Sabtu, 20 Desember 2014

Trust

Isu trust belakangan menjadi salah satu isu yang menguras energi gw. Sekarang, gw cukup pilih pilih untuk menceritakan apa kepada siapa. Urusan ini juga yang pernah menjadi salah satu alasan mengapa gw menutup blog ini dan sempat menarik diri cukup lama dari beberapa media sosial. Karena satu dan lain kejadian yang terjadi beberapa waktu belakangan ini, gw gak bisa percaya ke semua orang saat ini.

Tapi pelan-pelan. Gw mulai berdamai dengan urusan ini. Pelan pelan, gw mulai belajar untuk percaya lagi. Untuk cerita banyak hal lagi. Lewat orang orang ini :)


Ya. Trust gak pernah bisa dibuat, tetapi dilahirkan.

Maaf, Posesif

"Dia boleh baik ke semua laki laki. Dia boleh ramah ke semua laki laki. Dia juga boleh memberikan harapan ke banyak laki laki. Tapi salah satu laki laki itu, bukan sahabat gw."
Di ujung kalimat ini, gw membanting hp ke atas kasur. Menangis sejadi jadinya.

***

"Kalau lw ada di depan muka gw sekarang, gw tampar juga lw. Biar sakit lw pindah ke pipi aja. Hati lw gak usah sakit lagi"
Gw menarik nafas. Menahan untuk tidak ada yang tumpah.


***

Kalimatnya beda. Tapi polanya sama. Sama sama kalimat putus asa menghadapi sahabat sahabat yang keras kepala. 

Maaf, posesif. Gw cuma gak mau kalian kecewa lagi. 

Yang Paling Kita Sayangi

Kalau kata Mip,
"Emang iya ya, Teh. Sebaik baiknya memberi itu, memberikan apa yang paling kita sayangi kepada orang lain."
Ya. Memberikan yang paling kita sayangi, kepada orang lain.

Senin, 15 Desember 2014

Ciyee...

Belakangan, karena satu dan lain hal, ada beberapa orang yang men-ciyee-ciyee-kan gw dengan orang lain. Lalu dengan lugas gw katakan :
Boleh gak mulai sekarang gak ciye-ciye-in gw dengan siapapun? Sesungguhnya ciye itu dekat dengan berharap. Berharap itu dengan dengan kecewa. Dan kecewa itu sungguh dekat dengan kesedihan.
Ayolah. Gw gak punya banyak waktu untuk sedih sedihan saat ini. Lebih penting lagi, gw gak mau jatuh berkali kali. Di tempat yang sama. Dengan alasan yang sama.

Jadi, semoga mengerti ya :)

Make My Day

Hari ini seharian di depan laptop. Ke kampus ngumpulin tugas UAS, lalu kemudian kembali ke kamar lagi. Ke depan laptop. Keluar beli sarapan dan makan siang. Laku kemudian kembali ke kamar. ke depan latop. Sampai malam ini. 

Terus sambil ngetik ngetik ksenyum senyum sendiri. Menemukan counter attack buat pemikiran sendiri di postingan sebelumnya.

Ya. gw gak butuh teman yang mengakui gw di depan orang orang. Gw gak butuh teman yang mempublish gw di berbagai sosial medianya. Belakangan, sosial media kadang membuat semua terasa palsu dan hambar, Tuntutan mempublish sesuatu yang istimewa atau menunjukan kedekatan dengan orang yang dianggap istimewa, sesungguhnya tak sehangat aslinya. Tawar nyatanya. 

Tapi yang gw butuhkan, teman teman yang ada ketika gw butuh. Dan tau cara memperlakukan gw sesuai kebutuhan. Sesuai kadarnya.

Dan gw punya mereka. yang belakangan make my day cuma lewat obroolan di line.

Yang bisa bikin gw nangis karena dua hal : saking nyebelinnya dan saking perhatiannya. 

Rabu, 03 Desember 2014

Penghiburan Diri Terbaik

"Aku kok ngerasa dia gak respect the way you are ya, Tut. Kelihatannya tuh yang usaha lebih dalam pertemanan kalian itu cuma kamu, dia enggak"
Ada dua masalah dalam kalimat ini.

Pertama, kontennya. Kenapa kontennya harus... sebuah kalimat yang mungkin benar adanya, tapi gak pernah mau gw akui. Kedua, orang yang menyampaikan. Kenapa harus orang yang cukup signifikan buat gw.

Tiba-tiba gw diem. Gak bisa jawab apa apa. Sampai akhirnya gw jawab,
"Tuti cuma mau terus berbuat baik aja. Kita harus terus berbuat baik sama orang lain kan? Mungkin Tuti udah gak peduli urusan timbal balik, mungkin..."
Kalau diinget inget, getir juga gw jawabnya. Patah-patah jawabnya. Suara pelan. Sambil menunduk.

Atas jatuh bangun yang cukup bikin keras hati belakangan ini, ternyata masih ada sisi naif dalam diri gw.  Cuma pengen berbuat baik. Cuma pengen jadi orang baik. 

Entah ini naif. Atau ini penghiburan diri terbaik yang bisa gw lakukan. 

Minggu, 16 November 2014

Hujannya Berhenti

Saat gw menuliskan postingan ini, gw sedang berada di kamar kostan. Depok sedang turun hujan. Seperti biasa, hujan di depok selalu tidak santai jika dibandingkan dengan hujan di Bogor. Tiba tiba datang dengan volume yang besar dan petir yang menyambar nyambar. Dalam kurun waktu satu jam, bisa- bisa berhenti. Berbeda dengan di Bogor. Hujan di Bogor datang pelan pelan, tapi tak kunjung pergi dan bisa seharian. Walaupun, saat ini pola hujan di Bogor pun sedikit banyak sudah berubah.

Seperti gw. Selama gw tidak menulis di sini, gw banyak berubah. 

Di penghujung semester semester akhir menjadi mahasiswa, gw memutuskan untuk pindah kamar kostan. Ya, hanya kamarnya saja. Kostannya tetap yang lama. Gw pindah ke lantai 2. Banyak pemandangan baru yang lebih menyenangkan dari kamar gw saat ini. Saat gw membuka pintu, saat gw menghadap ke depan, menoleh ke kanan, ataupun ke kiri, gw bisa langsung melihat langit. Begitu hangat ketika pagi hari karena sinar matahari. Begitu menyenangkan saat malam hari karena bintang di mana mana. 

Saat gw menuliskan paragraf ini, pelan pelan hujannya mulai berhenti. Persis di depan kamar gw terdapat pohon rambutan dan pohon jambu yang cukup besar. Tetesan sisa hujan dari dua pohon itu tampias ke teras kamar gw. Ya, sepertinya mulai hari ini gw tidak boleh meninggalkan sepatu di depan kamar. 

Minggu ini semoga masih akan baik baik saja. Besok gw dimintai tolong oleh Panitia Pemira (Pemilihan Raya) UI untuk menjadi salah satu panelis eksplorasi CakaBEM UI 2015 di Psikologi. Besok juga gw harus menyerahkan konsep pelatihan untuk IME (Ikatan Mahasiswa Elektro) UI yang akan diselenggarakan akhir bulan ini. Belum tugas kuliah yang tiap mata kuliah isinya laporan dan presentasi semua. Berkas Indonesia Mengajar yang meraung raung minta dicicil. Juga itinerary keberangkatan backpacker-an minggu ini yang belum selesai.

Hujannya berhenti. Saatnya melanjutkan semua tugas ini. Ya, minggu ini masih akan baik baik saja :)

Hujannya berhenti di luar. Dan harusnya juga berhenti di dalam.