Jumat, 27 Desember 2013

Memilih untuk Tidak Berhenti

25 December
Nisop's house, Bogor

26 December
Quality time with Linea Alfa Arina. Sop Buah Pak Ewok, Bogor.

27 December
Grand Prix Marching Band, Istora Senayan, Jakarta.

28 December
Quality time with Clara Sovia Lestari & Dyah Raras, Bogor.

29 Desember
Terminal Hujan, Bogor.

2 January
Prepare for winter trip with the team, Bogor.

3 January
Origami time with Fasilkom's friend, Depok. He said that origami is just about computer science, woow.

4 January
Origami time, with GUIM 3. Depok.

5 January
Terminal Hujan, Bogor.

6-8 January
JAKARTA (Jalan-Jalan Akhir Tahun) BEM, Kepulauan Seribu.

13- 17 January
Telkomsel Mengajar Training, Jakarta.

18-23 January
Backpacking, Osaka-Tokyo, Jepang.

Cuma mau meluk Bapak dan Ibu. Yang selalu ngedoain anak perempuannya sehat. Yang selalu membiarkan anak perempuannya gak pernah berhenti menjejak dan melangkah.

Selasa, 24 Desember 2013

Jangan Bandel!

Setelah banyak tekanan yang tak jauh berbeda, sepertinya level ketangguhan kita naik satu tingkat. Bahwa urusan menderaskan air mata, hanya untuk ibu dan bapak. Hanya untuk keluarga. Yang lain, cukuplah berkaca-kaca saja.

Begitu juga urusan rasa bersalah.
"Buat gue, lo bukan temen biasa, Tuth. Lo lebih dari teman biasa"
Buat gw, mendefinisikan hubungan ini tak penting lagi. Gw pernah bilang bukan? Gw sayang lw, dengan gabungan definisi rasa sayang yang pernah gw sampaikan ke banyak orang. Titik. Definisi itu masih berlaku sampai detik di mana gw menuliskan tulisan ini. Apalagi? Peduli amat dengan kata orang. Tentang teman, teman dekat, sahabat, ataupun pacar. Pemaknaan ini, gw yang yang punya. Kita yang punya.

Yang harus kita lakukan sekarang :
Just don't let your feet stop - Haruki Murakami
Just don't let your feet stop.

Lw tau? Apa yang selalu menyenangkan di tiap momen pertemuan kita? Adalah ketika kita sama-sama sombong tentang apa-apa yang telah kita lakukan. Sama-sama mengukur sudah di belahan bumi mana kita menjejak. Juga ketika sama-sama mengingatkan untuk siapa semua yang kita lakukan ditujukan.

Selamat melanjutkan langkah :)

Desember dan Januari ini, akan menjadi bulan yang luar biasa bukan untuk kita?

Maaf untuk kemungkinan tidak hadir saat sidang dan wisuda. Toh lw tahu benar khan? Terlepas dari sidang dan wisuda, gw selalu ada. Kapanpun. Tidak hanya di acara-acara seremonial.

Ayo lunasi janji tahun depan!
Untuk punya lebih banyak waktu di rumah. Untuk jadi orang nomor satu yang menjadi tempat bersandar keluarga.

Juga janji kita untuk kita, untuk bisa lebih jahat kepada masing-masing, setelah ini.

Jangan khawatirkan gw ya? Gw pun akan melakukan hal yang sama.  Gw akan selalu mengingat pesan lw, untuk tidak mendramatisir perasaan. Tidak akan tergantung. Dan akan jauh lebih tangguh.

Yang perlu kita khawatirkan, apakah kita cukup tangguh, untuk menceklis bucket list pencapaian kita tahun depan. Dan tahun-tahun selanjutnya.

Terakhir, pesan gw untuk tidak perlu membaca blog gw lagi, itu serius, Kawan. Karena kalau gw rindu, gw akan lari ke sini. Membaca tulisan itu menyebalkan bukan buat lw? Jadi, jangan bandel!

Minggu, 15 Desember 2013

Pemaknaan Ini, Kita yang Punya

Teruntuk dua adik kesayangan gw, apa kabar?

Ya. Semenjak kalian melibatkan gw dalam obrolan beberapa malam yang lalu, gw merasa punya dua adik lagi yang harus gw jaga. Iya kalian. Si putri yang cantik jelita. Si pangeran yang tampan rupawan.

Terima kasih ya. Untuk percaya. Untuk bercerita. Senyum-senyum sendiri saat mendengar salah satu jawaban kalian mengapa gw diajak untuk berdiskusi.

Senyum-senyum karena kejadian ini berulang bukan?  Dipercaya jadi orang ketiga lagi. Untuk memediasi lagi. Setelah sebelumnya untuk banyak hubungan mulai dari pendekatan, jadian, putus, move on, salah tempat, sampai kalian. Ya, cerita kalian berbeda. Tidak gw masukan dalam kategori mana-mana.

Kalau kemarin kalian yang bercerita, sekarang boleh gw yang bercerita?

Belakangan gw bertubi-tubi mendengar kabar sedih dan senang. Tentang banyak hubungan.Tentang banyak ikatan dan kemungkinan. Beruntung ya gw? Gw beruntung dipercaya oleh banyak orang. Dipercaya mendengar banyak cerita. Termasuk dari kalian. Karena sejatinya, sungguh, gw yang banyak belajar.

Gw sering bertanya-tanya sendiri. Kenapa ya gw dipercaya? Padahal gw sedang tidak dalam ikatan. Tidak sedang berpasangan. Atau kalau dalam bahasa kita sehari hari, sedang tidak jadian. Yang secara logis orang yang berada dalam hubungan mungkin lebih paham tentang urusan ini. Ah, kapan sih terkahir kali gw jadian? Saat kelas 6 SD sampai 7 SMP. Putus dengan kalimat dari mantan gw, “Kamu terlalu baik buat aku”. Hahaha. Geli sendiri lah ingetnya. 7 SMP bro.

Tapi akhirnya gw mencoba menerima fakta. Bahwa mungkin untuk mengerti urusan ini tidak melulu harus pernah mengalami. Tidak perlu sedang berada dalam ikatan. Nyatanya, urusan jatuh di tempat yang salah dan memendam, sukses untuk mendewasakan gw untuk banyak hal. Mendewasakan untuk banyak hubungan.

Mari kita sebut urusan ini dengan jatuh... cinta? Ah, geli gw, haha. Istilah jatuh hati lebih bisa gw terima. Gw pernah beberapa kali di jatuh hati di tempat yang salah. Iya. Salah. Karena gw pernah jatuh hati dengan sahabat gw sendiri. Di lain kesempatan, gw pernah jatuh hati di orang yang sudah jadian. Dampaknya? Gw jadi ahli dengan urusan memendam. Untuk tidak pernah menyampaikan. Untuk menganggumi dalam diam.

Urusan jatuh di tempat yang salah dan memendam ini terjadi berkali-kali. Lukanya berkali-kali. Lelahnya bertubi-tubi. Tapi sungguh mendewasakan. Membentuk pemahaman yang menyenangkan.

Bahwa orang-orang yang sempat sukses menjatuhkan hati gw, saat ini tetap menjadi sahabat-sahabat terbaik gw. Tetap menjadi partner kerja terbaik gw. Tetap menjadi tempat bertukar pikiran yang paling menyenangkan. Silaturahmi itu tetap terjalin dengan baik. Dengan begitu menyenangkan. Mungkin lebih baik dibandingkan apabila harapan-harapan yang sempat berseliweran benar menjadi kenyataan.

Pemahaman lain yang datang pun sungguh membuka mata gw. Bahwa mungkin energi gw saat ini terlalu besar untuk diberikan kepada satu orang. Terlalu besar untuk diberikan secara parsial. Mungkin saat ini benar adanya bahwa energi gw lebih baik disalurkan ke banyak orang. Untuk menulis, untuk mengajar, untuk mendengar banyak cerita, termasuk untuk kalian bukan? Mungkin energinya memang lebih baik untuk banyak orang dulu. Untuk jadi banyak manfaat dulu..

Tapi poinnya  bukan pemahaman ini yang ingin gw sampaikan. Tapi untuk tiba di pemahaman itu, gw harus jatuh bangun dulu.

Tanpa harus menghitung kisah kasih jaman 6 SD-7 SMP selama 1 tahun 5 bulan (yang isinya adalah belajar buat lomba), gw gak pernah ngerasain yang namanya pacaran. Gw gak pernah tau rasanya jadian. Rasanya kangen sama pacar. Rasanya malam mingguan. Rasanya cemburu sama pacar. Rasanya sebel karena gak dihubungi karena sama-sama sibuk. Rasanya makan pagi, siang, malam bareng pacar.

Tapi gw tahu rasanya memendam. Rasanya harus nyomblangin teman gw sendiri dengan orang yang-padanya-gw-jatuh-hati. Rasanya menekan perasaan bahwa ada harapan yang salah kepada sahabat gw sendiri. Rasanya dicurhatin sama pacar dari orang-yang-membuat-gw-jatuh-hati.

Dear Pangeran dan Putri, saya tau rasanya itu semua. 
Saya pernah merasakan lelahnya mengelola semua perasaan itu.

Mau gw tahu sebuah rahasia kecil? Salah satu hal yang paling berat yang pernah gw alami dalam urusan ini adalah... mengelola tekanan dari orang-orang di sekeliling gw. Bahkan dari orang terdekat gw.

Bahwa kita gak bisa menutup mata, kita, ada di zaman yang sangsi apabila melihat laki-laki dan perempuan dekat tapi tidak ada apa-apa. Lebih lazim kalau melihat laki-laki dan perempuan dekat dengan status sebagai sepasang kekasih.

Untuk gw yang lebih banyak memiliki sahabat laki-laki dibandingkan perempuan, urusan ini gak pernah mudah. Memberikan pemahaman kepada orang lain bahwa gw tidak ada apa-apa dengan sahabat gw sendiri seperti meniup lilin ulang tahun khusus yang kalau apinya mati akan menyala lagi. Sia-sia.

Di satu waktu, pernah sesedih itu saat orang terdekat bilang bahwa gw jangan mem-friend-zone-kan diri. Sedih ketika apakah ketika gw merasa dekat dan nyaman dengan sahabat gw sendiri adalah sesuatu yang salah? Ketika kami memang sangat dekat tapi tidak menjadi sepasang kekasih adalah hal yang salah? Ketika kami punya alasan masing-masing untuk tidak jadian adalah hal yang salah? Bahkan ketika kami saling menjadi manfaat tanpa menjadi sepasang kekasih adalah hal yang salah?

Gw pun gak bohong bahwa persepsi itu pernah mendorong gw untuk mempertanyakan hubungan gw dengan seorang sahabat. Mempertanyakan mengapa kita tidak bisa lebih sebagai seorang sahabat. Iya. Lingkungan membentuk persepsi. Membuat pengaruh. Kadang membutakan fakta bahwa hidup kita, kita sendiri yang memaknai.

Sampai akhirnya, dari segala sedih, gw paling sedih ketika gw menyadari bahwa gw pun termakan oleh banyak persepsi. Pemahaman bahwa persahabatan ini gw yang rasakan bukan orang lain, datang terlambat. Kita paham konsep empati kan? Tentang memposisikan diri. Tapi orang lain, tidak pernah benar-benar tau rasanya berada di posisi kita. Tentang tidak pernah berada di dalam hubungan ini.

Dari sini, satu per satu pemaknaan terbentuk. Tentang beruntungnya pernah memendam dan salah tempat. Urusan ini mendewasakan. Tentang energi untuk universal dibandingkan parsial. Urusan ini mendorong gw untuk jadi manfaat. Tentang bersahabat tanpa banyak harap. Urusan ini melapangkan.

Dear Putri dan Pangeran,
Percayalah bahwa penyikapan dari banyak orang, akan mendewasakan. Semoga bisa menyikapinya dengan bijak. Tapi yang lebih penting dari semua urusan : Pemaknaan ini, kita yang punya.

Mungkin bukan sebagai sepasang kekasih. Bukan dalam status jadian. Seperti yang dipertanyakan banyak orang. Tentu saja. Ketika kata serius itu menjadi andalan, kita pun tidak pernah tahu urusan masa depan. Bahkan matahari terbit esok hari atau tidak, masih jadi rahasia Tuhan.

Tapi jika benar esok hari kita masih berkesempatan untuk membuka mata, bersyukurlah. Ketika banyak orang merasa sendirian, esok hari, masing-masing dari kalian punya masing-masing untuk bersisian. Untuk terus belajar dan mengenal, untuk menjadi baik bersama.

Pemaknaan ini, kita yang punya, My Prince and Princess.

Sabtu, 14 Desember 2013

Masih Ada

Ketika mulai terbiasa untuk mengelola lelah sendirian, kalimat paling adem adalah lw tau bahwa lw tetap punya tempat untuk tumpah.
Tut, atuh kalau mau cerita kalau lagi butuh teman mah hubungi aja aneeee santaaai, jangan didiemin sendirian.
Ini adem banget. Makasih ya. Untuk mengirim tepat di saat semua lelah memuncak. Di saat padahal gw berhasil membendungnya sendirian.

Untuk mu pun begitu. Kita tak jauh berbeda khan?
Kabarin kalau ada apa-apa. Kalau lw butuh, gw ada kok.

Senin, 25 November 2013

Tugas Perkembangan

Ceritanya belakangan mau menolak menjalankan tugas perkembangan usia dewasa muda. Tentang intimacy vs isolation. Tapi gak bisa. Akhirnya tumpah juga.
Jujur gw banyak belajar loh sejak denger cerita-cerita perasan lu ke dia
Belajar perasaan cewe ternyata kayak gitu

Kayak gitu gimana?
Gitu deh
Hahaha

Belajar kalau cewek udah sayang sama orang, bisa segininya ya? Hahaha
Nah
Gw kaya diliatin secara langsung gitu
Jadi bisa gw proyeksiin buat diri gw pribadi ngehadapin cewe ke depannya

Perlakukan cewek dengan benar ya, sesuai dengan lw menganggap dia istimewa atau tidak. Jangan ambigu.
Siap!
Senyum-senyum menyadari ternyata ada urusan insight dibalik ceracauan ini.
Semoga baik baik terus pikiran dan hati lu ya, apapun yang terjadi antara lu sama dia.
Ini manis banget loh doanya. Makasih ya.

Minggu, 24 November 2013

Takkan Redup Berpijar

Semester ini gw ngambil mata kuliah kuliah Psikologi Pendidikan dan Karir. Minggu lalu, salah satu tugasnya adalah learning from others. Kami diminta untuk mewawancarai seseorang dengan karir yang sesuai dengan rencana karir kami. Wawancara ini dimaksudkan untuk memberi gambaran yang lebih jelas apa hal-hal yang dibutuhkan dan dilakukan di karir yang kami pilih. Salah satu rencana karir gw adalah menjadi penulis. Nama Chntya Febrina pun melintas cepat di kepala gw saat gw mendapatkan tugas ini.

Chntya Febrina Maharani, atau yang akrab disapa Chyn, adalah teman satu angkatan gw di SMA. Saat ini, Chntya sedang menyelesaikan tingkat akhirnya di jurusan Kesehatan dan Keselamatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI angkatan 2010. Kenapa Chntya? Gw jarang ketemu Chntya selama di UI. Sekali-kalinya gw dipertemukan dengan Chntya di BKUI 13. Sekalinya kemarin ketemu lagi bersama anak anak RGTT (Rakit Bambu Gos To Toga), Chntya datang dengan dua karyanya yang sudah duduk manis di lemari Toko Buku Gramedia. Dua buah novelnya berhasil masuk industri penulisan Indonesia. Novel berjudul Stasiun dan Bumi.

Ribut lah gw nanya nanya ke Chntya. Sejak kapan Chntya suka nulis. Kapan nulisnya. Kok tiba-tiba. Dan pertanyaan-pertanyaan gak terima lainnya karena yang judulnya pengen nulis buku adalah gw tapi Chntya duluan yang udah punya buku, haha.

Sejalan dengan tugas yang gw dapatkan, akhirnya gw meminta Chntya untuk menjadi narasumber gw di tugas ini. Chntya cerita banyak. Gw pun dapat banyak fakta. Tentang Chntya yang menulis sejak jaman SD. Memutuskan serius untuk menulis dari SMA (yang gw gak terima karena gw gak tahu, haha :p). Dan berhasil pelan-pelan menjejak mimpinya di penguhujung periode mahasiswanya. 

Tentang fakta bahwa gak pernah benar-benar ada resep untuk menulis. Semua orang bisa menulis. Yang membedakan penulis dengan orang lain adalah niatnya, Tuth. Sekali lagi membuat gw percaya dengan kekuatan niat. Chntya, berhasil menyelesaikan bukunya yang kedua, Bumi, hanya dalam waktu 3 bulan.

Bumi adalah salah satu novel Chntya yang sudah gw baca. Bertajuk persahabatan yang sukses menampar gw pelan-pelan. Insight utamanya adalah ketika lw mengaku-aku orang lain sebagai sahabat lw, memperlihatkan kedekatan itu dengan foto bersama dan mengunggahnya di media sosial, padahal faktanya, lw gak pernah benar-benar tahu siapa orang yang lw aku-akau sebagai sahabat lw itu. Lw gak pernah benar-benar tahu masalah apa yang sedang orang-yang-lw-aku-sebagai-sahabat-lw itu hadapi.

Gw gak terlalu suka sama novel semacam teenlit. Awalnya gw mengira bukunya Chyn semcam teenlit. Ternyata bukan. Bukan sama sekali. Novelnya pake riset. Bahkan mengangkat isu besar seperti LGBT.
Gw : Chyn, gimana pendapat Chntya tentang penulis hebat yang hidupnya gak pernah lurus-lurus aja?
Chntya menjawab dengan jawaban yang gak pernah gw sangka. Dengan cerita yang membenarkan penghiburan diri gw yang hebat. Tentang masa-masa berat yang pernah Chntya alami, berpengaruh besar terhadap tulisannya.
Chntya : Kita hanya sanggup menceritakan kejadian di tulisan kita dengan emosi yang otentik ketika kita pernah melihat, mendengar, dan merasakannya sendiri, Tuth. Itu mengapa mungkin penulis hebat ditakdirkan punya jalan hidup yang gak lurus-lurus aja.

Gw, Chntya, Gedung H Fakultas Psikologi UI

***

Berminggu-minggu setelahnya, bersama PI-BPH BEM Psikologi UI gw rapat penentuan anak magang yang merupakan rangkaian terakhir di PDKM (Pelatihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa). Penentuan ini didasarkan pada penialaian kuantitatif dan kualitatif. Penilaian kuantitatifnya dipaparkan di depan dengan menggunakan proyektor untuk dilihat bersama.

Sore itu gw lagi super suntuk. Urusan LPJ Keuangan di dua bulan terakhir ini sungguh menguras tenaga. Ketika mata gw gak sengaja melihat daftar penilaian kuantitatif di depan layar, tiba-tiba gw tersenyum melihat nama yang ada di urutan pertama. Nama tersebut memiliki nilai tertinggi dengan kepala nilai yang berbeda sendiri dengan kepala nilai di bawahnya. Gw refleks melihat Murai. Melempar senyum. Sama-sama tahu apa yang ada di kepala tanpa harus berkata-kata. Suntuknya hilang dalam sekejap. 

Sekian detik kemudian, gw gak sengaja beradu tatap dengan Abang. Abang tersenyum penuh penghargaan.
Abang : Tuth, standar nilai anak SMANSA segini ya?
Gw mengangguk. Anak SMANSA kalau udah memutuskan melakukan sesuatu pake hati, urusannya memang jadi begini, Bang.

Selamat untuk peserta terbaik PDKM dear,
Denvi Giovanita

Denvi, Gw, Pusat Studi Jepang FIB,  Grand Closing PDKM 2013

Di rangkaian Grand Closing PDKM juga terdapat talkshow mengenai kepemimpinan transformational. Menghadirkan pembicara yang salah satunya adalah alumni Psikologi, namanya Kak Anggun. Beliau pernah menjabat menjadi pengurus inti BEM Psikologi UI dan salah satu penggagas komunitas Terminal Hujan. Terminal Hujan?

Gw yang lagi berkutat dengan urusan LPJ keuangan, tiba-tiba disenggol Abang di sebelah.
Abang : Tut, alumni SMAN 1 juga?
Hah? Persis saat Abang menyenggol gw, gw menatap layar yang berisi CV Kak Anggun. Persis di bagian Senior High School tertulis : SMAN 1 Bogor.

Kak Anggun bercerita tentang Terminal Hujan. Komunitas yang bergerak di bidang pengajaran yang diperuntukkan bagi anak-anak di daerah Terminal Baranangsiang. Mendengarkan proses pembentukannya, apa yang dilakukan di komunitas tersebut, dan kondisinya saat ini. 

Kondisi Terminal Hujan saat ini dikatakan kritis. Terminal Hujan sedang menghadapi tantangan besar karena orang-orang yang membangun Terminal Hujan dari dalam sedang menghadapi tugas perkembangannya masing-masing. Tuntutan dan godaan untuk bekerja di tempat yang lebih baik secara finansial, untuk segera menikah, berkeluarga, menjadi sebuah tantangan besar yang bersinggungan dengan komitmen membangun Terminal Hujan ini.

Selesai talkshow, gw menghampiri Teh Anggun. Berkenalan. Perkenalan singkat tentang sama-sama mashsiswa SMANSA-Psikologi, dengan gw yang tumbuh di OSIS dan Teh Anggun di MPK, dan sama-sama pernah menjadi pengurus inti BEM Psikologi, membuat gw refleks memanggilnya dengan Teteh yang kemudian dilanjutkan dengan percakapan bahasa Sunda yang super menyenangkan untuk menjadi pertemuan kali pertama.

Bertukar kabar tentang kondisi masing-masing, tentang SMANSA, tentang Psikologi, dan tentang Terminal Hujan, hingga berujung untuk saling mengabari lagi di lain kesempatan.
Gw : Teh, kapan-kapan Tuti boleh ngajar di Terminal Hujan?
Keinginan gw disambut hangat dan antusisas oleh Teh Anggun. Pertemuan pun ditutup dengan berjanji saling mengabari. Teh Anggun memeluk gw. Hangat. Seperti ketemu kakak lagi setelah sekian lama tidak bertemu.

***

Kemarin, di tengah Psikologi Seminar yang merupakan program kerja pamungkas Biro Danus, gw menyempatkan diri mampir di pelantikan Pengajar Gerakan UI Mengajar (GUIM) angkatan 3. Tadinya gak merencanakan untuk hadir karena harus mendampingi Danus. Tapi melihat seminar berjalan lancar dan sekalian gw menjemput Devinsa sang PO Seminar yang sedang dilantik juga sebagai salah satu pengajar, gw menyempatkan mampir.

Gw hadir saat seminar nyaris berakhir. Seminar dilanjutkan dengan perkenalan 36 pengajar GUIM 3 dan persembahan dari pengajar. 

Tuhan, saya rindu. Entah GUIM nya, entah mengajarnya, entah anak-anaknya. Tapi saya rindu. 

Sampai akhirnya tiba di persembahan 36 pengajar. Para pengajar membacakan puisi dan menyanyikan sebuah lagu. Sambil bernyanyi mereka membawa sebuah bunga. Di tengah tengah lagu, bunga yang dibawanya diberikan kepada orang yang dianggap istimewa untuk mereka sebagai ucapan terima kasih.

Tiba-tiba seorang pengajar menghampiri gw sambil menyodorkan bunga mawar putih.
Uceng : Teh, ini buat teteh. Terima kasih ya, Teh.
Emang dasarnya anaknya cengeng dan gak pernah dikasih bunga selama 21 tahun hidup, sekalinya dikasih bunga mau nangis lah. Hahaha.
Ese : Teteh itu bunga dari siapa?
Dari Uceng. Salah satu adik gw yang suka ceceritaan sama gw dari SMA. Kaget banget dia ngasih bunga ke gw. Sampai gw tahu alasannya setelah Uceng menjawab pertanyaan gw.
Uceng : Karena jawaban teteh setahun yang lalu, gw dapat berdiri di sana.
Terima kasih untuk bunganya, Ceng. Boleh minta satu hal? Ngajarnya pake hati, ya :)


Gw, Uceng, Pelantikan Pengajar GUIM angkatan 3
***
Obed : Teh, anak SMANSA itu pada lu apain sih?
Mungkin yang paling bertanggung jawab adalah hymne SMA kami, Bed. Mungkin liriknya yang harus disalahkan untuk semua urusan ini.

Kamis, 21 November 2013

Saya Iri, Pak

Tetiba siang ini dapet SMS. Undangan dari Technique Informal School (TIS) untuk menjadi pembicara di acara pelantikan pengajar muda FTUI. TIS ini merupakan salah satu lembaga di FTUI yang bergerak di bidang sosial. Fokus pada bidang pengajaran dan memfasilitasi sekolah gratis untuk anak-anak tidak mampu di kampung Lio, Depok (1)

Kalau BEM UI punya Rumbel BEM UI, Fakultas Psikologi punya Children of Heaven, Fakultas Hukum punya Rumah Belajar Matalangi, TIS ini punya Fakultas Teknik.

Poin gw bukan tentang undangannya, tapi tentang penggunaan istilah pengajar mudanya. Istilah ini pertama kali gw kenal dari Gerakan Indonesia Mengajar. Dari penggaggasnya saat memberikan sambutan di Pelantikan Pengajar Gerakan UI Mengajar Angkatan 2, Pak Anies Baswedan, gw mendapat pemahaman tentang konsep gerakan. Bahwa Indonesia Mengajar bukan sebuah organisasi, LSM, atau perusahaan. Indonesia Mengajar, yang selanjutnya disebut dengan istilah IM, merupakan sebah movement yang mendorong untuk terjadinya gerakan-gerakan serupa. Memasuki angkatan ke-7, konsep gerakan itu benar-benar terjadi dalam jumlah besar.

UI Mengajar, ITB Mengajar, IPB Mengajar, Undip Mengajar, bahkan sampai program dari perusahan seluluer yang baru akan gw ikuti, diberi nama Telkomsel Mengajar. Konsepnya mungkin berbeda, tapi semangatnya sama. Mengajar untuk anak-anak Indonesia. Bahkan berdampak pada penggunaan istilah di dalamnya yang mulai membumi, salah satunya, pengajar muda.

Walaupun gw belum benar-benar tahu siapa yang duluan menggunakan istilah ini. Karena TIS dibentuk sejak 2005, (2) sedangkan Indonesia Mengajar dimulai di 2009 (3)

Hal yang mau gw underline, bold, dan italic adalah Gerakan Indonesia Mengajar sungguh mendorong terbentuknya gerakan gerakan yang serupa. Menginspirasi terbentuknya begitu banyak gerakan dengan banyak niat baik dan ketulusan lainnya. Kalau satu gerakan, sebut saja, ribuan manfaat dan pahala dituai di dalamnya, apa kabar kalau seluruh gerakan itu digabungkan?

Gw ngefans berat sama karya Pak Anies Baswedan. Tentang Gerakan Indonesia Mengajar. Konsep Kelas  Inspirasi dan Indonesia Menyala yang bersisian bersamanya. Dilanjutkan dengan Festival Gerakan Indonesia Mengajar yang membentuk momentumnya.
Pak Anies, Bapak tau apa yang saya pikirkan tentang, Bapak? 
Entah berapa banyak pahala yang mungkin mengalir sampai ke Bapak untuk urusan menginspirasi ini. Urusan menularkan semangat yang karenanya banyak anak Indonesia dibuat bisa membaca, menulis, dan berhitung. Yang karenanya membuat banyak anak Indonesia merasa dirinya berharga. Saya iri, Pak. Sungguh.

Bersama Pak Anies Baswedan dan Ibu,
Malam Apresiasi Seni Pengajar Muda Angkatan 3


***

Sumber ceceritaanya dapet dari :

Menjadi Baik Bersama

Lagi suka konsep,
Menjadi baik bersama.
Terus kata bersama-nya tidak disempitkan dalam makna selalu bersisian di tempat yang sama. Di variabel waktu yang sama, berjuang di tempat masing-masing, dengan cara masing-masing, seru juga ternyata. Biar nanti sekalinya ketemu banyak cerita.

Kalaupun akhirnya tidak bertemu, akan sama-sama senang karena tahu masing-masing dari tiap-tiapnya  selalu berjuang untuk menjadi baik, dengan atau tanpa satu sama lain.