Rabu, 09 November 2011

Tentang Menyentuh dan di Balik Layar

Gw belum cerita tentang PDKM Opera 2011 ya? Berhubung gw berencana menjadikan kegiatan tersebut menjadi topik di jurnal gw yang selanjutnya, jadi gak  gw bahas dulu  disini ya :D Intinya, salah satu rangkaian kegiatan PDKM Opera adalah pemberian tugas untuk mewawancarai influential and inspirational leader. Berikut adalah hasil wawancara gw. Check this out! :D 
***

Tugas Wawancara PDKM OPERA 2011
'Tentang Menyentuh dan di Balik Layar'

Nama  Narasumber : Shanti Nurfianti Andin
Tempat Wawancara : Sepanjang jalan dari Fakultas Psikologi UI-Tekomsel Centre di Jalan Raya
Margonda-Margo City-Depok Town Square-Kembali ke Fakultas Psikologi UI.
Hari, Tanggal Wawancara: Selasa, 8 November 2011
Waktu Wawancara : 13.30-16.00 WIB

Kosakata pemimpin memiliki begitu banyak definisi saat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pun memiliki kriteria masing-masing dalam proses penilaian sosok seperti apa yang layak menyandang gelar seorang pemimpin, begitu pula saya. Saat PJ Evaluasi PDKM OPERA 2011 memberikan tugas untuk mewawancarai pemimpin yang dianggap memiliki pengaruh besar dan menginspirasi orang-orang di sekitarnya, banyak nama yang langsung terpikir oleh saya yang kemungkinan bisa dijadikan alternatif narasumber untuk tugas kali ini.

Salah satu dari daftar nama alternatif narasumber tersebut adalah Teh Shanti Nurfianti Andin atau yang akrab disapa Teh Cune. Menurut saya, sebaik-baiknya pemimpin adalah pemimpin yang mampu membentuk pemimpin yang lebih baik di masa selanjutnya. Berdasarkan pengalaman yang saya rasakan dan informasi-informasi yang saya dapatkan dari berbagai sumber, selama perjalanan karir organisasinya, narasumber Seminar 2 PDKM OPERA 2011 ini memiliki andil besar dalam pembentukan pemimpin-pemimpin besar di masa selanjutnya  yang memiliki pengaruh postif yang besar pula bagi orang-orang di sekitarnya. Teh Cune tak jarang berada di balik layar pemimpin-pemimpin yang cukup berpengaruh untuk menyentuh mereka dengan nilai-nilai kehidupan dan kepemimpinan yang beberapa diantaranya diakui cukup mengakar bagi sebagian orang.

Namun, alasan dan pernyataan tersebut murni bersumber dari hasil pengalaman dan pemikiran saya sendiri. Oleh karenanya, untuk membuktikan asummsi yang saya buat tersebut, saya melakukan survey sederhana berupa tiga pertanyaan tentang Teh Cune yang saya ajukan kepada beberapa orang yang saya anggap pernah menjadi pemimpin-pemimpin besar yang cukup berpangaruh di masanya dan tempatnya masing-masing.


Pertanyaan pertama adalah penegasan apakah orang-orang yang saya ajukan pertanyaan tersebut pernah benar-benar merasa disentuh oleh Teh Cune. Dari beberapa orang yang saya ajukan pertanyaan melalui sms, semua orang yang membalas sms saya tersebut mengaku pernah disentuh oleh Teh Cune. Hal tersebut pun ditegaskan lagi oleh Kak Eki, pengurus BEM OPERA 2011, yang menyatakan saya tidak salah memilih narasumber ketika tahu yang saya wawancarai adalah Teh Cune. Hasil dari jawaban pertanyaan pertama dalam survey sederhana  itulah yang pada akhirnya membuat saya untuk memutuskan Teh Cune lah yang akan menjadi narasumber saya. Adapun jawaban pertanyaan kedua dan ketiga yang berupa pertanyaan tentang hal apa yang mengispirasi dari Teh Cune dan kesan terhadap Teh Cune menjadi pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan kepada mahasiswa S2 Profesi Fakultas Psikologi UI tersebut  untuk dikonfirmasi kebenarannya dalam proses wawancara.

Wawancara dilaksanakan secara fleksibel selama perjalanan dari Fakultas Psikologi UI-Telkomsel Centre di Jalan Raya Margonda-Margo City-Depok Town Square-kembali lagi ke Fakultas Psikologi UI. Sebelum masuk ke isi wawancara, berikut adalah pengalaman organisasi Teh Cune dari jenjang SMP sampai pengalaman di dunia kerja.


SMP (SMPN 1 Bogor)

1.      Sekretaris 1 OSIS SMPN 1 Bogor tahun 1999-2000
2.      Wakil Komandan Section Perkusi Drumband Bahana Swara Garuda 16 SMPN 1 Bogor

SMA (SMAN 1 Bogor)

1.      Subseksi Dana Sosial (Dansos)  OSIS SMAN 1 Bogor tahun  2002-2003
2.      Subseksi Observasi dan Pengembangan (Obsbang) OSIS SMAN 1 Bogor tahun  2003-2004
3.      Ketua Klub Fotografi SMAN 1 Bogor (Fokus)  tahun 2003-2004

Universitas (Fakultas Psikologi Universitas Indonesia)

1.  Ketua Bidang Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Organisasi (PSDMO) BEM  Fakultas Psikologi tahun 2008
2.   Pemain Euphonium Marching Band Madah Bahana Universitas Indonesia tahun 2010-2011
3.   Staff drill dan display merangkap staff perlap Marching Band Madah Bahana Universitas Indonesia tahun 2011-2012


Pengalaman Kerja

1.    Asisten dosen Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tahun 2011
2.    Fasilitator MPKT CML Universitas Indonesia tahun 2010
3.    HRD PT Alam Indomesin Utama tahun 2010
4.    Fasilitator OBM Universitas Indonesia tahun 2007-2011

Wawancara dimulai dari pernyataan seorang mahasiswa S2 Profesi Farmasi Universitas Indonesia 2011. Mahasiswi tersebut  pernah menjadi jajaran pengurus harian di OSIS SMA yang sama dengan Teh Cune  dan pernah menjadi pengurus SALAM UI.  Menurutnya (Marista, 2011) Teh Cune berani mengorbankan apa saja untuk sesuatu yang dia cintai. Beliau bisa bertahan dengan pilihannya dalam waktu yang luar biasa lama tanpa terpengarunh oleh omongan orang lain. Beliau merupakan tipe orang yang kalau sudah menemukan sesuatu yang dia sayang, akan gila-gilaan berjuang untuk sesuatu tersebut. Beliau pun merupakan sosok yang tegas, disiplin, cerdas, dewasa, heboh, kadang membuat segan sekaligus membuat kangen.

Pernyataan itu menstimulus  saya untuk mengajukan sebuah pertanyaan tentang apakah Teh Cune adalah seorang sosok yang mudah menyayangi orang lain. Beliau pun mengiyakan pernyataan tersebut. Beliau bercerita bahwa ia memang mudah menyayangi orang-orang disekitarnya tanpa perlu terikat sebuah kelembagaan terlebih dahulu. Lebih jauh lagi, Teh Cune bercerita tentang kosakata cinta. Beliau memamparkan bahwa baginya, cinta hanya diperuntukkan untuk sesuatu yang universal, seperti lembaga, tanah air, dan bukan partikular, seperti seseorang. Hal tersebut senada dengan pernyataan yang disampaikan oleh Teh Marista bahwa ketika beliau menyayangi sesuatu, ia bersedia memberi lebih untuk sesuatu yang ia sayangi itu. Itu mengapa jika istilah cinta digunakan untuk sesuatu yang partikular, bisa-bisa beliau memberikan sesuatu kepada hal yang partikular tersebut dengan kadar yang berlebihan.

Pernyataan selanjutnya berangkat dari jawaban yang diberikan oleh seorang mahasiswa S1 FMIPA Jurusan Fisika ITB.  Mahasiswa tersebut pernah menjadi Project Officer salah satu acara insidentil tersbesar pada masanya di SMA yang sama dengan Teh Cune. Selain sukses membawa acara tersebut berakhir dengan surplus Rp 12 juta, mahasiswa tersebut pun merupakan sosok yang cukup memiliki andil dalam pembentukan karakter seorang pemimpin yang saat ini menjabat sebagai Ketua Angkatan Fakultas Psikologi 2011. Menurutnya (Aufa, 2011) ia merasa disentuh oleh Teh Cune saat Teh Cune memberikan pandangannya untuk tetap mempertahankan jadwal kegiatan regenerasi yang terkesan templatis (hanya menikut tradisi) kalau ternyata hasilnya tetap bagus. Ketegasan Teh Cune pun merupakan salah satu hal yang paling menginspirasi dirinya.

Pernyataan tersebut membawa saya kepada pertanyaan bagaimana pandangan dan penyikapan Teh Cune tentang suatu tradisi yang berlaku turun temurun dalam suatu organisasi yang terkadang mampu memicu konflik internal dan eksternal. Secara singkat, Teh Cune menjawabnya dalam satu kalimat, kritis dalam taat. Menurutnya, alanakah baiknya ketika kita memasuki suatu organisasi yang memiliki tradisi yang memang sudah turun temurun, yang mungkin dianggap tidak sesuai zaman, kita ikuti saja terlebih dahulu. Ini yang dimaksud istilah taat dalam kalimat tersebut. Sambil mengikuti, di perjalanan, kita harus mencoba mengkritisi kembali apakah tradisi tersebut relevan atau tidak dengan kebutuhan saat ini. Kalau ternyata tidak relevan, bisa dikomunikasi kembali kepada pihak yang berwenang. Akan tetapi kalau masih relevan, mungkin memang tidak ada yang harus benar-benar diubah dari tradisi tersebut.

Wawancara dilanjutkan dengan mengambil pernyataan seseorang yang saat ini merupakan siswa kelas 3 SMA yang sama dengan Teh Cune. Siswa tersebut pernah menjabat sebagai Ketua Umum OSIS dan baru-baru ini terpilih sebagai salah satu perwakilan dari himpunan seluruh ketua OSIS se-Indonesia untuk membacakan teks Sumpah Pemuda di sebuah stasiun televisi swasta ternama pada tanggal 28 Oktober lalu. Menurutnya  (Ghilandy, 2011) ditengah kelembutannya sebagai seorang wanita, beliau mengajarkan keteguhan, ketegasan, ‘ketahanan bantingan’ dalam menghadapi berbagai masalah. Baginya secara pribadi, Teh Cune menggambarkan totalitas, intelektualitas, dan kesetiaan dalam satu paket.

Tegas dalam pernyataan yang dikemukakan Ghilandy memicu saya untuk menanyakan tentang definisi tegas dan korelasinya dengan ilmu psikologi yang berada di zona abu-abu yang penuh relatifitas. Secara gamblang, Teh Cune pun menceritakan tentang pengalamannya yang sempat tidak memiliki pegangan saat berada di tingkat akhir S1 nya yang kian hari semua yang dipelajari kian relatif. Teh Cune pun mengaku akhirnya beliau sendirilah yang membuat batas ketegasan sendiri untuk banyak hal.

Pertanyaan pun terus berlanjut. Selanjutnya bermula dari pernyataan seorang mahasiswi S1 Ilmu Gizi Institut Pertanian Bogor. Mahasiswi tersebut pernah menjadi sosok yang disegani, di SMA yang sama dengan Teh Cune, karena keteladanan bersikap dan kemampuan multitasking- nya  untuk mengambil beberapa tanggung jawab keorganisasian di waktu yang bersamaan dengan penuh totalitas. Menurutnya (Annisa Sophia, 2011) Teh Cune penuh dengan cerita menarik dan penyampaian yang luar biasa. Teh cune beraura, sorot matanya tajam, dan saat  berbicara membuat merinding.

Pernyataan tersebut pun senada dengan pengalaman yang saya rasakan selama mendapatkan materi dari Teh Cune. Cara penyampaiannya dalam memberikan materi mampu menjadi sesuatu yang terkadang sangat membekas bagi sebagian orang. Teh Cune pun berbagi beberapa rahasia tentang bagaimana beliau menyampaikan materi dihadapan audience.

1.     Harus sudah menguasai materi
2.     Harus mampu menguasai diri
3.     Harus mampu menguasai audience
4.  Saat akan menyampaikan materi, pemateri harus sudah dalam keadaan meninggalkan masalah apapun yang sedang dihadapi
5.    Jiwa dan badan benar-benar ada di tempat pemberiaan materi
6.    Menyampaikan dengan hati. Menurut beliau, apa-apa yang disampaikan dengan hati, sampainya ke hati juga.

Wawancara pun ditutup dengan pertanyaan pamungkas yang berasal dari pernyataan seseorang yang saat ini berstatus sebagai siswi kelas 3 SMA, masih di SMA yang sama dengan Teh Cune. Siswi yang dianggap sering menjadi tempat bersandar orang-orang disekitarnya tersebut  baru saja lengser dari jabatan nya di jajaran pengurus harian OSIS di SMA nya.  Menurutnya (Arin, 2011) terlalu banyak hal yang menginspirasinya dari sosok Teh Cune. Hal yang paling mengingspirasinya adalah  semangatnya. Memberi inspirasi dengan ‘menularkan’ dan dari cara memandang sesuatu. Baginya, Teh cune itu luar biasa dalam kesederhanaannya.

Dengan begitu banyak inspirasi yang sanggup diberikan oleh Teh Cune kepada orang lain, saya menjadi penasaran sendiri tentang apa sebenarnya prinsip hidup Teh Cune. Jujur, pada awalnya Teh Cune mengaku bahwa beliau tidak memiliki satu kalimat yang mampu menggambarkan tentang dasar dari tiap pilihan dan keputusan yang ia ambil dalam hidupnya. Sampai pada akhirnya, kalimat ‘Have Faith and Keep Fight’ dipilihnya untuk mewakili prinsip hidupnya.

Terlalu banyak insight yang saya dapatkan dalam proses wawancara ini. Dari sekian banyak insight tersebut, ada satu insight yang paling menggugah saya. Saya adalah salah satu dari sekian banyak pembaca dan penikmat tulisan-tulisan Teh Cune di dunia maya, baik blog maupun notes facebook. Wawancara ini seolah menegaskan bahwa Teh Cune konsisten atas apa-apa yang pernah beliau tulis sebelumnya. Beliau konsisten memegang nilai-nilai yang pernah ia tuliskan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain, sampai sekarang. Bagi saya pribadi, konsistensi tidak bisa benar-benar dimiliki oleh pemimpin dengan kecakapan dan kualitas yang tidak mumpuni. Alasan itu lah yang pada akhirnya menutup wawancara saya dengan Teh Cune dengan membawa kesimpulan bahwa, bagi saya, beliau merupakan sebanar-benarnya pemimpin, yang mampu memberi pengaruh postif dan menginspirasi orang-orang disekitarnya.

Saya pun secara langsung mendapatkan inspirasi dan pengaruh yang besar dari Teh Cune. Mungkin saya memang bukan pemimpin yang besar, besar dalam arti kata memiliki pengaruh yang kuat untuk orang-orang di sekitar saya. Akan tetapi, Teh Cune berjasa besar karena telah membesarkan hati saya. Membesarkan  hati saya untuk memulai dan bertahan sampai sekarang untuk tetap menulis, dalam kasus ini sebagai seorang blogger, demi menjadi sebaik-baiknya orang yang bisa bermanfaat bagi orang lain walau hanya melalui sebuah tulisan.

Minggu, 06 November 2011

Cemburu

Dan ternyata gw benar-benar punya seorang temen yang baiknya, sumpah, gak tanggung-tanggung.

Cemburu gw.
Karena terkadang gw gak bisa baik kayak gitu ke orang lain.
Seikhlas itu.
Sesederhana itu.

Kamis, 03 November 2011

Jeda

Jogging setengah lingkar dalam UI. Latihan fisik Gandewa. Pulang ke kostan buat mandi. Pergi ke PAL buat belanja kebutuhan diklat. Mampir ke kostan nyimpen barang belanjaan pribadi. Mampir ke kostan Ditha nyimpen kebutuhan diklat kelompok. Kembali ke Psiko. Makan gudeg+tempe bacem+telor+ es teh manis di Kancil. Ngobrol sama Murai di gedung H2. Ngobrol sama Kak  Atha untuk meminta izin atas pernyataanya yang pernah gw masukkan dalam jurnal gw. Minjem peralatan diklat ke Humus (Pecinta Alam FE) bareng Hari dan Gugum. Kembali ke Psiko nyimpen perlengkapan di SC. Pergi beli sepatu gurnung di Patagonia, Margonda. Kejebak hujan di Patagonia. Setelah reda, kembali ke Psiko. Izin telat PDKM, langsung berlari menuju shelter Bikun untuk menuju FT. Ketemu A'Fadlan di shelter FT. Janjian sama T'Tatan untuk minjem carrier di Kantek. Ceceritaan sama T'Tatan di shelter Bikun FT. Kembali ke Psiko dengan Bikun. Masuk ke Aula untuk mentoring + FGD PDKM. Setelahnya, memindahkan barang-barang di SC ke selasar. Nemenin Hari ke Kukel buat ngambil carrier dan telor. Persiapan packing di Akademos. Latihan membuat tenda. Rembukan angkatan. Finalisasi Packing. Memindahkan carrier ke SC. Pulang ke kostan.

Hari ini kerasa panjaaaaaaang banget buat gw. Waktu gak kerasa banget. Sama gak kerasanya sama kaki gw yang sebenarnya amat pegel karena gak berhenti mondar mandir hari ini.

Beruntung ada tiga jeda waktu yang membuat gw sempat meluruskan kaki. Kejebak hujan di Margonda sambil ceceritaan bareng Hari, baca surat cinta dari Kak Anil waktu sesi mentoring PDKM, dan sejenak mendengarkan cerita Murai di Akademos bada sholat Magrib.

Untuk jeda yang mengingatkan untuk berhenti sejanak, terima kasih :)

Logpenil/Jurnal 6/ Ruangan Kecil yang Membesarkan Banyak Orang

Tanpa sengaja, kemarin malam, setelah sekian lama akhirnya gw chat lagi sama Aufa. Chat  nyambi ngeblog dalam keadaan ngantuk berat. Obrolannya berat. Tapi  karena obrolannya yang berat  itulah bikin gw bisa ngetik dalam keadaan  merem melek setengah tidur. Obrolan ajaib yang selalu bisa bikin tangan gw secara otomatis menari-nari di atas laptop. Tentang OSIS dan SMANSA.
Gara-gara chat itulah akhirnya gw kebelet pengen pulang. Setelah survey harga angkot buat diklat Gandewa minggu ini dan setelah ngucek-ngucek cuci mata liat-liat harga sepatu gunung di Eiger, gw mampir ke SMANSA. 
Tujuan utamanya, menyiapkan mental melihat kondisi sekret gw. Dengan perasaan udah terlanjur sedih duluan, gw menuju ke sekret. Ternyata masih ada. Sekret gw masih ada. Tapi tetep aja ngerasa ada yang nyess ketika tahu ruangan itu sudah di nonfungsikan.
Tiba-tiba, saat gw lagi ngeliat-liat sekret lain yang sudah dirobohkan,  Haekal nyamperin gw. Ketua Umum OSIS Cakrawala 2011/2012. Dia baru beres rapat dan secara kebetulan melihat gw yang menuju ke arah sekret. 
Setelahnya, gw ngobrol-ngobrol sama Haekal. Lagi-lagi, ajaib (kapan sih OSIS gak ajaib?). Ini pertama kalinya gw kenal dan ngobrol personal sama Haekal. Tapi obrolannya? Udah kemana-mana gak jelas juntrungannya. Dan sepertinya Haekal menjadi saksi pertama dari OSIS Cakrawala yang mengetahui betapa cerewetnya gw :P
Seneng bisa ngobrol sama Haekal. Dan yang paling bikin gw nyess waktu ngobrol sama dia.
Gw : Kal, ditunggu ya cerita tentang Cakrawala dan SMANSA nya :D
Haekal : Iya, Teh. Ditunggu juga Cerita Hari Ini nya.
Terlepas dari tujuan sederhana gw bikin blog dulu, untuk membuat orang lain ikut seneng waktu gw  nulis cerita menyenangkan, dan bikin orang lain tidak mengulangi kesalahan yang gw buat waktu gw nulis tentang kekonyolan gw, gw pernah minta sama Allah untuk mewujudkan sebuah cita-cita  tentang blog ini.
Pengen banget blog gw bisa jadi tempat silaturahmi pengurus OSIS lintas angkatan.
*Kalau hamba menganggap doa hamba waktu itu pelan-pelan mulai terwujud, boleh khan, Ya Rabb? Terima kasih, untuk membiarkan hamba menganggap doa itu terkabul :)
Yap. Sekret gw mungkin sebentar lagi gak ada. Tapi kalau gw pulang, gw masih punya mereka di dalamnya sebagi tempat gw untuk singgah.
Dan jurnal kali ini, gw dedikasikan untuk sekret gw, yang kurang dari dua bulan lagi akan rata dengan tanah.
(Tinggal ) Sekret OSIS
***
Ruangan Kecil yang Membesarkan Banyak Orang
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, rumah memiliki definisi sebagai bangunan tempat tinggal. Adapun bagi diri saya sendiri, rumah memiliki definisi lebih luas lagi. Rumah tidak hanya memiliki definisi sebagai bangunan, tetapi juga sebagai sebaik-baiknya tempat untuk pulang. Pulang dari segala rutinitas kegiatan sehari-hari yang seolah tak ada habisnya, pulang dari segala rasa lelah dan penat atas berbagai masalah yang dihadapi, pulang untuk mencari kenyaman dari orang-orang tersayang yang biasa disebut dengan keluarga, dan pulang untuk mengisi semangat untuk melanjutkan hidup keesokan harinya.
Definisi yang cukup luas tersebut serta merta membuat saya seolah memiliki lebih dari satu rumah saat ini. Selain sebenar-benarnya rumah tempat saya tumbuh dan berkembang di tengah-tengah keluarga sederhana yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang kakak, ada pula sebuah bangunan yang telah saya anggap sebagi rumah kedua saya. Dengan definisi yang sama dengan sebelumnya, SMA saya, sebuah bangunan yang terletak di Jalan Juanda Nomor 16  Bogor, merupakan rumah kedua bagi saya bahkan sampai saya telah menjadi seorang mahasiswa saat ini.
Kembali ke gedung berlantai empat dengan luas lahan yang tidak terlalu besar ini, selalu berhasil membuat saya merasakan sensasi tersendiri. Nyaman. Itulah satu kata yang mungkin bisa menggambarkan perasaan saya setiap kali saya menjejakkan kaki  ke tempat ini. Apapun tujuan saya kembali pulang ke rumah ini, entah menemui adik-adik saya yang masih berjuang di tempat ini, entah hanya melepas rindu dengan tiap sudut bangunan yang memiliki kenangan tersendiri bagi saya, entah hanya sekedar mampir sebentar saat perjalanan pulang dari kampus sebelum benar-benar pulang ke rumah sesungguhnya, bagi saya, menyempatkan waktu menjejakkan kaki di rumah kedua ini tidak pernah menjadi sesuatu yang sia-sia. Di sini, selalu menyenangkan bagi saya untuk bisa menyapa dan  tersenyum pada orang-orang yang ada di dalamnya, baik yang saya kenal maupun tidak.
Rasa nyaman yang saya miliki dengan rumah kedua ini tidak serta merta terjadi begitu saja. Ada sebuah ruangan kecil di dalam rumah ini yang pernah menjadi awal bagi saya dan bagi beberapa orang yang pernah menjadi penghuni di dalamnya. Sebuah ruangan kecil berbentuk persegi panjang yang pernah saya huni secara resmi selama dua tahun. Ruangan yang pernah diisi dengan berbagai fenomena emosi kesenangan dan kesedihan, kenyamanan dan pertentangan,  yang pada akhirnya berimbas pada intensitas saya yang cukup tinggi untuk berada di SMA saya, intensitas yang cukup tinggi yang membuat saya menyempatkan diri untuk memikirkan SMA saya, dan intensitas yang cukup tinggi yang pada akhirnya membuat saya berani menyebutkan bahwa SMA saya adalah rumah kedua bagi saya.
Ruangan kecil ini terletak di sudut kanan belakang dari gedung utama SMA saya. Persis di belakang ruang kelas dan di depan mushola SMA saya. Plang di depan pintu masuk ruangan ini, yang saat ini sudah tidak ada lagi, bertuliskan Sekretariat OSIS SMAN 1 Bogor.
Layaknya OSIS di SMA-SMA pada umumnya yang memiliki ruangan sebagai pusat kegiatan kesiswaannya, Sekretariat OSIS yang akrab disapa sekret ini pun merupakan pusat kegiatan OSIS di SMA saya. Jika mau diamati lebih jauh, ada banyak hal unik yang dimiliki oleh ruangan kecil ini. Ketika saya berada di pintu masuk sekret, yang tentunya juga berukuran kecil pula, hanya pada waktu-waktu tertentu saya bisa melihat ruangan ini tertata rapih. Hal ini disebabkan karena sekret memiliki sebuah ciri khas. Ciri khas tersebut : selalu berantakan. Banyak hal yang mampu dengan mudahnya membuat ruangan kecil ini selalu tampat berantakan. Beberapa diantaranya, mulai dari banyaknya perlengkapan acara yang disimpan di ruangan ini, banyaknya tangan-tangan jahil yang tak bertanggung jawab yang mengambil barang sembarangan tanpa dikembalikan ke tempatnya, sampai banyaknya penghuni ruangan ini yang tidak jarang menitipkan barang pribadi miliknya. Bahkan tak jarang istilah ‘kalau gak berantakan bukan Sekret namanya’ dilontarkan oleh para penghuni di dalamnya. Adapun waktu-waktu tertentu dimana ruangan ini bisa terlihat rapih seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, hanya pada saat kesekretariatan dan bedahnya sangat rajin, sekret sudah tidak layak dihuni karena terlalu berantakan, dan masa-masa regenerasi di mana merapihkan sekret menjadi sebuah kompensasi untuk mengurangi seri. Anehnya, seberantakan apapun ruangan ini, penghuninya selalu betah berlama-lama di dalamnya sekalipun sebenarnya tidak ada tugas yang harus dilakukan di dalamnya. Betah untuk menertawakan dan menangisi banyak hal. Betah untuk menegrjakan banyak tugas dan mengerjai banyak orang. Anehnya lagi, walaupun hanya sepetak kecil ruangan tak ber-AC dan cenderung berdebu, ada saja orang yang berlama-lama menghabiskan waktunya di ruangan ini bahkan sejak sebelum bel sekolah berbunyi sampai gerbang sekolah akan ditutup di malam hari.
 Sekret tampak dalam
Setiap tahunnya, lebih tepatnya setiap berganti kepengurusan, pasti ada saja barang-barang dan inventaris sekret yang baru dan dibuang. Dari sekian banyak barang-barang yang datang dan pergi tersebut, ada dua barang yang bisa bertahan untuk tidak keluar dari ruangan ini. Dua barang tersebut adalah loker berwarna hitam milik Dewan Harian OSIS dan loker besar berwarna coklat yang dibagi menjadi sembilan kotak milik setiap sekbid yang ada di OSIS.
Sebagai satu-satunya organisasi resmi di dalam ruang lingkup sekolah yang diakui pemerintah, OSIS SMA saya pun tidak jauh berbeda dengan OSIS-OSIS SMA pada umumnya. OSIS SMA saya pun memiliki kepengurusan yang bersifat struktural dan fungsional. Dengan fungsi yang sama dan  istilah yang mungkin  berbeda dengan SMA-SMA pada umumnya, OSIS SMA saya memiliki delapan pengurus harian dan delapan seksi bidang yang masing-masing dikepalai ketua bidang (tiga tahun kebelakang berkembang menjadi sepuluh seksi bidang berdasarkan peraturan pemerintah). Pengurus Harian yang biasa disebut dengan Dewah Harian (DH) terdiri dari Ketua Umum, Ketua 1, Ketua 2, Sekretaris Umum, Sekretaris 1, Sekretaris 2, Bendahara Umum, dan Wakil Bendahara. Adapun delapan dewan harian tersebut membawahkan delapan seksi bidang yang masing-masing dikepalai oleh seorang Ketua Bidang (Kabid). Setiap seksi bidang memiliki konsentrasi pada bidang-bidang tertentu yang berbeda-beda. Secara berurutan dari sekbid satu sampai sekbid delapan, tiap tiapnya berkonsentrasi pada tema keagamaan, kemanusiaan, bela negara, budi pekerti luhur, kepemimpinan dan keorganisasian, kewirausahaan, olahraga, dan apresiasi seni (ditamabah sekbid sembilan dan sepuluh yang berkonsentrasi pada teknologi informasi dan hubungan internasional).
Loker hitam tersebut memiliki empat pintu dari atas ke bawah. Loker paling atas dimiliki oleh Ketua Umum, loker kedua dimiliki oleh Ketua 1 dan Ketua 2, loker ketiga dimiliki oleh Sekretaris Umum, Sekretaris 1, dan Sekretaris 2, serta loker paling bawah dimilkii oleh Bendahara Umum dan Wakil Bendahara. Adapun loker cokelat yang besar secara berurutan dari kiri ke kanan selanjutnya dari atas ke bawah, dimiliki oleh tiap-tiap sekbid secara berurutan dari sekbid satu sampai sekbid delapan. Loker-loker tersebut berisi arsip-asrip kepengurusan tiap DH dan sekbid, barang-barang yang dimiliki tiap sekbid untuk menjalankan prokernya, sampai barang-barang pribadi milik pengurus.
Loker itu disandarkan pada dinding yang penuh dengan gambar yang memenuhi ruangan ini. Jika mau melihat dinding secara keseluruhan, ada gambar-gambar yang tidak biasa yang terdapat di ruangan-ruangan OSIS pada umumnya. Gambar-gambar itulah yang mulai membedakan OSIS di SMA saya dengan OSIS-OSIS di beberapa SMA pada umumnya. OSIS di SMA saya, setiap angkatannya, memiliki nama yang berbeda. Tidak hanya nama yang berbeda, OSIS di setiap angkatan memiliki lambang dengan filosofinya masing-masing. Sebagian besar, nama, lambang, dan filosofi di dalamnya merepresentasikan visi dan misi dan identitas OSIS di setiap angkatannya. Secara berurutan dari OSIS yang baru saja akan dilantik sampai beberapa tahun sebelumnya, berikut nama-nama angkatan OSIS SMAN 1 Bogor : Cakrawala, Pionir, Avion (bahasa Perancis : Pesawat Terbang), Windmill (bahasa Inggris : Kincir Angin), Zeppelin (nama salah satu balon udara yang pernah melegenda), Phinisi (nama perahu asli Indonesia), Cakram, Busur Panah, Kemudi, Zandloper (jam pasir), Elemen, Lokomotif, Televisi, Roket, dan Telor Ceplok. Adapun angkatan sebelum OSIS Telor Ceplok, tiap angkatan OSIS nya belum memiliki nama angkatan. Hal tersebutlah yang membuat OSIS Telor Ceplok memberi nama OSIS nya demikian dengan filosofi sebagai angkatan pertama yang mendobrak pemberian nama angkatan.
Sekilas mata memandang, di dalam ruangan kecil berantakan, yang setiap hari Jumat dipaksa untuk sanggup memuat 60-70 orang, hanya dua loker dan gambar-gambar itu yang pada awalnya akan mampu menarik perhatian. Akan tetapi, jika mau melihat lebih jeli lagi, di setiap sudut ruangan, di dekat pintu masuk, di sudut kursi yang sudah reyot, di dalam loker-loker, terdapat banyak tanda tangan dengan nama pemiliknya serta jabatan dari orang-orang yang pernah menjadi penghuni di dalamnya.
Bertahun-tahun ruangan ini telah menjadi saksi kunci perubahan hidup banyak orang yang pernah menjadi penghuni di dalamnya, termasuk orang-orang yang membubuhkan tanda tangan di ruangan ini. Segala bentuk pemaknaan hidup difasilitasi di ruangan ini. Dengan cerita yang berbeda di setiap angkatannya, segala bentuk emosi pernah terjadi di dalam ruangan ini. Kesyukuran, kekecewaan, kekeaguman, kasih sayang, tangisan, tawa, empati, egoisme, peduli, apatis, dan cinta pernah terjadi dan dimulai dari sini. Secara ajaib, lagi, ruangan ini selalu bisa mempertemukan dan mengikat hati, baik antar  pemilik ruangan, maupun dengan orang-orang yang membubuhkan tanda tangannya di dalam ruangan ini, sejauh apapun jarak umur, tempat, dan perbedaan kepentingan yang dimiliki saat ini.  Sistem yang pernah mengikat penghuni yang pernah ada di dalamnya berimbas pada pemaknaan mendalam yang dimiliki oleh orang-orang yang pernah menjadi penghuninya.
·       OSIS SMAN 1 Bogor adalah sarana pendewasaan diri (Fiki Fitriyah/OSIS Cakram- OSIS Phinisi/ Mahasiswa IPB)
·       OSIS SMAN 1 Bogor adalah rumah gua, tempat gua pulang dan kembali (Rizki Fadilah/OSIS Avion-OSIS Pionir/ Siswa kelas 3 SMAN 1 Bogor)
·     OSIS SMAN 1 Bogor adalah organisasi kehidupan yang mengajarkan saya arti kekeluargaan, kekompakan, kerja keras, serta bekerja sama dengan orang-orang hebat di SMANSA (Atika Yasmin/OSIS Windmill/ Mahasiswa IPB)
·         OSIS SMAN 1 Bogor adalah jiwa saya. Jiwa yang akan selalu menjadi bahan bakar saya dalam mengarungi lautan kehidupan (Muhammad Ramadhani Ilham/OSIS Windmill-OSIS Avion/ Mahasiswa Psikologi UI)
·       OSIS SMAN 1 Bogor adalah salah satu media pembelajaran mengenai nilai-nilai kehidupan, membuat sesuatu yang absurd menjadi lebih konkret, dan membuat saya menyadari betapa saya harus bersyukur bisa menjadi bagian darinya (Bayu Rizki Putra Adithama/ OSIS Windmill-OSIS Avion/ Mahasiswa STT Telkom)
·         OSIS SMAN 1 Bogor adalah OSIS yang ajaib, beda dari yang lain, punya rasa kekeluargaan yang erat (Aldi Suandana/OSIS Windmill-OSISAvion)
·         OSIS SMAN 1 Bogor adalah tempat saya mengawali semuanya, sekaligus rumah untuk pulang (Miyahana Dwirahayu (OSIS Windmill-OSIS Avion/Mahasiswi FTI ITB)
·        OSIS SMAN 1 Bogor adalah anugerah dimana canda tawa bersama bahkan duka dan tangisan terjalin sebagai suatu proses pendewasaan diri (Arman Rafik/OSIS Busur Panah- OSIS Cakram/ Mahasiswa Komunikasi Unpad)
·       OSIS SMAN 1 Bogor adalah sekolah kehidupan. OSIS itu kekeluargaan (Ryan Fajar Febriyanto/OSIS Zeppelin-OSIS Windmill/ Mahasiswa Sosiologi UI)
·         OSIS SMAN 1 Bogor adalah tempatku belajar, berkembang, dan bersenang-senang (Dimash Narendra/ OSIS Zeppelin- OSIS Windmill/Mahasiswa Sistem Informasi UI)
·         OSIS SMAN 1 Bogor adalah organisasi yang tumbuh dan berkembang secara dinamis berdasarkan prinsip bahwa seluruh anggota adalah keluarga (Maulana Rizki/OSIS Zeppelin-OSIS Windmill/ Mahasiswa Teknik Sipil UNJ)
·         OSIS SMAN 1 Bogor adalah ladang amal kebaikan seorang pelajar SMAN 1 Bogor (Annisa Sophia/OSIS Zeppelin-OSISWindmill/Mahasiswi Ilmu Gizi IPB)
·       OSIS SMAN 1 Bogor adalah  kenangan manis yang paling dirindukan ketika kita menginjakkan kaki di SMANSA (Fauzia Ratna Furi/OSIS Zeppelin-OSIS Windmill/ Mahasiswi Admin Niaga UI)
·         OSIS SMAN 1 Bogor adalah organisasi yang berasal dari SMANSA, oleh SMANSA, dan untuk SMANSA yang satu (Widasari Ayu/OSIS Zeppelin-OSIS Windmill/Mahasiswa Ilmu Kelautan IPB)
·         OSIS SMAN 1 Bogor adalah organisasi yang membangun dan menempa karakter diri saya (Dewisa Apriliani/OSIS Busur Panah-OSIS Cakram/ Mahasiswa Psikologi Unpad)
·         OSIS SMAN 1 Bogor adalah cinta tiada akhir (Shanti Nurfianti Andin/OSIS Zandloper-OSIS Kemudi/ Mahasiswa S2 Profesi Psikologi UI)
·         OSIS SMAN 1 Bogor adalah tempat dimana saya menemukan passion, teman, sahabat, pengalaman, pelajaran, skill, masalah, solusi, dan rumah (Rizki Yuniarini/OSIS Phinisi-OSIS Zeppelin/ Mahasiswi Hubungan Internasional UI)
·         OSIS SMAN 1 Bogor adalah tempat belajar berbuat dan berbagi (Luthfia Maharani/OSIS Phinisi- OSIS Zeppelin/ Mahasisiwi Hukum Unpad)
·         OSIS SMAN 1 Bogor adalah organisasi yang tidak hanya organisasi, tetapi satu keluarga besar, dan yang paling utama, tidak pernah putus tali silaturahminya (Ainun Khiriyah Fadla/OSIS Windmill/ Mahasiswi Sistem Informasi STTTelkom)
·         OSIS SMAN 1 Bogor adalah tempat gue belajar banyak hal dari orang-orang hebat yang ada di dalamnya (Haonisa Shaumi/OSIS Phinisi/Mahasiswi Psikologi UI)
·         OSIS SMAN 1 Bogor adalah kesempatan bagi warga SMANSA untuk mengaktualisasikan potensi diri kita di bidang yang sangat beragam (Hanif Galih Pratama/OSIS Phinisi-OSIS Zeppelin/Mahasiswa ITS)
·         OSIS SMAN 1 Bogoradalah wadah pembinaan siswa/i SMA 1 dengan menetapkan tata konvensional namun mengembangkan pribadi siswa-siswa di dalamnya sehingga memiliki kematangan berpikir dan berprilaku yang lebih dari siswa/i lainnya (Tania Miranti/OSIS Phinisi-OSIS Zeppelin/Mahasiswi Arsitektur UI) 
·        OSIS SMAN 1 Bogoradalah tempat 'menyebarnya' nilai-nilai kepemimpinan, tempat memberi, membentuk pribadi yang peduli, dan di mana rasa 'chauvinisme' terhadap SMANSA itu tumbuh (Line Alfa Arina/OSIS Avion-OSIS Pionir-Siswa Kelas 3 SMAN 1 Bogor)
·        OSIS SMAN 1 Bogoradalah udah kayak rumah (Budiasti Wulansari/OSIS Windmill-OSIS Pionir/ Mahasisw Teknik Lingkungan UI)
·      OSIS SMAN 1 Bogoradalah keluarga yang penuh nilai kehidupan (Abdul Basith Hermanianto/OSIS Windmill/ Mahasiswa Ilmu Komputer IPB)
·         OSIS SMAN 1 Bogoradalah jalan hidup saya, karena di sini saya menemukan pengalaman, keluarga, dan jati diri saya (Hilmi Akhmad/OSIS Windmill-OSIS Avion/ Mahasiswa Manajemen UGM)
·         OSIS SMAN 1 Bogoradalah pelipur lara (Yasmine Nur Edwina/OSIS Windmill/ Mahasiswa Psikologi UI)
·       OSIS SMAN 1 Bogoradalah OSIS yang kompak dan kreatif (Amir Fauzi/ OSIS Avion/ Mahasiswa STEI ITB)
·        OSIS SMAN 1 Bogoradalah wadah untuk memperkaya pengalaman dan teman (Zahra Zahruniya/ OSIS Windmill/ Mahasiswi IPB)
·         OSIS SMAN 1 Bogor adalah tempat di mana banyak hal tidak terdapat di tempat lain, di mana kita masih bisa bekerja dengan tulus, jauh dari lingkungan oportunis seperti di kampus, dan tempat yang bisa membentuk karakter dengan kuat sehingga kita siap untuk menghadapi fase hidup selanjutnya (Marista Gilang Maulida/OSIS Busur Panah-OSIS Cakram/ Mahasiswa S2 Profesi Farmasi UI)
·         OSIS SMAN 1 Bogor adalah ... *speechless* (Reza Primawan Hudrita/OSIS Cakram/ Mahasiswa SAPPK ITB)
Kami pernah menjadi penghuni Sekret
Dengan alasan pembangunan, kurang dari dua bulan lagi ruangan ini akan dirobohkan. Imbasnya, saat ini sekret sudah tidak difungsikan lagi sebagai puat kegiatan pengurus OSIS. Secara fisik, ruangan ini akan hilang dari pandangan. Loker-loker akan dipindahkan ke tempat lain, tanda tangan  dan gambar-gambar di dinding ruangan ini akan turut lenyap dengan diratakannya ruangan ini dengan tanah.
Akan tetapi, seperti keajaiban-keajaiban yang pernah diciptakan sebelumnya, entah bagaimana caranya, saya percaya  ruangan yang sebentar lagi tak memiliki wujud fisik ini akan tetap melahirkan orang-orang besar yang  selalu bisa menjadi terang bagi sekitarnya. Orang-orang yang besar jiwanya untuk tidak berhenti berjuang sebelum benar-benar menang.

Selasa, 01 November 2011

Menghela Nafas Panjang

Setelah kemaren sempat merasa digertak dengan jadwal belajar-UTS-Gandewa-PDKM-Song 4 Camp-Suksesi yang sempet bikin gw ngerasa 'apa banget', akhirnya hari ini merasakan nikmatnya menyadari kalau gak ada yang perlu dirariweuhkeun. Ngasih reward buat diri sendiri  untuk  membiarkannya tertawa lepas dan menghela nafas panjang (sebentar)  sukses membuat percaya bahwa semua akan baik-baik saja :)

Setelah penutupan UTS yang diwakili oleh  Psikologi Umum dan rapat Song 4 Camp angkatan, gw ngajak Nila dan Hana untuk kabur dari hingar bingar Psikologi. Kabur ke Margo City untuk pertama kalinya bagi gw. Rencana awalnya  sih mau ngerjain tugas UTS Logpen dengan suasana baru di Margo. Ternyata? Yaah, memang sebaiknya ngasih reward untuk diri sendiri tuh gak usah nanggung-nanggung, main mah ya main ajaa :D

Setelah fotobox, kami makan di salah satu tempat makan yang harganya gak mahasiswa banget -_- Tapi, ngasih reward untuk diri sendiri itu butuh. Jadi, kami memutuskan untuk hedon hari ini,dengan makan di atas 20 ribu hahaha :P Sambil menunggu makan, kami ceceritaan. Kami menyoroti fenomena peer yang mulai terjadi di angkatan kami. Siapa main sama siapa. Siapa bareng-bareng sama siapa. Siapa kumpul sama siapa. Fenomena yang memang terjadi tiap tahunnya di Psikologi mengingat intensitas tugas kelompok yang tinggi menjadi faktor pendukung terbentuknya fenomena ini.

Sebenarnya fenomena ini terjadi juga secara umum di fakultas lain. Pernah liat khan (atau mungkin merasakan sendiri) ada yang teman main dan kumpulnya sama itu-itu aja. Atau pernah dengar istilah nge-geng atau kotak-kotak pertemanan? Secara umum fenomena itu bisa disebut seperti itu. Bedanya, di Psikologi dikenal dengan istilah peer-group. Bedanya lagi, kami tahu dampak postif dan negatif dari peer ini yang membuat kami tahu cara menyikapi fenomena ini.

Setelah makan, kita nge-webcam di laptop Hana. Bikin kita keketawaan sampe mau nangis ngeliatin hasil fotonya. 

Oia, gw belum pernah ngenalin mojang Bandung dan mojang Sukabumi ini ya? Namanya Nila dan Hana. Kami bertiga sama-sama orang sunda. Lucunya, karakter mereka udah kayak bumi dan langit. Yang dari Bandung pembawaannya anteeeeeeeng banget dan yang dari Sukabumi pembawaanya cereweeeeeet banget. Lucunya lagi, yang dari Bandung manggil gw dengan sebutan 'Mba Tuti' dan yang dari Sukabumi manggil gw dengan sebutan 'Teh Tuti'. 

Panjanglah kalau gw mau cerita tentang mereka. Intinya, selain gw belajar banyak tentang dewasa (dengan gaya masing-masing) dari mereka berdua, gw nyaman kalau sedang bareng-bareng mereka berdua. Nyaman sebagai teman sekaligus merangkap menjadi kakak :)

Gw, Nila, dan Hana

Pulang dari Margo, gw bertiga menuju Barel. Lebih tepatnya, ke salah satu lapangan futsal yang ada di Barel. Anak-Anak cowok Psiko 2011 lagi main futsal. Melepas penat setelah minggu UTS ditutup oleh Psikologi Umum hari ini. Sejak pertama kali anak-anak cowok memutuskan memiliki jadwal main futsal independen, gw pun langsung mengajukan diri sebagai penonton setianya. Bukan dengan alasan nungguin cowoknya main (yang biasa terjadi pada umumnya), melainkan gw selalu datang karena gw seneng nonton futsal. Itung-itung melepas rindu nonton SPL :D 

Dari awalnya yang hanya sebagai penonton setia, sekarang berkembang menjadi bendaharanya anak-anak cowok buat megang uang kas main futsal. Alasan itulah yang pada akhirnya membuat gw meminta Hana dan Nila menemani gw untuk datang sore ini memberikan uang kas yang ada di gw kepada anak-anak.

Anak-anak nyewa lapangan dua jam, dari pukul 17.00-19.00. Gw datang baru sekitar pukul 18.00 dari Margo. Gw mengambil posisi duduk tidak jauh dari lapangan futsal. Sambil menunggu Nila dan Hana yang lagi sholat, gw pun ngobrol-ngobrol dengan Mpit dan Yuli yang memang sudah datang lebih dulu. Pemain yang sedang menunggu giliran main pun silih berganti duduk di dekat bangku gw duduk. Rully, Rio, Dika, dan Afit. Dan tanpa ada bunyi peluit dimulai, keunikan angkatan gw pun dimulai begitu saja :D

Pada seminar 2 PDKM beberapa hari yang lalu, kami disuruh menulis keunikan angkatan kami. Banyak jawaban yang dikemukakan oleh teman-teman peserta PDKM 2011. Beberapa diantaranya kami bisa dengan mudah ditemukan di Akademos dan anak-anak cowok 2011 punya jadwal khusus bermain futsal bersama. Gw pun mengangkat tangan ketika T'Cune narasumber bertanya ada lagi yang mau menambahkan. Gw melengkapinya dengan dua keunikan lagi. Jawaban gw?
  1. Selain ketua angkatannya, anak-anak 2011 pun memiliki intensitas gombal yang tinggi.
  2. Anak-anak 2011 sangat mudah mengasosiasikan kejadian dan pernyataan apapun dengan urusan hati

Kedua jawaban gw pun dibuktikan sore ini. Di bangku tempat gw duduk, gak jauh dari lapangan futsal Barel, tempat para pemain menunggu giliran, kami melakukan Battle Gombal sederhana. Di tengah lapangan futsal, yang perlahan mulai lengang, dan yang tengah ramai dirubung laron yang berterbangan.

*Karena kemampuan merekoleksi memori yang kurang baik, ada beberapa kalimat yang dimodifikasi tanpa mengubah esensi kalimat dari sumber aslinya.
  • Biru Muda : Gw
  • Merah : Rio
  • Coklat : Dika
  • Hijau : Rully
  • Ungu : Hana 
  • Oranye : Nila
  • Abu-Abu : Sumber terlupakan :P

'Ditolak sama kamu, rasanya kayak dapet kartu merah'
'Kenapa?'
'Berat sih, tapi mau gimana lagi.'

'Sikap kamu ke aku tuh kayak lapangan futsal ini'
'Gimana?'
'Datar'

'Cinta sama kamu tuh kayak main futsal'
'Kenapa?'
'Capek'

'Hati kamu tuh kayak dinding lapangan futsal'
'Gimana?'
'Keras'

'Cinta sama kamu tuh kayak main futsal tapi gak pake sepatu'
'Kenapa?'
'Sakit'

'Aku tuh sekarang kayak orang-orang yang lagi duduk di pinggir lapangan futsal'
'Kenapa?'
'Cuma bisa ngeliatin permainan cinta antara kau dan dia'

'Cinta sama kamu tuh kayak jadi pemain pengganti futsal'
'Kenapa?'
'Menunggu giliran'

'Ngambil hati kamu tuh kayak ngambil bola yang lagi ada di musuh'
'Kenapa?'
'Harus pake taktik'

'Kamu tuh kayak jaring-jaring yang ada di pinggir lapangan futsal'
'Kenapa'
'Selalu bisa nahan aku waktu aku jatuh'

'Andai cinta aku ke kamu kayak orang-orang yang lagi main futsal'
'Kenapa'
'Gak ada yang memandang perbedaan'

'Kalau kamu minta putus, aku jadi inget kata-kata SBY'
'Apa?'
'Lebih baik lanjutkan!'

'Kenapa sih harus aku yang selalu jadi kiper?
'Maksudnya?'
'Kenapa harus selalu aku yang nunggu untuk bisa nangkep hati kamu'

'Harapan aku bareng-bareng sama kamu tuh kayak lapangan yang lagi gak dipake'
'Kenapa?'
'Kosong'

'Liat bola di tengah lapangan yang kosong itu?'
'Iya, kenapa?
'Bola itu kayak hati aku. Sendirian dan kesepian'

'Aku tuh kayak laron-laron yang sekarang lagi ngejar-ngejar sinar di lapangan futsal'
'Kok bisa?'
'Sama kayak aku yang selalu ngejar-ngejar sinar yang ada di hati kamu'

'Prospek hubungan aku sama kamu tuh kayak lampu di lapangan futsal yang lagi gak dipake'
'Gimana?'
'Gelap'

'Ruang di hati kamu buat aku tuh kayak pintu masuk ke lapangan futsal ya'
'Kenapa'
'Sempit'

'Aku ke kamu tuh kayak posisi aku sekarang yang lagi nonton orang main futsal'
'Kenapa?'
'Cuma bisa memandang dari jauh'

'Cinta aku ke kamu tuh kayak laron yang sekarang bertebaran di lantai'
'Kenapa?'
'Terbuang sia-sia'

Selama Battle Gombal berlangsung, mulai dari nada-nada ekspresi yang  membuat siapa saja meleleh mendengarnya, senyum-senyum, geleng-geleng kepala, mukul-mukul meja karena getek ngedengernya, sampai  nyaris ada botol Pocari Sweat yang melayang ke kepala gw pun hampir terjadi saking ngerasa 'apa banget' gw ngegombal gak beres-beres. Battle Gombal pun berakhir seiring berakhirnya permainan futsal. Lebih tepatnya  karena Sang Ketua Angkatan datang. Bisa-bisa beneran gak beres Battle Gombalnya kalau dia udah ikutan :P

Dan helaan nafas panjang hari ini pun ditutup dengan obrolan tak terduga dengan Aufa lewat YM. Obrolan yang kata-katanya gw ketik tanpa proses mikir panjang. Spontan. Hanya mengandalkan rasa kangen gw ceceritaan dengan partner gw yang satu ini  sambil membiarkan tangan gw menari di atas laptop. Obrolan tentang Gandewa, KMPA ITB, OSIS, dan SMANSA.

*Gw gak pernah lupa kok, Fa, kalau pada umumnya cowok gak suka dibandingkan. Maaf atas perbandingan yang sempat gw lakukan tadi. Kalau lw mau tau, posisi 'malu', 'iri', dan 'kalah telak' itu sejatinya ada di gw. Gw yang saat ini melihatnya dengan mata kepala gw sendiri.

Untuk menarik nafas panjang lagi?
Bismillahirahmanirrahim. 
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!
(Numpang katarsis dulu)
Gw siap.
Untuk besok, lusa, dan beberapa minggu ke depan.

*Untuk helaan nafas panjang hari ini, adik yang selalu bisa jadi tempat untuk katarsis, dan teman yang mengingatkan untuk selalu 'meluangkan waktu' untuk-Mu, terima kasih, Pemilik Helaan Nafas :)