Sabtu, 05 Juli 2014

Transformers Age of Extinction

Eh eh, masa puasa-puasa gw denger gosip tentang lw. Mau gw klarifikasi nih. boleh nanya gak?

.....
*senyumin aja :)
....
Honestly yah...
....
:(
Jangaaan sedih. Maaafin ya. Lots of thing happen to me. Jadinya agak blak-blakan. Jangan diambil hati dan pikiran ya. Pokoknya semoga lancar semua-muanya yang sedang diperjuangkan.
Seneng kok gw kalau ada yang ngomong jujur di depan gw...
Daripada ngomongin di belakang :)
....
Eta pisan. Sayangnya, gak banyak orang yang mau nanya dan ngomong langsung di depan. Banyak yang memilih diam tapi menimbun prasangka, heu..
....
Soal jodoh sama kayak maut. Gak ada yang tau ke depannya gimana... Jadi ya daripada ngomong macem-macem, mending jalani dulu aja apa yang diperjuangkan.

Se-pa-kat! :)
Kalau kata Optimus Prime, ada misteri di dunia ini yang tidak boleh dipecahkan. Mungkin maksudnya, karena belum waktunya kali ya? ;)
Ini nih, salah satu contoh tulisan yang menyebalkan. Judul yang tidak merepresentasikan isinya. Terlepas dari itu, masa saat mau extinct, gw baru ngefans sama Optimus Prime :3


Antusiasme

Rabu, 9 Januari 2013
Kantor Kecamatan Sobang.

Pagi itu hujan. Gerimis lebih tepatnya. Tiga bus dan satu minibus berwarna biru bersusah payah untuk parkir di depan kantor kecamatan Sobang. Susah karena jalan yang tidak terlalu lebar. Hanya sepelemparan batu antara sisi satu dengan sisi lainnya. Susah karena jalan ini bukan aspal yang tak bergeming dihantam tetesan hujan. Jalan ini tanah. Menjerembabkan banyak langkah yang tak biasa menjejak.

Di salah satu bus yang sedang bersusah payah memposisikan tubuh besarnya, gw duduk bersandar di kursi. Menyangga kepala pada salah satu jendela kaca. Mengerjap ngerjapkan mata. Mengumpulkan nyawa. Mengusir jauh jauh dingin akibat perpaduan AC dan hujan yang membungkus. Menggerak gerakan badan sekenanya. Kembali bersandar sambil menghitung hitung posisi di mana gw berada sekarang.

Di sebelah kanan dan kiri gw terdapat dua buah bangunan. Satu persamaannya. Sama sama memiliki tiang bendera. Tapi bangunan sebelah kanan bertuliskan SD Negeri 1 Sobang sedangkan bangunan yang kiri bertuliskan kantor Kecamatan Sobang.

Iya. Kita telah sampai. Di titik di mana setelah ini, masing masing dari kita akan berjuang di tempat masing masing.

Kawan, mari gw ajak untuk membayangkan di mana letak kecamatan Sobang. Kecamatan ini masih berada di pulau yang konon menjadi pulau paling padat di Indonesia, Pulau Jawa. Tau provinsi yang paling baru terbentuk di pulau ini? Yap. Kecamatan ini berada di Provinsi Banten. Provinsi di sebelah barat Provinsi Jawa Barat. Layaknya provinsi yang banyak terdiri dari kota dan kabupaten, begitu juga dengan Banten. Salah satu kabupaten yang ada di Banten adalah Kabupaten Pandeglang. Kalau kita pernah belajar bahwa kabupaten/kota terdiri dari kecamatan-kecamatan, Sobang salah satu kecamatan yang ada di kabupaten pandeglang. Dan di sinilah kami berada sekarang.

Tapi kehidupan tidak hanya berhenti sampai di Kecamatan Sobang kawan. Tiap kecamatan bisa terdiri dari desa-desa. Dan, di Desa Cipeuti, salah satu desa yang berada di Kecamatan Sobang, gw bersama 14 orang lainnya berjuang untuk menghidupi kehidupan.

Sungguh kawan, di desa itu ada kehidupan. Sayangnya, dalam kehidupan yang sederhana itu, tidak banyak yang tau bawa mereka memiliki kehidupan yang lebih besar dibandingkan hanya besarnya jarak antara Cipeuti-Sobang. Sama seperti di kemudian hari, gw mengetahui bahwa anak anak gw tidak mengetahui bahwa dirinya tinggal di Provinsi Banten, di Pulau Jawa, yang menjadi bagian dari gugusan pulau di Indonesia.

Posisi gw masih sama. Duduk  bersandar di kursi. Menyangga kepala pada salah satu jendela kaca.  Hujan menderas. Satu dua warna warni bermunculan di tengah hantaman hujan. Bukan. Bukan pelangi. Warna warna ini tidak melengkung membentuk setengah lingkaran. Warna warna ini bergerak beriringan bak semut yang sedang berjalan.

Itu warna payung, warna seragam, dan warna sepatu boots anak-anak SD yang beriringan menuju sekolah. Bangunan di bagian kiri posisi gw. Iya, sekarang sekolahnya berada di sebelah kiri gw. Busnya sudah memutar, dengan susah payah. Payungnya sungguh besar kawan. Jangan bayangkan payung mereka adalah payung payung lipat macam kita yang bisa masuk ke dalam tas. Di sini tidak tren payung macam itu. Sepatu? Aah, di sini juga tidak tren sepatu crocs. Sepatu crocs yang menjadi primadona di musim hujan karena gampang dicuci kalau kotor masih kalah pamor dengan sepatu boots di sini. Aah, di sini boots lebih menjanjikan. Selain mudah dicuci, bonus tidak akan kena kotor sampai betis. Satu dua dari mereka begitu repot sekali. Satu tangan memegang payung, tangan lainnya menjinjing sepatu yang dibungkus plastik. Sepatu non boots yang akan mereka kenakan sesampainya di sekolah.

Gw memperbaiki posisi duduk. Sambutan ini sungguh menyenangkan. Di kemudian hari, pemandangan ini akan begitu familiar buat gw. Tentang budaya tidak peduli. Tidak peduli hujan menderas dalam intensitas yang besar. Tidak peduli harus membawa dua sepatu. Tidak peduli dengan medan yang tidak benar-benar bersahabat untuk menjejak. Yang penting, kaki ini harus menjejak ke sekolah. Dan di kemudian hari, gw mengetahui. Ini tentang kekuatan habituasi.

Gw nyengir. Halo Tuti. Malukah kau untuk banyak menggunakan jatah bolos kuliah hanya karena alasan-alasan... badannya lagi ngedrop?

Satu satu iring-iringan warna warni itu memasuki gerbang sekolah. Payung-payung yang mengembang itu seketika menutup. Berganti dengan jejeran payung besar yang menggantung di jendela dan pintu kelas. Berbanding terbalik dengan ada yang antusiasme yang ada di dalam bis-bis berwarna biru yang terparkir di depannya.

Antusisme ini mengembang. Sempurna meluap. Segala kebahagiaan, keriangan, kecemasan, dan kekhawatiran mendobrak masuk. Mendesak tak tertahankan. Bahkan luapan air hujan yang membanjiri kantor kecamatan di malam harinya, tidak benar-benar sanggup membendung antusiasme ini.
Warga : Iya neng. Ini teh baru pertama kali banjir sampai kayak gini di sini. Kebetulan pas mahasiswa lagi dateng.

 Dan luapan antusiasme ini, dimulai...

Prolog

Sertifikat Gerakan UI Mengajar gw ditahan sama Raihan, Kepala Sekolah GUIM 2 yang super taat sama aturan. Penyebabnya, diari pengajar gw belum selesai. Iya. Satu setengah tahun berlalu, kewajiban itu masih saja belum selasai.

Bahkan kalah dengan skripsinya Raihan yang sudah selesai lebih cepat dan sukses membawanya ke Balairung dengan toga bergaris abu-abu.  Payah, ya? Perfeksionis sekali gw dalam urusan tulisan. Bukan demi menyempurnakan juga sesungguhnya. Toh setelah ditulis gak bagus-bagus amat juga. Ya. Pengalaman mengajarkan gw untuk gak asal dalam menulis

Gw gak pernah tau tulisan gw dibaca oleh siapa dan dipersepsikan seperti apa. Juga akan dipergunakan untuk apa. Tapi setidaknya, ada satu hal yang bisa gw pastikan. Diari itu, tulisan itu, datangnya dari hati. Bukan seadanya dan sekadar untuk menggugurkan kewajiban. Yah. Mungkin memang butuh satu tahun lebih untuk bisa memiliki niat menyelesaikan semua tulisan ini. Setahun kebelakang hatinya masih lari-lari. Gak sanggup menyelesaikan tulisan ini. Payah.

Ditha : "Tut, nanti kalau udah lulus sertifikat dipake buat ngelamar kerja loh.."

Mungkin itu salah satu alasannya. Selfish reason sekali. Tapi bukan alasan itu yang membuat sesak. Saat diwawancara dalam proses ini, gw berbicara tentang motivasi. Berjanji untuk menuliskan semua cerita tentang anak-anak di sana kepada banyak orang. Ada cerita yang layak diketahui dunia di sudut Kota Pandeglang. Sayangnya, janji ini belum lunas walaupun satu tahun lebih telah berselang.

Satu doanya, semua tidak lagi menjadi wacana. Ini diari pengajar gw. Tulisan ini hasil mengais-ngais dari sisa-sisa kenangan yang masih diingat. Dibantu oleh jepretan kamera dan blog seorang kawan. Validitas detailnya boleh dipertanyakan. Kenangan yang ditulis pun tidak sesuai dengan runtut kejadian. Memakai prinsip penyimpanan memori : yang mudah di-recall adalah kenangan-kenangan yang mengandung muatan emosi.

Untuk semua orang yang merasa bahwa hidup ini sempurna dan menyenangkan, tidak juga. Ada yang tidak baik baik saja  dan butuh perjuangan. Dan Tuhan menciptakannya, untuk menjaga keseimbangan.

Selamat membaca :)

Khusus untuk Kepala Sekolah GUIM 2, yang kepadanya gw angkat topi atas konsistensi ucapan dan tingkah lakunya, ini hadiah untuk gelar S.E.nya.  Terima kasih. Untuk kesabarannya menunggu selesainya diari pengajar gw, sampai detik ini.

Karena Kita Selalu Bisa Memilih

Bos, udah baca buku Tere Liye terbaru?
Seorang teman bertanya beberapa minggu yang lalu. Saat pertanyaan itu diajukan, gw belum satu pun menyentuh buku karya Bang Tere lagi. Sengaja menghindar. Memilih membaca buku yang lain. Buku yang lebih realistis.

Gw muak.

Gw tumbuh di lingkungan yang begitu baik. Lingkungan yang mengajarkan nilai-nilai yang baik. Dikelilingi orang-orang yang selalu  percaya bahwa gw selalu bisa melakukan hal-hal yang baik. Begitu juga buku. Gw tumbuh bersama buku-buku yang mengajarkan pemahaman-pemahaman yang baik. Menunjukkan bahwa hidup ini indah. Sekalinya tidak baik baik saja pun, kita selalu bisa melihat celah keindahannya. Buku-buku yang menunjukkan bahwa semua orang baik. Sekalinya tidak, mungkin hanya caranya yang berbeda yang belum bisa kita terima. Atau karena kita tidak tahu alasannya dan belum bertanya. Gw tumbuh berama buku-buku Mizan, Ahmad Fuadi, Dhonny Dhirgantoro, Andrea Hirata, Dewi Lestari, juga tentu saja, buku-buku Bang Tere Liye.

Setelahnya, gw pun menjelma menjadi orang-yang-katanya-selalu bisa positif thinking. Di tengah banyak kejadian yang bisa membuat lw merutuki diri lw sendiri, gw dianggap bisa mengambil hikmah. Di tengah banyak orang yang berkonflik, gw dianggap bisa menengahinya. Atau ketika gw bersitegang dengan orang lain, gw dianggap selalu bisa mengalah.

Tentu saja. Karena buat gw, semua kejadian ada hikmahnya. Kalaupun tidak, kita yang belum bisa menemukan celah keindahannya. Karena buat gw, setiap orang baik. Kalaupun tidak, mungkin hanya caranya saja yang berbeda dan belum bisa kita terima. Atau karena kita tidak tahu alasan dibalik apa yang ia lakukan. Dan kita cenderung menimbun prasangka, dibandingkan bertanya.

Tapi gw mulai jengah. 

Hei, bukankah gw terlalu naif memandang hidup? Ternyata hidup tidak selalu indah bukan? Bagaimana pun gw berjuang mencari celah keindahannya. Ternyata tidak semua orang baik bukan? Bagaimanapun gw sudah berjuang untuk memahami, bertanya, dan membuang jauh-jauh prasangka.

Untuk banyak cerita yang harus gw dengar belakangan, untuk banyak kejadian yang pernah gw alami belakangan, semuanya pelan-pelan meruntuhkan pemahaman.

Tidak semua orang baik, ternyata. Hidup tidak seindah itu, pada akhirnya. 

Anggaplah semua cerita dan kejadian itu adalah air. Air tersebut dituangkan ke teko. Air tersebut dituang terus menerus memenuhi ruang yang kosong. Biasanya air tersebut langsung dituangkan ke gelas gelas kecil. untuk menghindari tekonya terlalu penuh. Masalahnya, kapasitas tekonya segitu segitu saja. Tekonya tidak berubah. Sampai tiba masanya aliran air tersebut dituang ke teko terus menerus, memenuhi teko dengan kecepatan dan volume yang tak terbayangkan, tanpa ampun.

Kapasitas teko segitu-segitu saja. Aliran airnya berubah lebih besar. Teko tak kuat menampungnya.

Airnya tumpah ruah. Tumpah dengan berbagai kesedihan. Berbagai kekecewaan. Kepada banyak hal. Kepada banyak orang. Yang lebih menyebalkan, kepada diri sendiri. Kamu pernah menangis? Saya pernah. Setiap malam dalam sebulan penuh.

Diputuskanlah corong yang biasa digunakan untuk mengalirkan air untuk ditutup. Demi menahan kebocorannya lebih besar. Khawatir merugikan orang lain. Membuat orang lain terpeleset. Lalu karena banyak hal yang menyedihkan dan mengecewakan yang terjadi, pemahaman pemahaman selama ini dianggap kadaluarsa? Lalu menyerah dan menganggap hidup ini menyedihkan dan mengecewakan semua? Beruntung pernah diajarkan keras kepala, untuk tidak pernah menyerah.

Tapi mungkin itu yang dikatakan para psikolog untuk tidak membuat keputusan dalam keadaan sedih dan kecewa. Karena keputusannya akan menjadi konyol. Padahal, ada keputusan yang lebih baik yang bisa dibuat dibandingkan menutup corongnya, ternyata.

Perbesar tekonya. Perbesar kapasitasnya. Juga menambah ruang pemahaman di tekonya, bahwa its okay that life is not always good. Its okay that people not always good. Juga tentu saja, its okay that you ever make mistake. Selama kita belajar darinya. Selama kita tidak mengulanginya.

Banyak kesedihan dan kekecewaan ini mengubah banyak hal. Mengubah gw. Tapi satu hal yang begitu disyukuri, di tengah banyak kekecewaan dan kesedihan, gw masih punya iman.

Allah masih sayang kepada gw, selalu. 

Ada dua orang yang setiap gw mendengar ceritanya dan gw tatap matanya, selalu membuat gw bergumam dalam hati. Mengingatkan diri sendiri. Kalau kata Queen Elsa,  Be a good girl you always have to be, Tut. They always do the same thing.


Setelah ini, hidup bisa berjalan baik baik saja ataupun tidak. Orang bisa bersikap baik ataupun tidak. Tapi seperti pemilihan Capres-Cawapres, kita selalu bisa memilih bukan? Untuk berada di sudut yang mana. Untuk bertahan di pemahaman yang mana.

Baiklah. Mari menulis lagi. Dengan pemahaman lama, tapi dengan pengetahuan baru. Bahwa kau selalu bisa mengubah tekonya, memperbesar kapasitasnya, dan memodifikasi bentuknya. Tentu saja tidak mudah. Ayat Al-Quran sebelah mana yang menjanjikan hidup ini selalu indah, Tut? Mungkin fakta ini yang kamu lupakan.
Bro, gw udah baca buku Amelia. Inti ceritanya, tentang anak bungsu yang paling kuat. Anak bungsu paling tangguh di keluarganya, untuk tetap mengambil hikmah dan bertahan dengan pemahaman-pemahaman yang baik. Bahkan di saat semua tiba tiba tampak  gelap untuknya.

Selasa, 04 Februari 2014

Sedih.

Tapi mau bagaimana lagi.
Posted on by Annisa Dwi Astuti | 2 comments

Jumat, 31 Januari 2014

Rabu, 29 Januari 2014

Telkomsel Mengajar untuk Indonesia

Bersama 24 pengajar lainnya, sepanjang tahun 2014 ini gw terikat kontrak dengan program Telkomsel Mengajar untuk Indonesia (selanjutnya, hanya akan gw sebut Telkomsel Mengajar saja). Program Telkomsel Mengajar ini merupakan program kerjasama antara CSR Telkomsel, Partner in Learning Microsoft, dan Sampoerna University.

Pengajar Telkomsel Mengajar

Pesatnya perkembangan teknologi di masa ini menjadi latar belakang dari adanya program ini. Pertumbuhan teknologi yang begitu cepat membuat kita tidak dapat memungkiri bahwa generasi saat ini dan mendatang adalah generasi yang akrab dengan teknologi. Contohnya? Anak baru lahir saja sudah terpapar dengan jepretan kamera yang kemudian oleh ayah atau keluarganya langsung diunduh di media sosial seperti twitter, facebook, ataupun path (ini lucu juga ya contohnya ._.)

Dengan begitu banyak manfaat yang dihadirkan dari perkembangan teknologi, kita juga tidak dapat menutup mata bahwa ancaman yang dihadirkan teknologi pun bisa membahayakan. Gw suka sama istilah teknologi sejatinya seperti dua mata pisau. Kalau pisaunya ada di tangan chef, bisa menghasilkan karya makanan yang luar biasa ueenak. Kalau pisaunya jatuh di tangan batita? Hmm. Ada juga ibunya teriak teriak panik sendiri.

Contoh sederhana dari ancaman teknologi yang bisa saja terjadi adalah pemanfaatan teknologi yang dominan digunakan untuk bermain, sedangkan di sisi lain begitu banyak manfaat teknologi yang bisa digunakan untuk belajar. Ancaman lainnya adalah kesenjangan digital. Dalam konteks di sekolah, kesenjangan digital ini terjadi antara guru dan murid. Kita gak bisa pura-pura gak tau kalau saat ini, dalam penggunaan teknologi, muridnya bahkan bisa lebih jagoan daripada gurunya. Fungsi guru yang saat ini telah bergeser dari pusat semua ilmu pengetahuan menjadi fasilitator anak untuk membangun pengetahuannya sendiri mengalami kendala karena kesenjangan digital ini. Self esteem guru menurun karena begitu banyak hal yang dikuasai muridnya dibandingkan gurunya. Akhirnya? Fungsi kontrol dan pengawasannya melemah. Ada juga ancaman yang kadang tak terdeteksi tapi akan berdampak hebat di kemudian hari, plagiarisme. Kalau boleh meminjam istilah dari salah satu perwakilan Partner in Learning Microsoft saat memberikan kata sambutan pada pembukaan program, kebiasaan plagiarisme, mengkopi karya orang lain, sama saja membiasakan anak Indonesia menjahit pola yang sama. Ketika kebiasaan menjahit pola yang sama begitu melenakan, anak akan kesulitan membuat sendiri pola yang baru. Dampaknya? Indonesia akan kekurangan pemikiran inovatif, khusunya dalam pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu, apa yang harus dilakukan? 25 pengajar pada program ini diturunkan untuk memfasilitasi pengenalan pendidikan berbasis teknologi di sekolah-sekolah di Indonesia, menyentuh guru dan murid. Mulai dari pengenalan, pemanfaatan, dan pengoptimalan teknologi di bidang pendidikan. Harapannya, setelah program ini berlangsung, statistik mengenai penggunaan pisau oleh para chef bisa meningkat.

Dua puluh lima pengajar Telkomsel Mengajar merupakan perwakilan dari 12 kota di Indonesia, yaitu Medan, Padang, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Samarinda, Makassar, Bali, dan Ambon. Tiap kota diwakili 2-3 orang pengajar. Gw bersama Icha (Psikologi UI) dan Adlin (Bioproses UI) dipilih sebagai perwakilan Ibukota Jakarta. Tiap-tiap pengajar di tiap kotanya memiliki tugas untuk melakukan proses pengajaran di 4 sekolah (2 SD dan 2 SMP Negeri) sebanyak 6 kali di tiap-tiap sekolah. Target sasaran dari program ini adalah siswa dan guru. Program ini memiliki silabusnya sendiri. Akan tetapi, pengajar diberikan kebebasan untuk merancang RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) disesuaikan dengan kebutuhan sekolah, mengingat tingkat pemahaman tiap sekolah mengenai pemanfaatan teknologi berbeda-beda.

Sebelum program ini berlangsung, selama lima hari pada tanggal 13-17 Januari lalu, kami ber-25 dipertemukan dalam training di Jakarta. Kami tinggal di Hotel Bidakara, Jakarta dan menjalani training di Sampoerna University. Training dilakukan seharian penuh. Kami biasa berangkat dari hotel pukul 08.00 dan tiba kembali di hotel pada pukul 21.30. Kalau kata teman gw perwakilan dari Bali, “Kita sudah seperti Putri Indonesia saja ya dikarantina?” Haha, benar juga.

Training Telkomsel Mengajar

Belajar banyak selama training kemarin. Dari segi materinya, udah kayak memperdalam mata kuliah Psikologi Pendidikan Terkini gw, haha. Terus salah satu fasilitatornya adalah seorang affective educational psychologist. Lulusan S2 Profesi Psikologi UI. Untuk gw yang apa-apa urusannya pake hati, nyambung banget lah pas ngobrol sama si Ibu. Sepakat bahwa manusia, besar karena rasa nya. Salah satu yang penting lagi, materi-materinya membuat level kegagapan teknologi gw berkurang jauh lah, hehe. Iya. Openness to experience gw untuk makanan dan teknologi agak rendah. Jadilah training ini membuka banyak pemahaman baru untuk gw.

Selain dari materi, juga dari teman-temannya. Seneng banget berkesempatan bersinggungan dengan teman-teman lintas universitas dan lintas daerah di Indonesia. Keseruan lainnya adalah, selama seminggu ngedengerin logat dan bahasa daerah yang super macem-macem. Gak tau kenapa, buat gw, enak banget dengernya :’)

Teman baru, lingkaran baru :)

Ngeliat sendiri bahwa benar, Jakarta, menjadi kota yang diidam-idamkan oleh beberapa teman di luar Jakarta dan luar Pulau Jawa. Beberapa teman pengajar mengaku bahwa ini kali pertama mereka menjejakkan kaki di Ibukota Jakarta. Sayangnya, kedatangan mereka disambut banjir tahunan di Januari. Sisi lain dari kota metropolitan yang mereka kenal di tv-tv.

Terus ngerasa tersentil juga dengan percakapan seorang kawan perwakilan Yogyakarta.
Kawan : Mba Tuti, bener ya kata orang, kalau tinggal di Jakarta harus bisa bertahan. Cuma yang beneran berjuang ya yang bisa bertahan.

Gw : Hehe.. iyaa. Kenapa gitu?
Kawan : Ini tiap jam 08.00 kita udah berangkat terus baru pulang lagi malem. Seharian kegiatannya penuh. Belum harus berangkat pagi buat menghindari macet dan banjir. Badanku remuk toh, Mba. Aku gak mau tinggal di Jakarta.
Gw cuma bisa tersenyum mendengarnya. Detik selanjutnya gw merasa beruntung, pernah dibiasakan dengan ritme hidup kayak gini. Tanpa tahu bahwa minggu depan, gw melihat sendiri ritme hidup yang berlipat lipat lebih gila dari Jakarta.

Pernah satu malam di antara malam malam pasca training, malam itu tidak ada tugas. Setelah makan, mandi dengan air hangat, menyetrika baju untuk besok, gw bergelung di kasur super empuk dengan selimut, dengan tangan memegang remote tv dan memindah-mindah channel dari National Geographic, HBO, dan channel channel tv kabel lainnya. Mendadak iseng-iseng ngeliat sekeliling. Gw benar-benar merasa seperti putri.

Ini kali pertama gw menginap, cukup lama, di hotel bintang 4 dengan segala fasilitasnya. Sarapan dan makan malam super mewah, fasilitas kamar yang memanjakan, dan pemandangan luar kota Jakarta dari ketinggian yang sama sekali tidak menggambarkan bahwa ada musibah banjir di beberapa sudut kotanya.

Tempat sarapan selama training

Tetiba merinding sendiri. Ingat kalau ini Januari.

Januari tahun ini dan januari tahun lalu. Judulnya sama-sama ‘mengajar’, tapi bentuknya di dua kutub yang ujung-ujungan.

Januari tahun lalu, gw dituntut untuk bisa memfasilitasi anak untuk belajar dengan sumberdaya seadanya. Semua barang sejauh mata memandang disulap menjadi bahan ajar. Mulai dari kertas bekas yang dimanfaatkan jadi bentuk-bentuk binatang untuk tokoh dongeng, bola voli yang digunakan untuk saling melempar di sesi tanya jawab, sampai gagang sapu yang digunakan sebagai bambu runcing saat drama perang melawan Belanda. Januari tahun ini, gw hanya membawa tiga amunisi, laptop, modem, dan LCD, untuk memberikan pemahaman kepada anak, bahwa ia bisa menggenggam dunianya.

Januari 2013, persiapan drama perlawanan penjajahan Belanda bersama anak-anak

Januari tahun lalu, inget banget makan selalu dengan lauk pauk seadanya, Tiap hari selalu ada unsur jagung dan mie instant. Telur, tahu, dan tempe yang dianggap makanan anak kostan paling sederhana saja jarang ditemui. Sering banget makan rebung dan sayur yang bahkan gak gw ketahui namanya. Oh iya! Makan ikan dan belut hasil tangkapan anak-anak. Makan daging, kalau gw tidak salah ingat, hanya dua kali dalam kurun waktu 23 hari itu. Januari tahun ini?  Gw makan tiga kali sehari dengan komposisi 4 sehat 5 sempurna. Selalu ada daging di setiap lauknya. Belum ditambah dua kali coffee break menjelang makan siang dan makan malam. Bahkan jadwal makan hadir ketika kita belum benar-benar lapar. Training ini seolah ingin menyampaikan pesan bahwa hanya fokus dan konsentrasi kami yang dibutuhkan di sini tanpa harus khawatir urusan perut.

Januari tahun lalu, gw tidur di rumah Ibu dan Bapak. Sebuah rumah panggung sederhana yang berbaik hati menampung gw selama 23 hari. Ketika gw tidur di atas rumah, sejatinya gw tidur bersama sama dengan bebek dan ayam yang tidur di bawah rumah panggung, melindungi diri dari hujan. Alarm gw adalah suara ayam dan bebek yang bangun lebih dulu dibandingkan gw. Pernah suatu hari handphone gw jatuh dari atas rumah melalui celah-celah tembikar yang menjadi alas rumah. Tangan gw yang gw turunkan ke bawah rumah harus berkelahi bersama moncong bebek yang berhasrat untuk mengambil handphone gw. Sory Bek, gw yang menang! Haha. Januari ini? Gw tidur di kasur super besar dan super empuk. Berselimutkan empat lapis kain untuk melawan AC hotel yang super dingin. Kedinginan? Air hangat tersedia untuk mandi dan menyeduh teh.

Bersama Bapak, Ibu, Sahda, dan Murti, di depan rumah panggung kami

Januari tahun lalu, Ibu menemani gw yang sedang memerika PR anak-anak ditemani dengan lampu tempel remang-remang dan film Brama Kumbara. Ah, andai ibu tau, bahwa Januari tahun ini, tipa malam aku menonton tv kabel, Bu. Banyak film tentang masak memasak yang mungkin ibu suka.

Urusan januari  tahun lalu dan januari tahun ini mendadak mengganggu. Membuat gw tidak nyaman.

Baca berita di koran dan diskusi dengan teman urusan kesenjangan, kayaknya paham betul di kepala. Teorinya mantep bener. Bikin essay tentang urusan ini jago banget deh kayaknya. Tapi, ngerasain sendiri berada di dua kutub yang saling ujung-ujungan, beda perkara. Ngerasain gap yang jauh banget bikin mikir, posisi gw di mana? Apa yang bisa gw lakukan untuk memperpendek gap nya?

Gerakan UI Mengajar, K2N Tematik, Children of Heaven, Terminal Hujan, dan Telkomsel Mengajar, masih menguatkan sebuah pemahaman. Belajar mengajar, tidak melulu urusan gedung dan seragam sekolah. Buku Sekolah Rimba pun menyederhanakan banyak pertanyaan. Tentang pendidikan, sejatinya membantu individu menghadapi tekanan perubahan.

Di saat beberapa teman-teman Psikologi Pendidikan sudah memantapkan hati apa yang mau diperjuangkan, ada yang mau jadi konselor sekolah,  ada yang mau jadi psikolog sekolah, ada yang mau bikin sekolah, ada yang mau terlibat di penyusunan kurikulum di Indonesia, gw masih sesederhana mau mengajar. Gw masih mencari apa esensi mengajar, bagaimana sebenarnya mengajar yang baik, sistem yang baik, kurikulum yang baik, dan tentu saja yang paling penting, bagaimana cara mengusahakannya dan memastikan bahwa hal tersebut tepat guna.

Gak nyaman senndiri ketika sadar belum punya sikap untuk ini semua. Masih pengen mencari. Masih ingin belajar. Mungkin benar kata seorang teman,
Cuman kalau masalah perasaan yang miris lihat kesenjangan itu, cukup pikir bahwa Allah Maha Adil dan bakal jaga keseimbangan dunia deh. Saat ini sih belum punya sikap tut. Tapi gw yakin deh orang yang yang pernah di dua ujung pasti ada waktunya juga buat bersikap.
Tapi sampai kapan? Semoga dalam waktu dekat.
Nah, itu maksudnya tut, kumpulin amunisi, susun bom sama dinamitnya di tempat yang pas, terus pencet detonatornya, haha.
Susah ye diskusi sama anak teknik, mainnya pake istilah detonator, haha.

Semoga atas banyak fasilitas dan kemewahan untuk urusan ini, niatnya masih tetap buat Allah aja. Aamiin.

Kerja besar, dimulai lagi.

Selasa, 28 Januari 2014

Bersisian

Iya. Gw suka dengan kata bersisian.

Mungkin karena bersisian punya arah yang sama. Yang seberbeda apapun kecepatan langkahnya, walaupun ada kemungkinan saling menjauh, tapi juga ada kemungkinan saling berpotongan.

Mungkin juga karena itu yang sering kulakukan denganmu. Kita benci berhadapan. Benci saling menatap mata. Untuk banyak kesemobongan, kita terlalu malas untuk menunjukan kelemahan. Duduk bersisian selalu terasa lebih menyenangkan. Menatap jauh ke depan saling menguatkan. Memaksa bahu tetap tegak tanpa sandaran. 

Mungkin itu juga yang menjadi satu-satunya penghiburan. Pembenaran bahwa kita tetap dekat. Tapa jarak. Di saat selain urusan keberadaan, sisanya sungguh berjarak ribuan mil jauhnya.