Tampilkan postingan dengan label orang-orang baik.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label orang-orang baik.. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Juli 2014

Indah di Hati

Tut, rotinya kalau sisa, dibawa aja. Nanti kalau di jalan ketemu anak jalanan, dikasih aja.
Hah? Hmm. Oke. (membungkus roti dengan plastik)
...
Itu ada anak jalanan. Boleh dikasih?
Rotinya ada banyak kan? Kasih satu aja, Tut.
Oke.
(Dalam hati : Sebentar, kan rotinya ada banyak, kenapa coba cuma dikasih satu aja? Kasih semua aja kali ya)
 ... 
Udah, Tut?
Udah. Gw kasih semua ya.
Loh kok dikasih semua? Kan gue bilang satu aja.
Kan ada banyak. Kenapa gak dikasih semua aja? Kan gak dimakan juga sama kita.
Tut, nanti kan di jalan kalau ketemu anak jalanan lainnya bisa dikasih lagi. Ngasihnya secukupnya aja. Sesuai kebutuhan. Kalau satu anak dikasih satu, manfaatnya lebih banyak anak yang gak lapar dibandingkan satu anak dikasih semua.
Untung saja orang ini duduk membelakangi gw. Setidaknya, orang ini tidak perlu melihat muka gw yang sedang melongo mendengarkan penjelasannya.

....
Gue biasanya kalau lagi beli roti,  makanan atau minuman apapun, sekalian dua tut. Siapa tau di jalan ada anak jalanan yang bisa dikasih. Daripada ngasih uang yang belum jelas dipake buat apa, lebih baik ngasih makanan yang jelas akan dipake makan.
Sederhana sekali. Gw nyaris lupa bahwa berbagi bisa sesederhana ini. Untuk gw yang sering bergelut di dunia pengabdian masyarakat, jangan-jangan pemahaman gw mulai terkotak-kotak bahwa urusan berbagi, hanya eventual dan kontekstual.

***
Gak setiap hari Tut, ketika ada berlebih aja. Soalnya enak banget pas sensasi ngasih bukan duit ke orang yang ngebutuhin itu. Kalau makanan kan pasti langsung 'dipake' untuk makan...
Pernah gue makan pizza di Pejaten Village sendiri emang lagi hedon (gak boleh ditiru), trus ga abis banyak. Terus dibungkus aja dengan wondering ketika di jalan ketemu anak jalanan, atau pengamen, atau pemulung, terus bisa berbagi. Eh ternyata ada tiga anak kecil dan satu bapaknya lagi ngamen.  Sontak gue langsung nawarin sekorak pizza itu ke anaknya. Anaknya bilang, "Wah itu apa kak?", "Ini pizza", "Wah makasih banyak ya, Kak" trus ucapan makasih di-repeat sama adek adeknya dan bapaknya.Ucapan makasih itu indikasi bahwa mereka lagi butuh, dan gue seneng banget, terharu mata merah biasanya udah ngasih itu.  
Itulah sensasi yang gue pengen rasain sendiri tut, indah di hati. 
Untung saja percakapan in terjadi melalui Line. Setidaknya, orang ini tidak perlu mengetahui bahwa gw sedang tersenyum.

Senin, 07 Juli 2014

Di Wajah, Juga Dalam Hati

Tembok itu membentang di sepanjang bibir pantai. Tak begitu tinggi. Hanya sebatas pinggang. Membuat gw yang hanya memliki tinggi 160-an cm bisa dengan mudah naik ke atasnya. Gw duduk di salah satu sisinya. Menantang apa-apa yang membentang di hadapan. Menantang angin yang tak jera menerjang apa saja yang ada di hadapannya.

Gw menendang-nendang tembok bagian bawah dengan tumit. Bergantian. Kanan-kiri. Kanan-kiri. Maju-mundur. Maju-mundur. Bak anak kecil yang sedang menunggu teman bermainnya di taman. Tepat di bawah telapak kaki, batu-batu besar tersususun membentuk karang. Pelan dihantam air laut yang malu-malu mencium permukaannya.

Sempurna. Tanpa matahari, perbatasan antara perairan dan daratan ini jauh lebih indah. Langit seolah terbalik. Bintang gemintang tumpah ruah di permukaan air. Berkerlap kerlip. Merah. Jingga. Bukan. Bukan bintang. Ternyata lampu-lampu pelabuhan di kejauhan. Lampu-lampu kapal yang tengah merapat di dermaga.

Iya. Pantai di sebelah utara daerah khusus ibukota ini memang lebih sempurna di kala malam. Warna lautnya seolah senada dengan hitamnya langit. Karena kalau bukan malam, pemandangannya tentu saja kontras bukan buatan. Tidak seperti pantai selatan di daerah Banten sebelumnya.

Malam itu sempurna. Sejauh mata memandang hanya hitam dan kerlap kerlip bintang. Kerlap kerlip lampu pelabuhan. Satu dua pesawat melintas. Tiga empat. Tidak. Sepuluh sebelas. Melintas dari utara ke selatan. Dari barat ke timur. Dari Pulau Kalimatan ke Pulau Jawa. Dari Cengkareng ke Adisucipto. Seseorang bilang begitu ketika melihat arah pesawat.

Mata gw menantang apa-apa yang ada di hadapan. Tersenyum. Menyenangkan. Melihat luas apa yang ada di hadapan. Mendengar suara pasang surut air laut yang menenangkan. Kalau boleh, gw lebih memilih untuk tidak pulang.

Tak ada yang bisa dibahasakan dengan baik di sini. Menatap. Mendengar. Diam. Jauh lebih berharga dari pembahasaan perasaan dalam bentuk apapun saat ini. Keindahan lukisannya jauh lebih dari cukup menjelaskan semuanya. Kesyukuran itu merangsek dalam. Pengertian itu datang seperti hujan. Begitu saja. Mengalir deras.

Tapi rasa ingin tahu tiba-tiba menyeruak. Sebuah pertanyaan memecah keheningan. Baiklah, satu kali ini saja gw bertanya. Sekali ini saja. Janji, kekaguman itu hanya akan di simpan dalam-dalam.
Kenapa lw bisa tahu semuanya? Kenapa lw bisa menjawab banyak pertanyaan?
Pertanyaan itu melesat tenang. Tanpa intonasi kekaguman. Juga tanpa intonasi menantang. Datar saja. Hanya sebuah keingintahuan.
Karena gue suka melakukan hal-hal baru, pergi ke tempat-tempat baru, dan bertemu orang-orang baru.
Sebuah jawaban melesat. Tidak ada pergerakan yang berarti. Semua tatapan masih lurus ke depan. Kadang sedikit menengadah ke langit. Kalau kalau ada pesawat lagi yang lewat. Menambah hitungan pesawat yang melintas.
Kenapa? 
Biar nanti saat sudah jadi ayah dan jadi kakek, gue punya banyak cerita yang bisa diceritakan ke anak-anak dan cucu gue.
Gw refleks menoleh ke arah sumber suara. Ke arah pemberi jawaban. Yang ditoleh bergeming. Tetap menatap lurus ke depan. Dengan tatapan yakin tentang salah satu rencana masa depannya. Mendongengkan banyak kisah kepada anak dan cucunya.

Gw tersenyum. Di wajah dan di dalam hati.

Manis sekali. Untuk sebuah kalimat yang diucapkan oleh seorang laki-laki.