatuh dari dermaga kayu.

Dermaga sudah sepi penumpang, yang ada hanya pengemudi sepit berdiri bersama Bang Togar. Selepas penumpangku turun, memungut gumpalan uang, me-rekennya, aku menambatkan sepit ke tonggak kayu, lantas melangkah ke dermaga, kenapa Cik Tulani Koh Acung juga ada di sini? Hendak kemana? Mereka sepertinya tidak terlihat mau berpergian, justeru terlihat menungguku.

“Nah, Borno, resmi sudah kau jadi pengemudi sepit.” Bang Togar, lain dari biasanya malah tertawa riang, menepuk bahu saat aku mendekat, menjadi orang pertama yang menyambutku.
Pengemudi lain, Cik Tulani, Koh Acung dan Pak Tua ikut tertawa, bertepuk-tangan. Aku menyeka dahi, habis salah makan obat kah, Bang Togar? Sejak kapan dia beramah-tamah denganku. Pengemudi lain menjulurkan tangan memberikan selamat, mengacak-acak rambutku, bahkan ada yang berteriak lemparkan Borno ke air.

“Jangan dulu.” Bang Togar tertawa, melambaikan tangan menyuruh diam. Kerumunan menurut, semua memperhatikan Bang Togar—yang nampak bersiap memberikan ceramah, kebiasaan buruknya.
“Kau dua kali bertanya pada Pak Tua bukan?” Bang togar menyeringai, “Bertanya sepit mana yang akan kau bawa narik. Tentu saja bukan sepit tua miliknya, Borno. Kau berhak dapat yang lebih baik. Jupri! Mana Jupri?” Bang Togar menoleh ke pojokan dermaga. Semua kepala juga menoleh. Dan tanpa kusadari sejak naik dermaga tadi, di sana telah tertambat satu sepit baru nan mulus, bercat biru, gagah nian diterpa cahaya matahari pagi.

Jupri, salah-satu pengemudi bergegas menghidupkan sepit itu, suara mesin barunya terdengar lembut bertenaga, lantas seperti arak-arakan armada kebanggaan kerajaan Kutai dulu, sepit itu merapat ke dermaga disambut seruan ramai.

“Ini perahu kau, Borno.” Bang Togar membentangkan tangannya, berkata penuh perasaan, “Kau tahu, kakek kau dulu rela berhutang kemana-mana untuk membantu pengemudi sepit gang ini bertahan hidup. Pagi ini, kami tidak akan membiarkan cucu kakek kau tidak punya sepit. Ini perahu dari kayu terbaik, Borno, dengan mesin paling canggih, tukang paling ahli. Lihat, sudah kami berikan nama di lambungnya.”
Aku yang sejenak masih kehilangan kata-kata mengembangkan senyum.
Setengah tidak percaya, mengucek mata. Benarkah itu sepit milikku? Ini macam mimpi?
“Ini semua rencana Togar, Borno.” Pak Tua berbisik di tengah keramaian. “Togar yang meminta semua pengemudi, penghuni gang, para penumpang mengumpulkan sumbangan. Bedanya ya dia tidak sampai membuat surat permohonan berlaminating.”

Aku tertawa, sudah loncat memeluk Bang Togar erat-erat. Lihatlah sepitku, Ibu, tertulis hebat di lambungnya muasal nama anakmu, BORNEO. Dua rekan pengemudi sudah menyambar tubuhku, dan tanpa menunggu komando, segera melemparkanku ke permukaan Kapuas. Tergelak.

***

Perayaan kecil khatam belajar mengemudi dan penyambutan sepit baruku sepertinya baru akan selesai satu-dua jam lagi. Sudah dua kali aku dilempar ke permukaan Kapuas. Sudah tiga pengemudi lain yang ikut kuseret jatuh. Tertawa-tawa. Hingga tiba-tiba, petugas timer meneriakiku yang basah kuyup sedang duduk di kursi panjang warung pisang Pontianak, makan-makan ditraktir Bang Togar.
“Hoi, ada barang penumpang tertinggal di sepit kau, Borno!”
Aku menoleh, merapikan rambut basah di dahi.
“Barang apa?” Bertanya pada petugas timer yang mendekat.
“Ini! Kau tadi memangnya tidak memeriksa dasar perahu?”
“Ah, Borno paling juga hanya tajam melihat gumpalan uang, mana perhatian dia dengan barang lain.” Pengemudi lain menggoda, tertawa.
Aku hendak tertawa, tetapi mulutku menutup. Ini apa?
“Kutemukan di bangku paling depan sepit Pak Tua, tergeletak di bawah papan melintang. Kau masih ingat siapa saja yang duduk di bangku itu, Borno?”
Aku terdiam, telingaku tidak lagi mendengarkan pertanyaan petugas, mataku sibuk menatap lamat-lamat benda yang kupegang. Alamak? Ini surat bersampul merah, dilem rapi, tanpa tertera nama.
Surat? Untuk siapa?

***bersambung

Packaging

27 Desember 2010

Tentang percakapan dengan seorang kawan beberapa waktu yang lalu  :
Kawan : Tuth, kenapa ya? Orang kok sering nyangka gw lagi sakit, banyak pikiran, atau lagi kenapa-kenapa? Padahal gw nya mah biasa aja.
Gw : Mmmh.. Karena packaging lw kayak gitu kali, hehehe. Pembawaan lw tuh kayak lagi sakit, lagi mikirin sesuatu, atau lagi kenapa-kenapa. Sama aja kayak gw, cuma kebalikannya. Banyak orang yang bilang gw selalu ceria, bersemangat, gak perrnah gak senyum, seakan-akan semua baik-baik saja. Solanya, yaa packaging gw kayak gitu. Hehehe. Orang gak tau aja khan dalemnya gw lagi kenapa? :P

Dan gw cinta banget sama packaging gw yang satu ini :D

#Tapi, tapi, tapi, adakalanya jujur bahwa keadaan sedang tidak baik-baik saja, jauh lebih melegakan daripada membuat keadaan seolah selalu baik-baik saja :)

Semu

27 Desember 2010
"Tuth, lw gak sakit?"
Menurut lw?
"Apa ya rasanya jadi Tuti?"
Entahlah.

Teteh, tuti kira rasa sakitnya semu. Ternyata enggak. Jauh lebih nyata dari yang tuti perkirakan. Iya teh. Harus tetep dijalanin. Karena tuti pernah diajarin untuk tetep fight sampai benar-benar win. Walaupun tuti gak tau bentuk win untuk urusan yang satu ini seperti apa.

Tuti juga gak tau teh kenapa di sisi lain tuti, jujur, masih merasa senang dekat dengan sumber rasa sakit itu. Walaupun tuti juga gak tau, apakah rasa senang itu semu atau enggak.

Episode 10 : 'Kau, Aku & Kota Kita'

Gang Di Tepian Kapuas

“Kau tahu, Borno, kapal-kapal besar macam feri, pengangkut kontainer, kapal pesiar, tanker, kebanyakan menggunakan mesin torak, turbin uap, turbin elektrik, turbin gas, atau bahkan turbin nuklir. Nah, sepit ini hanya pakai mesin motor pembakaran dalam, bahasa sananya disebut internal combustion engine.” Pak Tua duduk di buritan, menjelaskan dengan suara kencang mengalahkan gemeretuk suara mesin dan kecipak permukaan air.

Astaga? Aku memperbaiki anak rambut melambai yang mengenai mata, sepit meluncur kencang membelah Kapuas dipenuhi penumpang berseragam rapi hendak berangkat kerja. Tadi lima menit menunggu antrian, sepit Pak Tua merapat, setengah menit mengisi penumpang, setengah menit kemudian sepit sudah meluncur. Aku duduk di buritan, di sebelah Pak Tua mendengarkan pelajaran mengemudi sepit hari ini.

“Apa tadi?” Aku berseru.
“Apanya?” Pak Tua menyeringai, tetapi karena dia pandai membaca ekspresi wajah orang, tanpa ditanya dua kali Pak Tua menjelaskan, “Nah, kau ambil buku ini. Semua kalimat hebat yang kukatakan tadi ada di sini, termasuk internal combustion engine itu. Ini buku sakti bagi pemula seperti kau, kalau kau tidak malas membacanya, kau bisa tahu banyak soal mesin.” Tangan kanannya meraih buku kecil di saku, sudah kecoklatan dimakan usia, sementara tangan kiri Pak Tua sibuk menggerakkan kemudi sepit –berbentuk tuas menyambung ke mesin perahu.

Aku menyeringai, membaca sekilas judul buku: ‘Panduan Mesin Tempel’ dengan merk Jepangnya tercetak besar-besar di bawah.

“Tenang, ada bahasa Indonesia-nya. Aku tahu kau tak pandai cas-cis-cus, apalagi bahasa kampetai.” Pak Tua tertawa menggoda, tangannya sedetik melambai, sepit kami berpapasan dengan sepit lainnya yang penuh penumpang, satu-dua penumpangnya terlihat memakai payung warna-warni, terik matahari pagi menyengat permukaan Kapuas, karena sepit tidak berpenutup kepala, banyak penumpang yang sengaja membawa payung. Elok sekali melihat sepit berlalu-lalang dengan penumpang mengembangkan payung.

“Logika mesin tempel itu sederhana, Borno. Hanya terdiri dari mesin penggerak, transmisi dan propeler, itu saja. Kau lihat, kita mengemudikan sepit hanya geser kiri-geser kanan, tambah gas, kurangi gas. Nanti setelah beberapa rit, tanpa penumpang, kau boleh coba.” Pak Tua menunjuk tuas kemudi, terlihat santai menggerak-gerakkannya, sepit melaju stabil meski permukaan Kapuas sedikit bergelombang setelah berpapasan dengan sepit lain.

“Logika mengemudi sepit itu sama persis dengan mengemudi oplet, ah ya, kudengar kau pernah belajar mengemudi mobil dengan si Jaya? Bagaimana, mudah, kan?”
Aku mendengus, itu bukan belajar, itu penipuan.
Pak Tua tidak memperhatikan, melanjutkan, “Bahkan logika mengemudi sepit sama dengan mengemudikan kereta api atau pesawat terbang.”
Aku kali ini tertawa.
“Kenapa kau tertawa, hah?” Pak Tua menyeringai bingung.
“Dari mana Bapak tahu soal kereta api? Tidak ada rel kereta di seluruh Kalimantan, apalagi Pontianak?” Aku masih tertawa, kali ini terlepas dari fakta Pak Tua tahu banyak hal, sepertinya dia berlebihan.
“Kau keliru, Borno. Aku memang tidak pernah melihat kereta api, apalagi naik pesawat terbang, tetapi aku bisa membayangkannya, berimajinasi, pastilah sama logika mengemudikan benda-benda itu. Ah, kau seperti tidak tahu kata bijak itu: imajinasi jauh lebih penting dibanding pengetahuan.”
“Apanya yang sama? Satu di air, satu di darat, satu lagi di udara.” Mana aku tahu soal kata bijak itu, segera kalimat memotong Pak Tua.
“Lah? Tambah gas, kurangi gas, belok kiri, belok kanan, itu saja, bukan? Semua kendaraan hanya punya logika itu, kecuali pesawat, bisa naik-turun, selebihnya sama.” Pak Tua ikut tertawa, dia mulai mengurangai kecepatan sepit, dermaga kayu seberang Kapuas tinggal tiga puluh meter. “Percaya atau tidak, jika kau sesederhana itu membayangkan logika mengemudi, kau bahkan bisa menerbangkan pesawat tanpa perlu belajar, dan bukankah ada banyak kasus orang yang bisa seperti itu. Kebanyakan orang justeru sebaliknya, Borno, dibuat rumit, lebih banyak takut, ragu-ragu, jadilah dia hanya untuk belajar belok kiri, belok kanan butuh berminggu-minggu. Belajarlah mengemudi sepit atau hal lain seperti kau dulu belajar naik sepeda, tidak takut jatuh, tertawa riang.”

Aku menggaruk rambut, tidak berkomentar lagi, Pak Tua lembut menggerakkan tuas kemudi, membuat sepit seperti seekor angsa, merapat anggun ke dermaga. Petugas timer membantu penumpang yang berloncatan.

“Terima-kasih, Pak Tua. Dan kau, semoga lancar belajarnya, Borno.” Salah-satu ibu-ibu berseragam PNS pemkot Pontianak mengedipkan mata sebelum melangkah.
“Eh?” Aku mengangguk salah-tingkah. Bagaimana dia tahu namaku?
“Semua penumpang sepit kenal kau, Borno.” Pak Tua tertawa menggoda, mengarahkan sepit ke antrian, sepit lain bergegas merapat mengambil penumpang, “Ingat surat keputusan si Togar? Wajah kau terpampang besar-besar di kertas berlaminating.”

Aku merutuk dalam hati, sial. Pak Tua sekarang asyik meraih gumpalan uang di dasar perahu, melurusukannya, me-reken. Dan ternyata, panjang umur, orang yang kubenci itu tiba-tiba sudah berdiri di tepian dermaga kayu.

“Hah, apa yang kau kerjakan di sini, anak tak tahu diuntung?” Bang Togar tanpa tedeng aling-aling berseru galak.
Aku meneguk ludah, “Belajar nyetir sepit, Bang.”
“Nenek-nenek pikun juga tahu kau sedang belajar nyetir. Semua orang sibuk membicarakannya, di warung kopi, di gang, di jalanan, di dermaga ini, di mana-mana. Borno mau jadi pengemudi sepit, mereka bilang. Borno mau belajar mengemudi sepit, bisik mereka.” Bang Togar tidak berkedip, dengan gaya sok-berkuasanya menatapku, “Maksud aku, kenapa kau masih di perahu, segera naik.”

Aku menoleh pada Pak Tua, yang ditoleh mengangkat bahu, menunjuk dermaga dengan ujung bibir, kau naiklah, Borno, demikian maksud Pak Tua.

“Enak saja kau langsung belajar, duduk di buritan macam turis plesir. Tidak ada belajar-belajar hari ini sebelum kau membersihkan kakus. Lihat itu, kau siram bau pesingnya.” Bang Togar menunjuk jamban di dermaga kayu.

Lima belas menit bersitegang dengan Bang Togar, aku baru sadar kalau aku tidak punya amunisi untuk membantah penghinaannya. Ini ospek, masa orientasi, dan karena dia adalah ketua PPSKT, tidak ada tawar-menawar. Aku menatap ke pengemudi sepit lain, mereka nyengir, sibuk menonton dari atas buritan perahu masing-masing. Pak Tua hanya mengusap dahi, tidak berkomentar. Maka dengan hati mengkal, aku meraih ember dan sikat di ujung kaki Bang Togar. Baiklah, tidak mengapa, hanya disuruh membersihkan jamban.

Jadi begini, jamban di dermaga sepit dan juga di tepian Kapuas rata-rata super praktis. Bentuknya sih sama dengan jamban kebanyakan, kotak 1x2x2 meter, terbuat dari papan, bedanya kalau di rumah kalian ada mekanisme leher angsa, kakus model duduk, pipa-pipa ke septic tank, jamban di tepian Kapuas ya hanya lubang menganga ke bawah. Brol. Demikian nasib kotoran, langsung jatuh ke permukaan air—segera dikerubuti ikan-ikan kecil. Samanya dengan jamban umum lain, meski air melimpah, tinggal ciduk, tetap saja bau karena yang menggunakannya pemalas, tidak tahu tata-krama. Malas menyiram cipratan buang air kecil, lama-lama bau pesing juga.

Inilah yang sedang kubersihkan. Bang Togar sengaja benar menunggui aku, tangan bersidekap, menunjuk ini-itu, bilang kurang bersih, kurang lama, kurang kinclong, pengemudi lain menahan tawa. Aku terbungkuk-bungkuk terus menyikat. Adalah lima belas menit penghinaan Bang Togar, hingga dia puas, lantas balik kanan meninggalkanku yang menyeka keringat. Sial.

***
Hari ketiga belajar sepit.
“Sebaiknya kau tidak narik sepit kalau hati sedang gundah, Borno.” Pak Tua menggodaku sambil memperhatikan gerakan tanganku di tuas kemudi mengendalikan sepit.
“Apa?”
“Tampang kau memperlihatkannya, Borno. Kusut. Kau terlihat tidak bersemangat dengan pelajaran hari ini, mengemudikan sepit langsung untuk pertama kalinya.” Pak Tua mengangkat bahu.
Pagi ini kemajuan belajarku memang menyenangkan, Pak Tua memberikan kesempatan membawa sepitnya tanpa penumpang. Jadilah sejak setengah jam lalu aku membawa perahu tempel itu berhuluan, berhiliran, mondar-mandir, merasakan sensasi gerakan tuas kemudi, getaran mesin, aliran permukaan Kapuas, berputar, berbelok, bahkan tadi Pak Tua menyuruhku mendekati pelampung, riak air yang timbul dari kapal feri membuat sepit yang ku-kemudikan sedikit oleng. Hanya saja sejak setengah jam lalu aku berdiam diri, masygul berkonsentrasi atas tiga hal, kemudi sepit, permukaan Kapuas, dan orang yang kubenci itu.

“Kau jangan ambil hati soal Togar, dia memang biasa menyebalkan.” Pak Tua menghibur.
Apanya yang biasa, sudah tiga hari ini aku disuruh membersihkan jamban, tidak hanya satu, tapi dua jamban, di dua dermaga seberang-seberangan, tidak hanya pagi, tetapi juga siang dan sore hari. “Minum obat saja tiga kali, hah. Membersihkan jamban juga harus tiga kali sehari.” Bang Togar seperti biasa sok pintar, mencoba berlogika di atas logika. Mulutku bungkam, tidak bisa melawan.
“Kau tahu apa yang bisa dengan segera membuat tampang kusutmu mencair macam mentega lumer di penggorengan, sebal di hati pergi seperti kotoran disapu air?” Pak Tua bersidekap takjim, menikmati laju sepit membelah Kapuas—aku belum berani melajukan sepit dengan kecepatan, sepit sejak tadi melaju sedang dan konstan.
“Apa?” Aku menoleh.
“Sederhana, Borno. Kau bolak-balik sedikit saja hati kau. Sedikit saja, dari rasa dipaksa menjadi sukarela, dari rasa terhina menjadi dibutuhkan, dari rasa disuruh-suruh menjadi penerimaan. Seketika, wajah kau tak kusut lagi. Dijamin berhasil. Bahkan Togar malah mencak-mencak lihat kau tersenyum tulus saat dia meneriaki kau bergegas menyikat kakus.”
Sayangnya itu lebih mudah dikatakan, teori. Prakteknya susah. Persis saat sepit Pak Tua merapat—aku sekaligus belajar merapat ke dermaga, belum genap motor tempel kumatikan, Bang Togar sudah berseru kencang.

“Nah, akhirnya muncul juga kau, Pengkhianat.”
Aku meneguk ludah. Musnah sudah skenarioku untuk tersenyum.
“Dari mana saja kau, hah?”
“Belajar mengemudi sepit, Bang.” Aku menelan ludah.
“Astaga, lagi-lagi jawaban bodoh. Semua orang juga tahu. Yang aku tidak tahu kenapa kau tidak di sana.” Bang Togar menunjuk jamban.
“Sudah kubersihkan tadi, Bang.” Aku menyeringai.
“Tetapi belum kau cat. Lihat, kuas dan kaleng catnya.” Sudut mata Bang Togar menunjuk ujung kakinya, “Sana kau cat jamban itu jadi meriah, macam payung yang dipakai amoy saat menyeberang.”

Untuk kesekian kali aku seperti kerbau dicucuk hidung, terbungkuk membawa kaleng cat besar. Nasib, ternyata bukan hanya membersihkan jamban tiga kali sehari. Juga tidak hanya mengecat jamban. Selepas pekerjaan itu, dengan sisa cat di kaleng masih separuh, Bang Togar meneriakiku agar mengecat perahu tempelnya. Selepas itu, hari-hari berikutnya, dia malah menyuruhku menyikat perahunya. Membantu memperbaiki motor tempelnya, berlumuran oli. Dia benar-benar telak mem-plonco-ku, dan Pak Tua, Cik Tulani, Koh Acung, serta pengemudi lain tidak ada yang berdiri di belakangku membela.

“Kenapa kau tidak berhenti saja belajar mengemudi sepit?” Hanya Andi, teman sejawatku yang selalu membela. “Tidak penting juga kau pandai mengemudikan motor tempel.”

Aku menggeleng, aku sudah mengangguk pada permintaan Ibu, tidak mungkin aku mundur hanya gara-gara ulah Bang Togar. Malam temaram membungkus langit kota, bintang menghiasi. Dari jauh terdengar anak-anak yang bermain pistol-pistolan ruas bambu berpeluru buah jambu.

“Sebenarnya siapa sih dia? Mengurus istrinya saja tak becus. Kenapa kau tidak berani melawan? Bilang tidak, kau lemparkan kuasnya, kau banting kunci inggris, kau banting ember, apa saja.”

Aku tetap diam, menguap, entahlah, sepertinya aku memang membiarkan diri sendiri dizalimi Bang Togar. “Aku mengantuk, Kawan. Kita sambung besok malam saja. Sudahlah, kau tak usah ikut leteh memikirkan urusan ini. Toh besok sore aku selesai belajar mengemudi, Pak Tua besok mengijinkanku membawa sepit dengan penumpang. Jadi si Togar bukan masalah lagi.”

Andi hanya mendengus, “Kadang kau terlalu naif, Borno, terlalu menerima. Kalau aku, sudah sejak seminggu lalu kudorong dia jatuh ke Kapuas.”

Aku melambaikan tangan, beranjak pulang.

Apa kata Pak Tua dulu? Banyak urusan bisa diselesaikan hanya dengan membolak-balik sedikit saja hati kita. Sedikit saja, maka pengaruhnya bisa besar sekali. Itu benar, esoknya, tidak terbayangkan, aku justeru memeluk Bang Togar, bilang beribu terima-kasih.

***bersambung

Orang baik

25 Desember 2010

Tiba-tiba inget bahwa gw pernah memiliki janji di sebuah postingan untuk menceritakan tentang sahabat gw yang bisa bikin tangan gw keriting kalau gw ceritaiin di blog ini. Tadinya gw mau melunasi janji itu dengan sok-sokan sebagai kado ulang tahunnya tahun ini :P

Tapi karena ada beberapa hal :
  1. Lima belas menit gw diam mematung di depan laptop. Bingung mau mulai dari mana.
  2. Produktivitas menulis lagi menurun. Lagi kekurangan kosakata dan perbendaharaan kata baru (bukannya sama aja ya?).
  3. Setelah dipikir-pikir, apa lagi yang mau gw tulis? Hitung aja ada berapa namanya yang pernah gw tulis di blog ini. Cukup membuat gw untuk tidak bisa menceritakan apa-apa lagi tentang orang yang satu ini.
Akhirnya gw urungkan niat tersebut. Lagipula, apalah arti sebuah kado kalau kata Nisop gak ada yang lebih indah dari doa yang dirahasiakan, iya khan Sop? :D Jadi, maaf ya para pembaca. Gw gak bisa melunasi janji gw yang satu ini.

Intinya, abang gw yang satu ini orang baik. Dan akan selalu menjadi orang yang baik sampai kapanpun. Iya khan bang? ;)

Selamat ulang tahun Kiagus Aufa Ibrahim. Semoga segala doa yang dikirimkan hari ini, baik secara terang-terangan maupun yang dirahasiakan, tidak ada yang pending di tingkatan langit manapun :)