Rabu, 20 Agustus 2014

My Heart and Mind

Udah lama gak nulis di sini. Bukan berarti gw berhenti menulis. Tulisan gw pecah di tiga tempat. Facebook, Line, dan Path. Yang ditulis di tiga tempat ini, biasanya bukan satu hal yang sama terus di-link di semua media sosial. Tulisannya beda beda. Kalau tulisannya berupa alur cerita yang cukup panjang dan ada fotonya, gw menuliskannya di Facebook. Kalau tulisannya agak pendek dan lebih didukung dengan ekspresi emosi stiker stiker, gw lebih menulis di Line. Kalau di Path? Kalau tulisannya cukup pendek dan kecepatan internet hp gw sedang dalam keadaan baik. Buat hp gw, upload sesuatu di Path butuh effort yang paling besar dibandingkan yang lain.

Kenapa tiga medsos itu yang lebh gw pilih untuk menulis dibandingkan blog ini belakangan? Asosiasi gw dengan blog adalah tulisan tulisan yang panjang. Lebih panjang dibandingkan Facebook. Sedangkan belakangan, sebisa mungkin sesedikit apapun tercetus keinginan untuk menulis, sesegra mungkin harus gw luapkan. Tiga media sosial itu memfasilitasi itu. Setelah urusan menutup blog beberapa bulan yang lalu, sekecil apapun niat untuk menulis, sebisa mungkin harus gw fasilitasi. 

Ya. Gw masih berdamai dengan diri gw sendiri agar tetap menulis.

Well, belakangan gw mengalami banyak hal. Beberapa di antaranya, really blow my heart and mind. Untuk banyak hal hal yang gak bisa gw deskripsikan apa rasanya, gw cuma bisa percaya. Allah selalu sayang kepada gw, dengan cara yang tidak pernah diduga duga :)

Jumat, 01 Agustus 2014

Jauh Lebih Berarti

Yaudah atuh. Kalau minggu bisa, kabarin aja ya. Kalau bisa ketemu kita ketemu dulu. Kalau enggak kita bahas via whatsapp. Soalnya kalau lw jadinya gak bisa berangkat ke Rinjani karena gawe, gw Ujhee gak mau ninggalin lw. Nanti aja kita reschedule lagi biar bareng-bareng.
Uuuuuuuuuuuh kalian so sweet banget sih. Gw mau atuh liburan bareng kalian. Kayak tahun baruan.
Gampang Dy, kita kan murah kalau liburan mah, haha. Yang penting first impression lw di tempat kerja oke dulu. Nanti kita reschedule lagi ke tempat tempat kece :D
Tempat kece tuh kemana ya? Hahahaha
Tempat-tempat yang bisa lw bikin videonya laaah. Yang bagus. Karjaw? Malang? Gili? Belitong? Tugas lw sekarang adalah... Nyatetin tanggal-tanggal yang bisa dipake cuti Dy, hahaha
Siaaaaaaaaap brooow
Gak ada yang benar-benar tahu sebenarnya seberapa berarti pendakian ke Rinjani ini buat gw. Tapi, berangkat bareng orang-orang ini, selalu menjadi jauh lebih berarti.  

Entahlah

Apa lu ngerasa berkorban selama ini?
Entahlah. Gw gak pernah ngerasa itung-itungan sama orang ini. Seneng aja melakukan banyak hal dengan dan untuk orang ini. Gak pake acara ngitung korban-korbanan.

Sabtu, 26 Juli 2014

Indah di Hati

Tut, rotinya kalau sisa, dibawa aja. Nanti kalau di jalan ketemu anak jalanan, dikasih aja.
Hah? Hmm. Oke. (membungkus roti dengan plastik)
...
Itu ada anak jalanan. Boleh dikasih?
Rotinya ada banyak kan? Kasih satu aja, Tut.
Oke.
(Dalam hati : Sebentar, kan rotinya ada banyak, kenapa coba cuma dikasih satu aja? Kasih semua aja kali ya)
 ... 
Udah, Tut?
Udah. Gw kasih semua ya.
Loh kok dikasih semua? Kan gue bilang satu aja.
Kan ada banyak. Kenapa gak dikasih semua aja? Kan gak dimakan juga sama kita.
Tut, nanti kan di jalan kalau ketemu anak jalanan lainnya bisa dikasih lagi. Ngasihnya secukupnya aja. Sesuai kebutuhan. Kalau satu anak dikasih satu, manfaatnya lebih banyak anak yang gak lapar dibandingkan satu anak dikasih semua.
Untung saja orang ini duduk membelakangi gw. Setidaknya, orang ini tidak perlu melihat muka gw yang sedang melongo mendengarkan penjelasannya.

....
Gue biasanya kalau lagi beli roti,  makanan atau minuman apapun, sekalian dua tut. Siapa tau di jalan ada anak jalanan yang bisa dikasih. Daripada ngasih uang yang belum jelas dipake buat apa, lebih baik ngasih makanan yang jelas akan dipake makan.
Sederhana sekali. Gw nyaris lupa bahwa berbagi bisa sesederhana ini. Untuk gw yang sering bergelut di dunia pengabdian masyarakat, jangan-jangan pemahaman gw mulai terkotak-kotak bahwa urusan berbagi, hanya eventual dan kontekstual.

***
Gak setiap hari Tut, ketika ada berlebih aja. Soalnya enak banget pas sensasi ngasih bukan duit ke orang yang ngebutuhin itu. Kalau makanan kan pasti langsung 'dipake' untuk makan...
Pernah gue makan pizza di Pejaten Village sendiri emang lagi hedon (gak boleh ditiru), trus ga abis banyak. Terus dibungkus aja dengan wondering ketika di jalan ketemu anak jalanan, atau pengamen, atau pemulung, terus bisa berbagi. Eh ternyata ada tiga anak kecil dan satu bapaknya lagi ngamen.  Sontak gue langsung nawarin sekorak pizza itu ke anaknya. Anaknya bilang, "Wah itu apa kak?", "Ini pizza", "Wah makasih banyak ya, Kak" trus ucapan makasih di-repeat sama adek adeknya dan bapaknya.Ucapan makasih itu indikasi bahwa mereka lagi butuh, dan gue seneng banget, terharu mata merah biasanya udah ngasih itu.  
Itulah sensasi yang gue pengen rasain sendiri tut, indah di hati. 
Untung saja percakapan in terjadi melalui Line. Setidaknya, orang ini tidak perlu mengetahui bahwa gw sedang tersenyum.

Selasa, 15 Juli 2014

Selasa, 08 Juli 2014

Selamat Bertugas!


Di salah satu sesi pelatihan hari ini, gw meminta setiap mentor untuk menulis surat. Surat untuk diri mereka sendiri di masa depan. Dirinya di H-1 PSAF. Di Bulan Agustus mendatang. Surat yang mungkin bisa menyemangati diri sendiri, meredam ketegangan, dan mengingatkan hal hal yang mungkin tenggelam ditengah segala persiapan. Surat yang akan dibaca oleh mereka sendiri, di H-1 pertemuan.


Senyum-senyum bacanya. Termasuk saat baca surat yang satu ini :
Halo (nama dirinya)...
Semua ini bukan tentang diri sendiri.Lebih dari itu, ini tentang orang lain.Ini tentang ikhtiar berpikir dan bertindak melampaui.Yang didorong oleh kepedulian.
Kau sudah merasakan sendiri menjadi orang baru itu sulit.Dengan medan yang tidak bisa diterka lubang-lubangnya.Yang perlu kau lakukan adalah membantu mereka.Agar lebih cepat dan tepat menemukan diri mereka.Hingga akhirnya mereka akan melakukan kebaikan kebaikan.Yang bahkan melampaui dirimu sendiri.
What a heartwarming letter :')

Selamat bertugas, mentor Kamaba Psikologi UI 2014!

Mentor Kamaba Psikologi UI 2014

Senin, 07 Juli 2014

Di Wajah, Juga Dalam Hati

Tembok itu membentang di sepanjang bibir pantai. Tak begitu tinggi. Hanya sebatas pinggang. Membuat gw yang hanya memliki tinggi 160-an cm bisa dengan mudah naik ke atasnya. Gw duduk di salah satu sisinya. Menantang apa-apa yang membentang di hadapan. Menantang angin yang tak jera menerjang apa saja yang ada di hadapannya.

Gw menendang-nendang tembok bagian bawah dengan tumit. Bergantian. Kanan-kiri. Kanan-kiri. Maju-mundur. Maju-mundur. Bak anak kecil yang sedang menunggu teman bermainnya di taman. Tepat di bawah telapak kaki, batu-batu besar tersususun membentuk karang. Pelan dihantam air laut yang malu-malu mencium permukaannya.

Sempurna. Tanpa matahari, perbatasan antara perairan dan daratan ini jauh lebih indah. Langit seolah terbalik. Bintang gemintang tumpah ruah di permukaan air. Berkerlap kerlip. Merah. Jingga. Bukan. Bukan bintang. Ternyata lampu-lampu pelabuhan di kejauhan. Lampu-lampu kapal yang tengah merapat di dermaga.

Iya. Pantai di sebelah utara daerah khusus ibukota ini memang lebih sempurna di kala malam. Warna lautnya seolah senada dengan hitamnya langit. Karena kalau bukan malam, pemandangannya tentu saja kontras bukan buatan. Tidak seperti pantai selatan di daerah Banten sebelumnya.

Malam itu sempurna. Sejauh mata memandang hanya hitam dan kerlap kerlip bintang. Kerlap kerlip lampu pelabuhan. Satu dua pesawat melintas. Tiga empat. Tidak. Sepuluh sebelas. Melintas dari utara ke selatan. Dari barat ke timur. Dari Pulau Kalimatan ke Pulau Jawa. Dari Cengkareng ke Adisucipto. Seseorang bilang begitu ketika melihat arah pesawat.

Mata gw menantang apa-apa yang ada di hadapan. Tersenyum. Menyenangkan. Melihat luas apa yang ada di hadapan. Mendengar suara pasang surut air laut yang menenangkan. Kalau boleh, gw lebih memilih untuk tidak pulang.

Tak ada yang bisa dibahasakan dengan baik di sini. Menatap. Mendengar. Diam. Jauh lebih berharga dari pembahasaan perasaan dalam bentuk apapun saat ini. Keindahan lukisannya jauh lebih dari cukup menjelaskan semuanya. Kesyukuran itu merangsek dalam. Pengertian itu datang seperti hujan. Begitu saja. Mengalir deras.

Tapi rasa ingin tahu tiba-tiba menyeruak. Sebuah pertanyaan memecah keheningan. Baiklah, satu kali ini saja gw bertanya. Sekali ini saja. Janji, kekaguman itu hanya akan di simpan dalam-dalam.
Kenapa lw bisa tahu semuanya? Kenapa lw bisa menjawab banyak pertanyaan?
Pertanyaan itu melesat tenang. Tanpa intonasi kekaguman. Juga tanpa intonasi menantang. Datar saja. Hanya sebuah keingintahuan.
Karena gue suka melakukan hal-hal baru, pergi ke tempat-tempat baru, dan bertemu orang-orang baru.
Sebuah jawaban melesat. Tidak ada pergerakan yang berarti. Semua tatapan masih lurus ke depan. Kadang sedikit menengadah ke langit. Kalau kalau ada pesawat lagi yang lewat. Menambah hitungan pesawat yang melintas.
Kenapa? 
Biar nanti saat sudah jadi ayah dan jadi kakek, gue punya banyak cerita yang bisa diceritakan ke anak-anak dan cucu gue.
Gw refleks menoleh ke arah sumber suara. Ke arah pemberi jawaban. Yang ditoleh bergeming. Tetap menatap lurus ke depan. Dengan tatapan yakin tentang salah satu rencana masa depannya. Mendongengkan banyak kisah kepada anak dan cucunya.

Gw tersenyum. Di wajah dan di dalam hati.

Manis sekali. Untuk sebuah kalimat yang diucapkan oleh seorang laki-laki.

Minggu, 06 Juli 2014

If You Could

Banyak rencana hidup gw yang sampai saat ini masih menjadi wacana. Salah satunya, menulis buku. Gw cuma bisa nyengir-nyengir kuda saat ada beberapa orang yang bertanya dan menyatakan,
"Kapan Tut nulis buku?"
"Kalau bukunya udah ada di toko buku bilang-bilang ya, Tut?"
"Teteh nanti aku mau ngasih komentar di belakang bukunya ya!"
Ide sudah begitu banyak dikumpulkan. Tapi ide mana yang mau dielaborasi masih begitu membingungkan. Tapi sepertinya kalimat di atas hanya alasan belaka. Tidak pe-de menggulung habis niat gw. Mungkin kondisi itu lebih tepat. Siapapun, tolong tampar gw.

Baiklah, mungkin karir menulis gw bisa dimulai dengan menjadi endorser buku orang lain. Dimulai menjadi penulis komentar di belakang buku teman sendiri yang telah lebih dulu menerbitkan buku. Beberapa bulan lalu Cynthia, teman gw semasa SMA, mencari orang untuk menjadi endorser novelnya yang ketiga. Tugas endorser adalah memberikan feedback berupa masukan, kritik, maupun saran terhadap draft buku sebelum buku tersebut diterbitkan. Gw mengajukan diri untuk menjadi salah satu endorsernya. Voila! Ternyata komentar gw dipilih oleh editor Cynthia untuk dicantumkan di bagian belakang bukunya. Jadi kalau ada yang beli bukunya Cynthia yang ketiga ini... ehm... nama pemberi komentar yang paling terakhir dicantumkan di belakang buku... ehm... mungkin namanya sama dengan penulis blog ini.

Bahahaha. Ampuni ke-norak-an temanmu yang satu ini, Cyn :P

Buku yang berjudul If You Could ini merupakan buku ketiga Cynthia setelah Stasiun dan Bumi. Buku ini bercerita tentang acceptance. Penerimaan. Yang kalau kata Cynthia, kadang tidak bisa sesederhana itu dilakukan. 


"Dan untuk kamu yang sedang berusaha memahami konsep menerima dalam bentuk yang sederhana, semoga buku ini bukan menjadi tumpukan kertas belaka" (Cynthia Febrina, 2014)
Gw belum baca buku Cynthia yang pertama. Tapi kalau boleh hanya membandingkannya dengan buku kedua, tidak begitu jauh berbeda. Dalam buku ini Cynthia mengangkat cerita yang dekat dengan kehidupan sehari hari. Kalau sebelumnya tentang persahabatan, kali ini tentang cinta. Satu hal yang gw suka kalau Cynthia menuliskan tentang cinta, cintanya gak menye menye gitu. Gak mengharu biru. Cynthia mengajak kita untuk melihat bahwa cinta, mampu tampak elegan apabila dibungkus dengan pemahaman yang baik. Cynthia juga, seperti di buku kedua, masih berani untuk mengangkat isu LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender) yang masih dianggap isu kontroversial di Indonesia. Jujur saja, gw sendiri masih belum berani menulis dengan mengangkat isu ini. Oia, satu lagi hal yang gw suka dari tulisannya Cynthia, by riset!

Untuk siapapun yang pernah atau sedang merasa tidak bisa menerima banyak hal yang terjadi, tidak bisa menerima kondisi orang lain, atau mungkin tidak bisa menerima kondisi dirimu sendiri, buku ini bisa jadi pilihan. Tidak ada nasihat nasihat bijak di sini, tidak ada saran saran psikologis di sini, tapi setidaknya, buku ini akan memberimu kebesaran hati. Bahwa kamu berhak sedih, kamu berhak kecewa, dan kamu berhak merasa lelah ketika harus memahami banyak hal, memahami  orang lain, bahkan memahami orang yang kamu sayangi sekalipun. Karena sejatinya, menerima tidak pernah mudah.